Fenomena Flexing pada Generasi Muda: Hidup Mewah Demi Konten

fenomena flexing pada remaja
Pamer pencapaian bukanlah suatu kesalahan, selama hal itu bukan syarat utama untuk mendapat pengakuan. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Di zaman media sosial saat ini, aktivitas harian tidak cuma dirasakan sendiri, tetapi kerap dipamerkan ke publik. Kegiatan biasa seperti makan, belanja, kuliah, hingga liburan kini gampang diunggah dan bisa dilihat siapa pun. Dari pola ini, muncul fenomena yang makin sering dibahas, yakni budaya flexing di kalangan remaja.

Flexing adalah kebiasaan pamer pencapaian, kekayaan, atau gaya hidup supaya mendapat perhatian dan pengakuan dari orang lain. Wujudnya beragam, mulai dari pamer barang mahal, lokasi nongkrong, gaji, sampai rutinitas yang sengaja dibuat terlihat mewah atau sempurna.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: “Flexing” di Media Sosial, Apakah Harus?

Fenomena ini tumbuh karena media sosial sering memberikan “penghargaan” berupa jumlah likes, komentar, dan perhatian dari pengguna lain. Semakin menarik konten yang diunggah, semakin besar peluang mendapat respons. Akibatnya, tanpa sadar muncul anggapan bahwa nilai diri seseorang ditentukan oleh apa yang ditampilkan di media sosial.

Dampaknya cukup besar bagi kehidupan anak muda. Banyak yang merasa harus ikut tren supaya tidak dianggap ketinggalan zaman. Sebagian orang membeli barang bukan karena butuh, melainkan ingin terlihat setara dengan teman atau mengikuti standar yang sedang populer. Kondisi ini bisa memicu tekanan sosial dan membuat orang lebih mementingkan penampilan daripada kondisi nyata.

Baca juga: Budaya Flexing di Media Sosial dan Dampaknya terhadap Kehidupan Sosial Remaja

Flexing juga gampang membuat orang membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Faktanya, setiap individu punya kondisi ekonomi, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kenyataan sepenuhnya.

Menurut saya, pamer pencapaian bukanlah suatu kesalahan, selama hal itu bukan syarat utama untuk mendapat pengakuan. Yang penting adalah menggunakan media sosial secara sehat, tanpa membuat seseorang kehilangan rasa cukup terhadap diri sendiri. Tidak setiap keberhasilan harus diumbar, dan tidak semua hal berharga harus terlihat oleh banyak orang.

Baca juga: Gaya Hedon tapi Aslinya Financial Anxiety: Pengaruh FOMO dalam Komunikasi Interpersonal Menjadi TREND di Kalangan Gen-Z terutama di Media Sosial

Intinya, generasi muda perlu menyadari bahwa kehidupan nyata tidak harus selalu terlihat mewah atau sempurna. Fokus pada tujuan pribadi, proses belajar, dan pengembangan diri jauh lebih menguntungkan daripada terus mengejar penilaian orang lain di dunia maya.


Penulis: Reva Ayu Natasya
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Dr.Vivi Iswanti Nursyirwan, S.SoS., M.M.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses