Paradoks BTN JAKIM: Sehat di Layar, Lelah di Dunia Nyata

fenomena joki strava
Validasi digital telah mengaburkan esensi utama dari olahraga itu sendiri: bahwa kesehatan seharusnya dirasakan oleh tubuh di dunia nyata melalui peluh yang jujur, bukan sekadar dipajang di layar gawai melalui grafik yang dimanipulasi. (Ilustrasi: Dok. MMI)

(Sorotan terhadap Fenomena Joki Strava melalui Lensa Dramaturgi Erving Goffman)

Belakangan ini, media sosial dihebohkan oleh tren baru yang cukup menggelitik sekaligus ironis di kalangan pencinta olahraga, yaitu fenomena “Joki Strava”.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fenomena ini merupakan ruang jasa di mana seseorang membayar orang lain untuk berlari menggunakan akun aplikasi kebugaran (Strava) milik mereka. Tujuannya adalah agar mereka mendapatkan tangkapan layar grafik kecepatan (pace) dan jarak tempuh yang mengagumkan untuk dipamerkan di media sosial.

Isu ini mendadak viral dan memicu perdebatan sengit di ruang digital, tepat di tengah euforia ajang besar seperti BTN Jakarta International Marathon (JAKIM). Di satu sisi, sebagian netizen menganggap hal ini hanyalah hiburan kreatif atau strategi gimmick sosial yang tidak merugikan siapa pun.

Namun di sisi lain, kritik tajam bermunculan dari komunitas olahraga. Mereka menganggap fenomena ini sebagai puncak dari kecemasan sosial akibat FOMO (Fear of Missing Out) dan kepalsuan identitas demi validasi digital.

Baca Juga: Fenomena FOMO dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Generasi Z

Isu ini mempertanyakan mengapa citra visual tentang “gaya hidup sehat” di media sosial dianggap jauh lebih penting dan bernilai daripada esensi kesehatan fisik itu sendiri di dunia nyata.

Teater Digital di Lini Masa

Fenomena munculnya Joki Strava di tengah momentum BTN JAKIM ini dapat dibedah secara mendalam menggunakan Teori Dramaturgi dari sosiolog Erving Goffman. Teori sosiologi komunikasi ini memandang bahwa interaksi sosial di masyarakat ibarat sebuah pertunjukan teater, di mana manusia adalah aktor yang mengelola kesan (impression management) melalui beberapa proses utama.

Pertama, ada yang disebut sebagai Panggung Depan (Front Stage). Dalam konteks ini, lini masa media sosial seperti Instagram, X, dan TikTok bertindak sebagai panggung utama di mana aktor menampilkan performa terbaiknya.

Melalui grafik Strava hasil joki yang diunggah bersamaan dengan momentum euforia BTN JAKIM, aktor mengonstruksi identitas diri sebagai individu yang disiplin, sehat, bugar, dan masuk dalam status sosial kelas menengah atas yang gemar berolahraga. Panggung depan ini didesain sedemikian rupa untuk memanen kekaguman dan pengakuan publik.

Kedua adalah Panggung Belakang (Back Stage), yang merupakan kehidupan nyata aktor di mana ia melepaskan seluruh topeng digitalnya. Di ruang privat ini, fakta realitas yang terjadi justru berbanding terbalik dan disembunyikan rapat-rapat dari penglihatan publik.

Aktor sebenarnya tidak melakukan aktivitas fisik, tidak ikut berpeluh di rute maraton, merasa lelah oleh tuntutan sosial, atau bahkan malas. Energi mereka habis bukan karena berlari, melainkan karena lelah mental menghadapi tekanan sosial perkotaan.

Baca Juga: Generasi Digital Indonesia harus Seimbangkan Teknologi dengan Kemanusiaan

Terakhir, ada Pengelolaan Kesan (Impression Management). Proses ini terjadi ketika aktor menggunakan “jasa joki Strava” sebagai properti panggung (props) demi menjaga konsistensi narasinya di ruang digital.

Memanfaatkan momentum event besar seperti BTN JAKIM, manipulasi data digital ini digunakan aktor untuk mengontrol persepsi audiens. Tujuannya jelas: agar ia tetap mendapatkan tepuk tangan berupa likes, pujian, dan validasi sosial sebagai bagian dari “skena lari” yang keren, tanpa perlu repot mengeluarkan keringat dan menghadapi kelelahan fisik yang nyata.

Ketika Angka Mengalahkan Rasa

Fenomena Joki Strava di tengah momentum maraton besar ini mempertegas adanya pergeseran makna olahraga di era digital.

Melalui kacamata dramaturgi, kita melihat adanya ilusi di panggung depan, di mana tampilan grafik yang impresif hasil kerja joki berhasil memberikan pengakuan sosial instan bagi sang aktor. Di sisi lain, ada kelelahan di panggung belakang.

Di dunia nyata, esensi kebugaran hancur karena kesehatan telah bergeser menjadi sekadar komoditas visual. Aktor justru mengalami kelelahan psikologis akibat kecemasan sosial dan kepalsuan identitas yang mereka ciptakan sendiri.

Baca Juga: Fenomena Overthinking pada Gen Z: Masalah Pribadi atau Sosial?

Pada akhirnya, beban pengelolaan kesan ini membuat individu rela mengeluarkan materi untuk membeli reputasi fisik virtual. Hal ini menjebak mereka dalam standar semu yang melelahkan di dunia nyata, hanya demi menjaga citra yang tidak pernah mereka lakukan secara fisik.

“Sehat di Layar, Lelah di Dunia Nyata” bukan lagi sekadar sindiran, melainkan realitas sosial yang terinstitusi. Validasi digital telah mengaburkan esensi utama dari olahraga itu sendiri: bahwa kesehatan seharusnya dirasakan oleh tubuh di dunia nyata melalui peluh yang jujur, bukan sekadar dipajang di layar gawai melalui grafik yang dimanipulasi.


Penulis: Daniel Wicak Imago Kaunang
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses