Kehadiran anak-anak jalanan di persimpangan lampu merah atau di bawah jembatan bukan lagi pemandangan aneh buat kita, tapi ini sebenarnya tanda besar ada masalah yang belum selesai di negara kita. Salah satu masalah terbesar dan paling penting adalah soal pendidikan.
Kita semua tahu, sekolah itu sangat penting buat bekal hidup anak, supaya mereka pintar, punya keahlian, dan terhindar dari hal-hal buruk. Tapi kenyataannya, anak jalanan justru jadi kelompok yang paling jauh dari akses pendidikan.
Data dari Kementerian Sosial mencatat jumlah mereka ada 232.894 jiwa, dan 70 persen di antaranya sama sekali tidak pernah sekolah. Artinya, ada lebih dari 160 ribu anak Indonesia yang tumbuh besar tanpa pernah belajar membaca, berhitung, atau dapat bimbingan yang benar.
Data BPS juga memperkuat hal ini, mencatat ada 17,6 juta anak terlantar, di mana pendidikan jadi hal paling terakhir yang dipenuhi. Tanpa sekolah, risiko mereka terjerumus ke hal jahat, narkoba, atau kerjaan berbahaya jadi makin besar.
Angka-angka ini bukti jelas kalau hak mereka buat belajar masih sangat diabaikan, padahal ini kunci utama buat selamatkan masa depan mereka.
Masalah utama kenapa anak jalanan susah sekali dapat pendidikan itu sebenarnya bukan karena mereka tidak mau sekolah atau malas belajar, tapi karena kondisi hidup mereka yang memang berat dan tidak memungkinkan.
Kebanyakan dari mereka harus bekerja sejak kecil, mulai dari mengamen, menjajakan barang, sampai meminta-minta, cuma buat dapat uang makan sehari-hari.
Kalau mereka tidak keluar cari uang, bisa jadi mereka dan keluarga tidak makan hari itu juga. Nah, rutinitas kerja keras ini bentrok sama jam sekolah yang pasti dan teratur.
Belum lagi mereka sering berpindah-pindah tempat tinggal, kadang di bawah jembatan, di terminal, atau di pinggir jalan, jadi susah buat daftar sekolah formal yang menetap di satu tempat.
Ditambah lagi banyak sekolah yang belum siap menerima anak jalanan, entah karena syarat administrasi yang ribet seperti butuh akta kelahiran atau kartu keluarga yang mereka tidak punya, atau karena masih ada rasa membeda-bedakan anak dari kalangan mana saja yang boleh masuk.
Akhirnya, meskipun mereka ingin sekali duduk di bangku kelas, pintu pendidikan seolah tertutup rapat buat mereka, dan data yang bilang 70 persen tidak pernah sekolah itu murni karena akses yang sulit, bukan karena mereka tidak punya kemampuan.
Kalau kita biarkan keadaan ini terus berlanjut, dampaknya bakal sangat buruk, bukan cuma buat diri anak itu sendiri, tapi juga buat lingkungan dan masa depan negara kita. Tanpa pendidikan, anak jalanan tidak punya bekal ilmu atau keahlian apa-apa selain cara bertahan hidup di jalanan yang keras.
Data sudah menegaskan hal ini, kalau 8 dari 10 anak jalanan yang tidak sekolah itu sangat berisiko terjerumus ke hal-hal yang buruk, seperti pakai narkoba, ikut tawuran, melakukan kejahatan kecil, atau jadi korban kejahatan orang lain. Mereka tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, tidak ada yang membimbing, dan lingkungan jalanan yang keras itu malah mengajarkan hal-hal negatif.
Lebih parahnya lagi, hampir 90 persen dari mereka bakal tetap miskin sampai dewasa nanti karena tidak punya ijazah atau keahlian buat cari kerja yang layak. Akibatnya, kemiskinan itu bakal mereka bawa sampai tua dan bakal diwariskan lagi ke anak-anak mereka nanti, jadilah lingkaran setan kemiskinan yang tidak pernah putus dan makin lama makin susah dipecahkan.
Padahal, kalau dipikir-pikir, pendidikan itu bukan cuma soal belajar baca tulis atau menghitung angka saja, tapi jauh lebih dari itu. Bagi anak jalanan, sekolah itu bisa jadi tempat berlindung yang paling aman dari bahaya jalanan. Di sekolah, mereka bisa bertemu teman sebaya yang positif, dapat makan siang yang sehat, dapat perlindungan dari guru, dan mendapatkan bimbingan moral supaya tumbuh jadi anak yang baik.
Pendidikan adalah satu-satunya jembatan yang bisa mengantar mereka keluar dari kehidupan susah di jalanan. Banyak contoh nyata yang membuktikan kalau anak jalanan diberi kesempatan belajar dan didukung, mereka bisa pintar, berprestasi, dan sukses sama seperti anak-anak lain.
Mereka punya potensi, punya bakat, dan punya mimpi yang sama besarnya, cuma saja kesempatan itu yang belum mereka dapatkan. Sayangnya, sampai sekarang sistem pendidikan kita masih kaku dan belum fleksibel, belum banyak menyediakan sekolah atau program khusus yang jamnya disesuaikan, biayanya gratis, dan metodenya cocok buat anak-anak yang hidup berpindah-pindah dan harus bekerja ini.
Penulis: Astri Nurwidyanti
Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang (UNPAM)
Dosen Pengampu: Dr. Vivi Iswanti Nursyirwan, S.Sos., M.M.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














