Konstruksi Solidaritas Psikososial: Telaah Hadis-hadis tentang Empati dan Interaksi Sosial

Hadis Empati Sosial dikaji sebagai fondasi solidaritas dan kepedulian masyarakat

Abstrak

Purpose – Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menguji validitas dan otentisitas Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An-Nu`man bin Basyir yang menceritakan mengenai perumpamaan seorang muslim yang di ibaratkan seperti satu tubuh, serta membedah relevansi hadis sebagai fondasi psikososial dalam membentuk sikap empati di tengah realitas masyarakat kontemporer.

Design/Methods – Artikel ilmiah ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian pustaka atau metode riset pustaka (library research) dengan mencari topik yang relavan dan sejalan dengan apa yangdibahas. Dengan mencari sumber asli dalam bentuk artikel jurnal, buku, dan dokumen-dokumen terkait, sehingga dapat mengidentifikasi solusi dari ajaran Islam (hadis) untuk mengatasi masalah kemanusiaan di era modern.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Findings –  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hadis dari sahabat An-Nu`man bin Basyir memiliki sanad yang bersambung (muttashil) dengan kualitas perawi yang memenuhi standar keshahihan tertinggi (Shahih Lizatihi).Dalam diksi hadis tersebut terdapat tiga pilar utama yaitu tawadd, tarahum, dan ta’athuf yang secara presisi menggambarkan tahapan pembentukan empati. Konstruksi ini sangat relevan digunakan sebagai elmen utama dalam membentengi masyarakat yang mulai egois , bersikap acuh tak acuh (bystander effect), individualisme ekstrem dan apatisme siber.

Originality/Value – Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam membangun atau menyusun sebuah tatanan masyarakat yang memiliki rasa empati yang kuat, yang digerakkan oleh kesadaran batin/kondisi psikologis tidak hanya dapat dilakukan dengan penyampaian nasihat semata, namun diperlukan tawadd, tarahum dan ta`athuf yang memiliki makna (menanamkan rasa, membuka kepekaan, dan mengubah rasa kasihan menjadi dorongan aksi kemanusiaan).

Keywords: Solidaritas Psikososial, Hadis Empati, Kritik Sanad, Interaksi Sosial Kontemporer.

 

Introduction (Pendahuluan)

Manusia secara kodrati adalah makhluk sosial (zoon politikon) yang eksistensinya sangat bergantung pada interaksi dengan sesama. Dalam diskursus kontemporer, dinamika hubungan ini sering dikaji melalui lensa psikologi sosial, namun Islam telah meletakkan fondasi etika sosial yang lebih dalam melalui Hadis Nabi SAW.

Salah satu narasi fundamentalnya adalah perumpamaan mukmin sebagai satu tubuh (al-jasad al-wahid), yang menjadi proklamasi pentingnya empati (ta’athuf) dan solidaritas (takaful) sebagai pilar stabilitas psikososial masyarakat (An-Naisaburi, n.d.).

Di era modern, masyarakat global menghadapi tantangan disrupsi kemanusiaan berupa individualisme ekstrem hingga berbagai bentuk dehumanisasi, di mana martabat manusia sering diabaikan demi kepentingan materi atau statistik (Rahman, 1982).

Fenomena ini semakin menguat di tengah krisis sosial seperti kemiskinan sistemik, bencana alam, dan konflik berkepanjangan yang menyebabkan fragmentasi sosial (Ismail, 1999). Dalam situasi kritis tersebut, relevansi hadis tentang empati menjadi sangat krusial sebagai instrumen untuk memulihkan kohesi dan rasa aman secara psikis (Al-Qaradawi, 2000).

Secara epistemologis, etika sosial Islam menyatukan dimensi transendental (iman) dengan dimensi horizontal (kepedulian sosial) (Al-Ghazali, 1989). Islam menegaskan bahwa kesalehan spiritual tidak akan mencapai kesempurnaan tanpa disertai kesalehan sosial, sehingga terdapat korelasi linier antara kualitas iman dengan kapasitas berempati.

Fondasi relasi ini adalah ukhuwah (persaudaraan), yang dalam perspektif psikososial berperan sebagai perekat utama yang memungkinkan individu merasakan penderitaan orang lain seolah-olah miliknya sendiri (An-Naisaburi, n.d.).

Meskipun psikologi sosial modern telah mengembangkan teori altruisme, konsep solidaritas Islam menawarkan dimensi tambahan berupa motivasi spiritual dan nilai ukhrawi. Oleh karena itu, penting untuk melakukan analisis mendalam terhadap hadis-hadis kepedulian sosial guna memahami bagaimana otoritas teks agama dapat menjadi dasar etika sosial yang aplikatif.

Melalui pemahaman yang integratif, nilai-nilai hadis diharapkan mampu bertransformasi menjadi aksi nyata dalam memitigasi krisis sosial dan membentengi masyarakat dari praktik dehumanisasi (Al-Qaradawi, 2000).

 

Methods (Metode)

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka (library research) (Zed,2008). Fokusnya adalah menganalisis konsep empati dan solidaritas psikososial dalam Hadis Riwayat Muslim tentang perumpamaan satu tubuh.

Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini sepenuhnya bersifat literer (pustaka) yang dibagi menjadi dua kategori:

  1. Data Primer: Teks matan dan sanad Hadis Riwayat Muslim Kitab Al-Birr wa As-Shilah wa Al-Adab, Bab Tarhum al-Mu’minin wa Tawaddihim, Hadis Nomor 2586. Data ini dilengkapi dengan kitab penjelas (syarah), yaitu Syarah Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi.
  2. Data Sekunder: Buku, jurnal ilmiah, dan artikel psikologi yang relevan dengan teori empati serta solidaritas psikososial. Contohnya adalah konsep empati kognitif dan afektif dari Daniel Goleman, serta teori solidaritas sosial dari Emile Durkheim.

Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Proses pengumpulan dan pengolahan data dilakukan melalui langkah-langkah sistematis berikut:

  1. Teknik Pengumpulan Data (Studi Dokumentasi): Peneliti mengumpulkan teks hadis secara utuh, lalu melakukan pencarian literatur psikologi sosial yang membahas indikator empati (seperti kepedulian dan sensitivitas emosional) serta solidaritas (seperti dukungan sosial dan kohesi kelompok) (Zed, 2008).
  2. Teknik Analisis Data (Analisis Isi / Content Analysis): Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis isi (Krippendorff, 2018). Teks hadis dibedah kata demi kata, kemudian dihubungkan secara kontekstual dengan teori psikososial:
    • Kata tawadd, tarahum, dan ta’athuf (saling mencintai, mengasihi, menyayangi) dianalisis sebagai representasi dari dimensi empati dan ikatan emosional (An-Nawawi, 2001).
    • Kalimat “jika salah satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam” dianalisis sebagai representasi dari solidaritas psikososial dan aksi prososial dalam sebuah kelompok sosial (Baron & Branscombe, 2012).

 

Result (Hasil)

Bagian ini menyajikan data primer yang menjadi objek utama dalam penelitian, diikuti dengan analisis otentisitas sanad serta kodifikasi makna tekstual hadis ke dalam variabel psikososial.

1. Penyajian Data Primer (Hadis Perumpamaan Satu Tubuh)

Data utama yang dibedah dalam penelitian ini adalah Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Al-Birr wa As-Shilah wa Al-Adab, Bab Tarhum al-Mu’minin wa Tawaddihim, Hadis Nomor 2586, dengan redaksi lengkap sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.” (رواه مسلم)

Artinya:

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Zakaria, dari asy-Sya’bi, dari an-Nu’man bin Basyir, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh; jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit karena tidak bisa tidur dan demam.’” (HR. Imam Muslim).

 

2. Otentisitas dan Validitas Hadis (Kritik Sanad)

Untuk memastikan keaslian pesan ini, kita perlu membedah rantai transmisi (sanad) hadis yang tercantum dalam riwayat Imam Muslim. Berikut ini penjelasan terkain para perawi dari Hadis Empati dan Solidaritas Psikososial:

  • Imam Muslim (Rawi I: Mukharrij), seorang penulis kitab shahih kedua terkuat yang mengumpulkan hadis dengan metode seleksi riwayat yang sangat ketat.
  • Muhammad bin Abdullah bin Numair (Rawi II: Guru Imam Muslim), yaitu seorang Tsiqah Hafizh yang sangat terpercaya dan kuat serta ulama besar Kufah, yang dikenal sangat teliti dalam mentransmisikan lafaz hadis (Al-Asqalani, 2004).
  • Abdullah bin Numair (Rawi III: Ayah Muhammad), merupakan seorang Tsiqah mutqin, Beliau adalah Ayah dari Muhammad, rujukan utama dalam periwayatan hadis di Irak (Al-Asqalani, 2004).
  • Zakaria bin Abi Za’idah (Rawi IV: Guru Abdullah), merupakan seorang periwayat yang memiliki sifat Beliau adalah salah satu penutur hadis yang jujur, yang mengambil riwayat langsung dari tabi’in besar.
  • Amir bin Syarahil asy-Sya’bi (Rawi V: Tabi’in Senior, Tsiqah Faqih), Beliau telah menjumpai 150 lebih sahabat Nabi SAW. Beliau juga memiliki daya ingat fotografis yang legendaris.
  • An-Nu’man bin Basyir RA (Rawi VI: Sahabat Nabi, Khalifah/Gubernur), Beliau sudah dipastikan ‘Adilsecara mutlak. Beliau merupakan sahabat Nabi SAW dari kaum Anshar, yang pernah juga menjabat sebagai gubernur Kufah. Beliau mendengar hadis ini langsung dari Nabi saat Beliau muda.
  • Rasulullah SAW.

Berdasarkan parameter metodologi penelitian hadis seperti dalam buku, Dr. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, sanad hadis riwayat Muslim ini dinilai shahih mutlak karena memenuhi unsur-unsur kesahihan:

  • Ittishal as-Sanad (Ketersambungan Sempurna): Tidak ada mata rantai yang terputus (mursal atau munqathi’). Teknik periwayatan menggunakan lafaz حدثنا (telah menceritakan kepada kami) dan عن(dari) yang dalam jalur ini terbukti secara historis merupakan proses سمع (mendengar langsung) antar-generasi guru dan murid (Suryadilaga, 2020).
  • ‘Adalatul Ruwat (Integritas Moral): Seluruh perawi dalam sanad ini dibersihkan dari cacat moral dan bid’ah oleh para kritikus hadis klasik dalam kitab Tahdzib al-Tahdzib karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Mereka adalah figur-figur zahid yang lurus jalan hidupnya (Al-Asqalani, 2004).
  • Dhabtul Ruwat (Kekuatan Hafalan): Integritas intelektual mereka berada di level tertinggi. Tidak ditemukan riwayat mereka yang rancu (mukhtalith).
  • Salamatun minal ‘Illat wal Syudzudz (Bebas Cacat & Kejanggalan): Matan hadis ini tidak bertentangan dengan Al-Qur’an (misalnya QS. Al-Hujurat: 10) (Shihab, 2002). Fakta bahwa hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya melalui jalur sanad yang berbeda (Muttafaq ‘Alaih) memperkuat kesimpulan bahwa hadis ini mutlak otentik dari Rasulullah SAW (Al-Bukhari, 2002; An-Naisaburi, 2000). Adanya dua jalur yang kuat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim yang bertemu pada perawi tingkat atas (Zakaria dan Asy-Sya’bi) membuktikan secara ilmiah bahwa hadis ini bukan rekayasa (Suryadilaga, 2020).

Hadis tentang Empati dan Solidaritas Psikologis Riwayat Imam Bukhari

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، عَنْ عَامِرٍ، قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ، يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ‏”‏‏.‏

رواه البخاري في كتاب الأدب، باب رحمة الناس والبهائم) )

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, telah menceritakan kepada kami Zakaria, dari Asy-Sya’bi, ia berkata: Aku mendengar An-Nu’man bin Basyir berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Kamu melihat orang-orang beriman dalam saling mengasihi, saling mencintai, dan saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh; jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut meresponsnya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Adab, Bab Kasih Sayang Sesama Manusia dan Hewan, No. Hadis: 6011)

Adanya dua jalur yang kuat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim yang bertemu pada perawi tingkat atas (Zakaria dan Asy-Sya’bi) membuktikan secara ilmiah bahwa hadis ini bukan rekayasa.

Mustahil bagi Imam Bukhari di silsilahnya dan Imam Muslim di silsilahnya secara tidak sengaja mengarang teks (matan) yang persis sama, kata demi kata, jika mereka tidak benar-benar mendengarnya dari satu sumber yang valid, yaitu Rasulullah SAW.

 

Discussion (Pembahasan)

Relevansi Hadis dalam Membentengi Patologi Sosial Kontemporer

Di era modern, masyarakat menghadapi fenomena individualisme ekstrem dan apatisme siber, di mana manusia cenderung acuh tak acuh terhadap penderitaan orang lain di media sosial maupun dunia nyata.

Fenomena ini erat kaitannya dengan bystander effect—suatu kondisi psikologis di mana seseorang enggan menolong korban karena merasa ada orang lain yang akan menolongnya (Baron & Branscombe, 2012).

Hadis perumpamaan satu tubuh (al-jasad al-wahid) hadir sebagai antitesis dan solusi teologis-psikologis terhadap patologi sosial ini melalui dua aspek penting:

  1. Pemberantasan Bystander Effect Melalui Metafora Biologis: Nabi SAW menggunakan analogi organ tubuh yang mengalami demam (humma) dan tidak bisa tidur (sahar) saat ada bagian yang terluka. Secara psikososial, jika masyarakat menginternalisasi hadis ini, mereka tidak akan membiarkan individu lain menderita sendirian. Penderitaan orang lain dibaca sebagai krisis kolektif (shared vulnerability). Konsep ini sejalan dengan teori solidaritas organik milik Emile Durkheim, di mana masyarakat modern seharusnya saling tergantung secara fungsional dan moral demi menjaga stabilitas sistem sosial (Durkheim, 2014).
  2. Motivasi Spiritual Sebagai Penggerak Utama: Jika psikologi modern sering kali mentok pada motivasi altruisme yang sifatnya timbal balik atau sosial, etika Islam memberikan dimensi transendental (An-Nawawi, 2001). Kesalehan spiritual (iman) diikat secara linier dengan kesalehan sosial. Menolong sesama yang kesulitan bukan lagi sekadar pilihan moralitas normatif, melainkan bagian dari pembuktian kualitas keimanan seseorang kepada Tuhan (Al-Qaradawi, 2000).

Melalui integrasi nilai tawadd, tarahum, dan ta’athuf, hadis ini menawarkan struktur yang kokoh untuk memulihkan kohesi sosial, memitigasi krisis kemanusiaan, serta membentuk sistem dukungan psikososial (psychosocial support system) yang sehat di tengah realitas masyarakat modern yang makin mekanis dan egois.

 

Conclusion (Kesimpulan)

Berdasarkan hasil analisis pustaka dan pembahasan yang telah dilakukan, penelitian ini menyimpulkan dua poin fundamental:

  1. Validitas Tekstual: Hadis mengenai perumpamaan satu tubuh (al-jasad al-wahid) yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (Hadis No. 2586) dan Imam Bukhari (Hadis No. 6011) memiliki tingkat otentisitas tertinggi (Shahih Lizatihi). Analisis kritik sanad membuktikan ketersambungan rantai transmisi secara sempurna (ittishal as-sanad) dari level mukharrij hingga sahabat An-Nu’man bin Basyir RA, serta didukung oleh kualitas integritas moral (‘adalah) dan hafalan (dhabt) para perawi yang kokoh. Pertemuan dua jalur sanad berbeda pada perawi tingkat atas menggugurkan segala bentuk kemungkinan rekayasa teks.
  2. Konstruksi Psikososial: Integrasi konseptual terhadap tiga pilar utama dalam hadis, yaitu tawadd (ikatan emosional), tarahum (empati afektif-kognitif), dan ta’athuf (aksi altruistik), membentuk sebuah struktur psikologi komunitas yang sehat. Metafora biologis respons organ tubuh terhadap rasa sakit (sahar dan humma) merupakan instrumen teologis yang efektif untuk meruntuhkan patologi sosial kontemporer seperti individualisme ekstrem, apatisme siber, dan bystander effect. Melalui dimensi transendental ini, pemulihan kohesi sosial diikat secara linier sebagai indikator langsung dari kualitas keimanan seorang mukmin di tengah realitas masyarakat modern.

 

References (Daftar Pustaka)

  • Al-Asqalani, I. H. (2004). Tahdzib al-Tahdzib (K. M. Syaraf, Ed.). Dar al-Hadith.
  • Al-Bukhari, M. I. (2002). Shahih al-Bukhari. Dar Thuq al-Najah.
  • Al-Qaradawi, Y. (2000). Fawaid al-Mar’ah: Relevansi Nilai Islam dalam Krisis Sosial. Maktabah Wahbah.
  • An-Naisaburi, M. H. (2000). Shahih Muslim (M. F. Abdul Baqi, Ed.). Dar Ihya al-Turath al-Arabi.
  • An-Nawawi, A. Z. Y. S. (2001). Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Darul Hadits.
  • Baron, R. A., & Branscombe, N. R. (2012). Social Psychology (13th ed.). Pearson.
  • Durkheim, E. (2014). The Division of Labor in Society (W. D. Halls, Trans.). Free Press.
  • Goleman, D. (2006). Social Intelligence: The New Science of Human Relationships. Bantam Books.
  • Ismail, S. (2014). Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Cet. 4). Bulan Bintang.
  • Krippendorff, K. (2018). Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (4th ed.). SAGE Publications.
  • Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.
  • Suryadilaga, M. A. (2020). Metodologi Penelitian Hadis. Teras.
  • Zed, M. (2008). Metode Penelitian Kepustakaan. Yayasan Obor Indonesia.

Penulis:
1.⁠ ⁠Azmia Zakiyyah Nanda
2.⁠ ⁠Fadhilah Dhiya Shafa
3.⁠ ⁠Ahmad Ihsan Nasution
4. Muhammad Firdaus
Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Dosen Pengampu: H. Muhammad Firdaus, Lc.,MA.,Ph.D.


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses