Pengaruh Self-Control dan Perilaku Fear of Missing Out (FoMO) terhadap Financial Management Behavior pada Pengguna Paylater di Kalangan Gen-Z

Pengguna Paylater
Pengaruh Self-Control dan Perilaku Fear of Missing Out (FoMO) terhadap Financial Management Behavior pada Pengguna Paylater di Kalangan Gen-Z. Sumber: MMI.

I. Abstract

Perilaku manajemen keuangan yang efektif semakin krusial di tengah maraknya kemudahan transaksi digital seperti paylater di kalangan generasi muda. Dalam perilaku manajemen keuangan control diri dan perilaku fomo menjadi sangat menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) dan Self-Control sebagai variabel independen terhadap Financial Management Behavior sebagai variabel dependen. Penelitian menggunakan metode survei yang meminta partisipan mengisi kuesioner secara online. Sebanyak 81 orang berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini. Perilaku FoMO diukur oleh Skala Fear of Missing Out, untuk self-control diukur oleh Brief Self-Control Scale (BSCS), Sedangkan untuk perilaku manajemen keuangan diukur oleh Financial Management Behavior Scale (FMBS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FoMO berpengaruh negatif dan signifikan, sedangkan Self-Control berpengaruh positif dan signifikan terhadap Financial Management Behavior pada pengguna paylater generasi Z. FoMO dan Self-Control secara simultan juga berpengaruh signifikan terhadap Financial Management Behavior. Model penelitian menjelaskan 67% variasi Financial Management Behavior, dengan Self-Control sebagai variabel yang paling dominan.

II. Pendahuluan

Latar Belakang

Financial management behavior menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan individu karena mencerminkan kemampuan seseorang dalam mengelola sumber daya keuangan yang dimilikinya secara efektif (Asandimitra & Ikhsani, 2022). Perilaku ini terlihat dari bagaimana individu membuat perencanaan keuangan, mengendalikan pengeluaran, memenuhi kewajiban finansial, serta menyiapkan dana untuk kebutuhan di masa depan. Pada era digital, kemampuan mengelola keuangan semakin diperlukan mengingat berbagai kemudahan transaksi dan paparan promosi melalui media sosial dapat mendorong perilaku konsumtif dan pembelian impulsif (Ardyansyah & Indrawati, 2024). Salah satu kemudahan transaksi yang ditawarkan di era ini adalah sistem paylater. Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater adalah inovasi teknologi finansial yang memungkinkan konsumen untuk mendapatkan barang atau jasa secara instan dengan menunda pembayaran melalui skema cicilan jangka pendek tanpa bunga atau biaya tambahan jika dibayar tepat waktu (Azzahra et al., 2026).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Berdasarkan laporan riset tahun 2023, Generasi Z yang berada pada rentang usia 18 hingga 25 tahun menyumbang 26,5% dari total pengguna layanan paylater di Indonesia,. Bersama dengan kelompok milenial, generasi ini menjadi segmen pasar yang paling mendominasi penggunaan metode pembayaran cicilan tersebut di dalam negeri. Tingginya prevalensi penggunaan paylater di kalangan Generasi Z ini sering kali dipicu oleh fenomena Fear of Missing Out (FoMO), yaitu kecemasan psikologis karena takut tertinggal dari tren atau pengalaman sosial yang sedang populer (Harahap et al., 2023). FoMO bertindak sebagai bias emosional yang mendorong Gen Z untuk melakukan pengambilan keputusan finansial secara irasional demi mendapatkan pengakuan sosial, sehingga mereka cenderung mengabaikan perencanaan keuangan jangka panjang (Hasanah & Sundari, 2025). Dalam dinamika ini, self-control (kontrol diri) memegang peranan krusial sebagai penyeimbang; penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri yang tinggi mampu memitigasi atau memperlemah dampak negatif FoMO terhadap perilaku manajemen keuangan (Oetama et al., 2025).

Baca Juga: Perilaku Keuangan Generasi Z dalam Era Paylater: Kemudahan Digital atau Awal Krisis Finansial

State of Art

Berbagai penelitian terdahulu telah mengkaji hubungan antara self-control, fear of missing out (FOMO), dan financial management behavior secara terpisah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa self-control memiliki hubungan positif dengan financial management behavior, di mana individu yang memiliki kemampuan pengendalian diri yang lebih baik cenderung mampu mengelola keuangan secara lebih efektif dan bertanggung jawab (Oetama et al., 2025; Winata et al., 2025). Di sisi lain, penelitian lain menemukan bahwa perilaku fear of missing out (FOMO) juga berkaitan dengan financial management behavior, terutama dalam memengaruhi pengambilan keputusan konsumsi dan pengelolaan keuangan individu (Hidayat & Trisnaningsih, 2025; Maimunah et al., 2026).

Selain mengkaji hubungan antarvariabel tersebut, sejumlah penelitian juga telah menyoroti peran self-control dalam penggunaan layanan paylater di kalangan Generasi Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengendalian diri yang dimiliki individu dapat memengaruhi kecenderungan mereka dalam menggunakan fasilitas pembayaran tunda serta mengendalikan perilaku konsumtif yang muncul akibat kemudahan akses kredit digital (Defanko et al., 2025; Kartika et al., 2026; Mudra & Rusmanto, 2024). Sementara itu, penelitian mengenai perilaku FOMO pada pengguna paylater di kalangan Generasi Z mengindikasikan bahwa dorongan untuk tidak tertinggal tren, informasi, maupun aktivitas sosial dapat meningkatkan kecenderungan penggunaan layanan paylater sebagai sarana pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumtif (Harahap et al., 2023; Mu’awiyah & Jurana, 2024).

Meskipun berbagai penelitian telah membuktikan adanya hubungan antara self-control dengan financial management behavior, serta hubungan antara FOMO dengan financial management behavior, dan juga telah mengaitkan kedua variabel tersebut dengan penggunaan paylater di kalangan Generasi Z, masih terdapat keterbatasan penelitian yang secara simultan mengkaji pengaruh self-control dan perilaku FOMO terhadap financial management behavior dalam konteks pengguna paylater Generasi Z. Dengan kata lain, sebagian besar penelitian sebelumnya masih berfokus pada hubungan parsial antarvariabel, sehingga belum memberikan gambaran yang komprehensif mengenai bagaimana self-control dan FOMO secara bersama-sama memengaruhi perilaku pengelolaan keuangan pada pengguna paylater. Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengintegrasikan ketiga variabel dalam satu model penelitian. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan kajian perilaku konsumen dan perilaku keuangan di era digital, sekaligus memperkaya pemahaman mengenai faktor-faktor psikologis yang memengaruhi financial management behavior pada Generasi Z sebagai kelompok yang aktif memanfaatkan layanan paylater.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Apakah self-control berpengaruh terhadap financial management behavior pada pengguna PayLater Generasi Z?
  2. Apakah Fear of Missing Out (FoMO) berpengaruh terhadap financial management behavior pada pengguna PayLater Generasi Z?
  3. Apakah self-control dan Fear of Missing Out (FoMO) secara simultan berpengaruh terhadap financial management behavior pada pengguna PayLater Generasi Z?

Baca Juga: PayLater di Kalangan Mahasiswa: Sudahkah Memenuhi Etika Bisnis Modern?

Hipotesis penelitian

H01     : Tidak terdapat pengaruh FoMO terhadap Financial Management Behavior.

Ha1      : Terdapat pengaruh FoMO terhadap Financial Management Behavior.

H02     : Tidak terdapat pengaruh Self-Control terhadap Financial Management Behavior.

Ha2      : Terdapat pengaruh Self-Control terhadap Financial Management Behavior.

H03     : Tidak terdapat pengaruh FoMO dan Self-Control secara simultan terhadap Financial Management Behavior.

Ha3     : Terdapat pengaruh FoMO dan Self-Control secara simultan terhadap Financial Management Behavior.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh antara perilaku FoMO dan Self-control yang merupakan variabel independent dengan Financial management behavior selaku variabel dependent,

Landasan Teori

Financial Management Behavior

Financial management behavior atau perilaku pengelolaan keuangan merupakan salah satu konsep inti dalam literatur keuangan perilaku yang menggambarkan bagaimana individu mengelola sumber daya keuangan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Kholilah & Iramani (2013) mendefinisikan financial management behavior sebagai kemampuan seseorang dalam mengelola keuangan, yaitu mencakup perencanaan (planning), penganggaran (budgeting), pemeriksaan (auditing), pengendalian (controlling), pencarian (searching), dan penyimpanan (storing) dana keuangan harian. Definisi ini menekankan bahwa pengelolaan keuangan bukan sekadar aktivitas mencatat pengeluaran, melainkan sebuah proses kognitif dan perilaku yang komprehensif.

Dalam perspektif yang lebih luas, Gilang Ikhsani & Haryono (2022) menyatakan bahwa financial management behavior adalah kemampuan seseorang untuk merencanakan, mengelola, mengawasi, dan mengalokasikan dana harian dengan tujuan memperbaiki kondisi keuangannya. Perilaku ini melibatkan pengetahuan tentang keuangan, sikap terhadap keuangan, dan pengendalian diri sebagai elemen-elemen penting yang memengaruhi cara seseorang mengatur finansialnya. Dengan demikian, financial management behavior merupakan manifestasi konkret dari interaksi antara dimensi kognitif, afektif, dan konatif individu dalam domain keuangan.

Dalam konteks penggunaan layanan PayLater, financial management behavior mencakup kemampuan individu untuk menggunakan layanan kredit digital secara bijaksana, memastikan kemampuan membayar cicilan, tidak menggunakan PayLater melebihi kapasitas keuangan, serta mengelola aliran kas secara efektif di tengah kemudahan akses kredit tanpa bunga awal yang ditawarkan oleh layanan BNPL.

Baca Juga: Strategi Wacana Iklan Berbasis Al dalam Memicu Perilaku Belanja Impulsif Ibu Rumah Tangga Pengguna Media Sosial

Self-Control

Self-control atau pengendalian diri merupakan salah satu konstruk psikologis yang paling fundamental dalam memahami perilaku manusia. Goldfried & Merbaum (Oetama et al., 2025)mendefinisikan self-control sebagai kemampuan untuk mengorganisasi, membimbing,

mengatur, dan mengarahkan bentuk-bentuk perilaku yang dapat membawa individu menuju konsekuensi yang positif. Self-control juga menggambarkan keputusan individu melalui pertimbangan kognitif untuk mengintegrasikan perilaku yang telah diorganisasi guna memperbaiki hasil dan tujuan tertentu yang diinginkan.

Dalam teori regulasi diri (self-regulation theory), Baumeister (2002) menyatakan bahwa self-control merupakan kapasitas untuk mengesampingkan respons otomatis dan menggantikannya dengan respons yang lebih sesuai dengan tujuan jangka panjang. Kapasitas ini bersifat terbatas dan dapat mengalami kelelahan (ego depletion) ketika digunakan secara terus- menerus. Hal ini menjelaskan mengapa individu yang telah menggunakan energi kognitifnya untuk menolak satu godaan cenderung lebih rentan terhadap godaan berikutnya. Suatu kondisi yang sangat relevan dalam konteks belanja online yang penuh dengan stimulasi promosi.

Strömbäck et al. (2017) membuktikan bahwa self-control memiliki korelasi kuat dengan perilaku keuangan yang positif dan lebih sedikit mengalami kesulitan finansial. Individu dengan self-control tinggi mampu menahan dorongan impulsif untuk berbelanja, lebih disiplin dalam mengikuti anggaran yang telah direncanakan, dan lebih mampu menunda kepuasan demi mencapai tujuan finansial jangka panjang.

Fear of Missing Out (FoMO)

Fear of Missing Out (FoMO) pertama kali dikonseptualisasikan secara ilmiah oleh Przybylski et al. (2013) sebagai kekhawatiran yang meluas (pervasive apprehension) bahwa orang lain sedang memiliki pengalaman yang berharga sementara diri sendiri tidak hadir di sana. FoMO dapat dipahami sebagai keinginan untuk terus terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain dan ketakutan akan ketinggalan momen-momen sosial yang dianggap penting .

Dalam dimensi konsumsi digital, FoMO berfungsi sebagai norma subjektif yang kuat (subjective norm) dalam kerangka Theory of Planned Behavior (TPB) Ajzen (1991): tekanan sosial dari lingkungan, seperti melihat teman-teman menggunakan produk tertentu, konten influencer, atau promosi terbatas menciptakan dorongan kuat untuk bertindak segera dan membeli. Platform e-commerce yang mengintegrasikan layanan PayLater secara aktif memanfaatkan mekanisme FoMO ini melalui flash sale, countdown timer, limited stock notification, dan live commerce untuk mempercepat keputusan pembelian (Azzuhruf & Cahyono, 2025.)

Harahap, Soemitra & Nawawi (2023) menyatakan bahwa FoMO merupakan fenomena psikologis di mana individu mengalami gejala berupa obsesi terhadap aktivitas-aktivitas yang mereka rasa terlewatkan. Dalam konteks keuangan, FoMO mendorong pengambilan keputusan yang impulsif dan tidak rasional, di mana individu membeli produk bukan karena kebutuhan melainkan karena dorongan emosional untuk tidak merasa tertinggal.

Baca Juga: Paylater di Era Digital: Solusi Finansial atau Jerat Ekonomi?

PayLater (Buy Now Pay Later/BNPL)

PayLater atau Buy Now Pay Later (BNPL) adalah metode pembayaran berbasis teknologi yang memungkinkan konsumen untuk membeli produk atau layanan secara langsung dan membayar tagihan tersebut di kemudian hari, baik secara penuh pada bulan berikutnya maupun dalam cicilan dengan tenor tertentu. Berbeda dengan kartu kredit konvensional, PayLater memiliki persyaratan yang lebih mudah, proses aktivasi yang lebih cepat, dan lebih terintegrasi dengan ekosistem e-commerce (Oetama et al., 2025).

Dalam konteks penelitian ini, PayLater perlu diposisikan bukan sekadar sebagai layanan BNPL biasa, melainkan sebagai fasilitator perilaku konsumtif yang secara sistematis melemahkan self-control pengguna melalui tiga mekanisme psikologis yang saling berkaitan. Pertama, berdasarkan Pain of Paying Theory (Prelec & Loewenstein, 1998), PayLater memisahkan waktu konsumsi dan waktu pembayaran secara signifikan, sehingga mengurangi ‘rasa sakit’ psikologis yang seharusnya berfungsi sebagai rem alami pembelian impulsif. Individu yang membayar tunai merasakan pengurangan sumber daya secara langsung dan nyata; sebaliknya, pengguna PayLater merasakan bahwa pembelian tersebut ‘gratis’ untuk saat ini, yang secara psikologis menurunkan ambang batas keputusan pembelian. Kedua, Mental Accounting Theory (Thaler, 1985) menjelaskan bahwa manusia cenderung mengelola uang dalam ‘rekening mental’ yang terpisah-pisah. Mekanisme cicilan PayLater mendorong individu untuk mengkategorikan setiap pembayaran cicilan sebagai biaya kecil yang terpisah, bukan sebagai bagian dari total akumulasi utang, kondisi yang menyebabkan individu secara konsisten meremehkan total beban finansial yang sesungguhnya. Ketiga, Deferred Payment Effect (Soman, 2001) menegaskan bahwa penundaan pembayaran melemahkan kemampuan encoding memori tentang biaya yang telah dikeluarkan, sehingga individu cenderung lupa atau meremehkan total pengeluaran kumulatif mereka. Akibatnya, pengguna PayLater dengan self-control rendah sangat rentan menggunakan limit kredit secara berlebihan karena tidak memiliki ‘rasa sakit’ yang cukup sebagai umpan balik alami pengeluaran mereka (Anh et al., 2025; Oetama et al., 2025).

Perkembangan PayLater di Indonesia, layanan PayLater telah berkembang dengan sangat pesat dan terintegrasi dengan berbagai platform e-commerce populer. Berdasarkan data OJK (2024), total utang masyarakat pada layanan PayLater mencapai Rp6,13 triliun per Maret 2024, meningkat 23,90% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Volume kontrak PayLater mencapai 72,88 juta pada tahun 2023, dengan total nilai transaksi Rp33,6 triliun, meningkat 119% dibandingkan tahun sebelumnya (Azzuhruf & Cahyono, 2025.). Shopee PayLater (SPayLater) menjadi layanan yang paling banyak digunakan, diikuti oleh GoPay Later, Kredivo, dan Akulaku.

Pertumbuhan yang pesat ini dibarengi dengan risiko yang meningkat. BBC News Indonesia melaporkan bahwa banyak anak muda terjebak dalam utang PayLater; sebagian bahkan gagal mendapatkan kredit pemilikan rumah akibat tunggakan PayLater, dan semakin banyak yang mengalami gagal bayar (Oetama et al., 2025). Kondisi ini menjadikan penelitian tentang faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pengelolaan keuangan pengguna PayLater sebagai sesuatu yang urgen dan relevan.

Baca Juga: Budaya Paylater: Solusi Ekonomi Modern atau Bom Waktu Utang Nasional

III. Metode Penelitian Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu pendekatan penelitian yang berfokus pada pengumpulan dan analisis data dalam bentuk angka untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Metode penelitian kuantitatif menurut Creswell, didefinisikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk menguji teori dengan menganalisis hubungan antara variabel yang diukur oleh instrumen penelitian dan data yang berupa angka dianalisis menggunakan prosedur statistik. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian non-eksperimental karena peneliti tidak melakukan manipulasi terhadap variabel yang diteliti. Secara lebih spesifik, penelitian ini merupakan studi ex post facto dengan desain cross-sectional. Studi ex post facto dilakukan untuk meneliti fenomena yang telah terjadi, yaitu tingkat self-control, Fear of Missing Out (FoMO), dan financial management pada pengguna PayLater Generasi Z tanpa memberikan perlakuan atau intervensi tertentu kepada partisipan. Sementara itu, desain cross-sectional memungkinkan pengumpulan data dilakukan pada satu waktu tertentu sehingga dapat menggambarkan kondisi variabel penelitian secara simultan.

Populasi dan Sampel Penelitian

a. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah individu Generasi Z yang menggunakan layanan PayLater. Generasi Z dalam penelitian ini dibatasi pada rentang usia 17- 29 tahun dan telah memiliki akses terhadap layanan keuangan digital. Pemilihan kelompok ini didasarkan pada kesesuaian dengan tujuan penelitian yang berfokus pada pengguna layanan PayLater dari Generasi Z.

b. Sampling Penelitian

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan karakteristik tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Teknik ini dipilih karena tidak semua anggota populasi memiliki pengalaman menggunakan layanan PayLater sehingga diperlukan kriteria khusus dalam pemilihan responden.

Variabel dan Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan tiga instrumen utama untuk mengukur variabel yang diteliti, yaitu Financial Management Behavior Scale (FMBS) untuk mengukur financial management, Brief Self-Control Scale (BSCS) untuk mengukur self-control, dan Fear of Missing Out Scale (FoMOs) untuk mengukur tingkat Fear of Missing Out (FoMO) pada pengguna PayLater Generasi Z.

a. Financial Management Behavior Scale (FMBS)

  1. Nama Alat Ukur: Financial Management Behavior Scale (FMBS) atau Skala Perilaku Manajemen
  2. Pencipta Alat Ukur: FMBS dikembangkan oleh Dew dan Xiao pada tahun
  3. Penjelasan: FMBS merupakan kuesioner yang dirancang untuk mengukur perilaku pengelolaan keuangan individu dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana individu melakukan perencanaan keuangan, mengelola pengeluaran, mengontrol penggunaan kredit, serta menyiapkan tabungan dan investasi untuk kebutuhan masa depan. Dalam penelitian ini, FMBS digunakan untuk mengukur perilaku manajemen keuangan pada pengguna layanan PayLater Generasi Z. Instrumen ini mencakup beberapa dimensi utama, yaitu cash management, credit management, savings and investment, serta insurance
  4. Skala Jawaban: Setiap item dalam FMBS dijawab menggunakan skala Likert 5 poin, mulai dari 1 (Tidak Pernah) sampai 5 (Selalu). Skor total diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor item, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan perilaku manajemen keuangan yang lebih
  5. Validitas dan Reliabilitas: FMBS telah banyak digunakan dalam penelitian terkait perilaku keuangan dan menunjukkan validitas serta reliabilitas yang baik. Dalam penelitian pengembangannya, Dew dan Xiao (2011) melaporkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,80 yang menunjukkan konsistensi internal yang memadai. Berbagai penelitian selanjutnya juga menunjukkan bahwa FMBS mampu mengukur perilaku pengelolaan keuangan secara akurat pada berbagai kelompok.
  6. Contoh Pertanyaan: Pertanyaan dalam FMBS dirancang untuk menangkap kebiasaan pengelolaan keuangan individu. Contoh pertanyaan antara lain:
    • “Saya mengevaluasi pengeluaran dengan perencanaan keuangan yang telah disusun.” (mengukur evaluasi keuangan)
    • “Saya mengikuti asuransi untuk menghindari risiko di masa depan.” (mengukur manajemen risiko keuangan)
    • “Saya menyisihkan uang untuk rekening ” (mengukur perilaku menabung dan perencanaan masa depan)
    • “Saya memikirkan risiko dalam mengambil hutang/kredit sebelum mengambil keputusan.” (mengukur pengelolaan kredit)

Skala Jawaban: Setiap pertanyaan dijawab menggunakan skala Likert 5 poin, mulai dari 1 (Tidak Pernah) sampai 5 (Selalu).

Baca Juga: Belanja Online, Paylater, dan Tantangan Anak Muda Mengatur Keuangan

b. Brief Self-Control Scale (BSCS)

  1. Nama Alat Ukur: Brief Self-Control Scale (BSCS).
  2. Pencipta Alat Ukur: BSCS dikembangkan oleh June P. Tangney, Roy F. Baumeister, dan Angie L. Boone pada tahun
  3. Penjelasan: BSCS merupakan instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan kontrol diri (self-control) individu. Alat ukur ini dirancang untuk menilai kemampuan seseorang dalam mengendalikan impuls, mengatur emosi, mempertahankan disiplin diri, serta mengarahkan perilaku sesuai tujuan jangka panjang. Dalam konteks penelitian ini, BSCS digunakan untuk mengukur kemampuan pengguna PayLater dalam mengendalikan dorongan konsumtif dan membuat keputusan keuangan yang lebih rasional.
  4. Skala Jawaban: Setiap item dalam BSCS dijawab menggunakan skala Likert 7 poin, mulai dari 1 (Sangat Tidak Sesuai) sampai 7 (Sangat Sesuai). Beberapa item bersifat negatif (unfavorable) sehingga memerlukan proses reverse scoring sebelum skor total dihitung.
  5. Validitas dan Reliabilitas: BSCS merupakan salah satu alat ukur kontrol diri yang paling banyak digunakan dalam penelitian psikologi. Dalam penelitian aslinya, Tangney et al. (2004) melaporkan nilai Cronbach’s Alpha berkisar antara 0,83 hingga 0,85 yang menunjukkan reliabilitas yang tinggi. Berbagai penelitian adaptasi lintas budaya juga menunjukkan bahwa BSCS memiliki validitas konstruk yang baik dalam mengukur kemampuan regulasi.
  6. Contoh Pertanyaan: Pertanyaan dalam BSCS dirancang untuk mengukur berbagai aspek kontrol diri dan impulsivitas. Contoh pertanyaan antara lain:
    • ” Secara umum, saya dapat menahan godaan apa pun dengan baik.” (item favorable)
    • “Saya kesulitan menghentikan kebiasaan buruk.” (item unfavorable)
    • “Saya dapat bekerja dengan efektif dalam meraih tujuan jangka panjang.” (item favorable)
    • “Saya sering bertindak tanpa mempertimbangkan seluruh alternatif.” (item unfavorable)

Skala Jawaban: Setiap pertanyaan dijawab menggunakan skala Likert 7 poin, mulai dari 1 (Tidak Pernah) sampai 7 (Selalu).

c. Fear of Missing Out Scale (FoMO)

  1. Nama Alat Ukur: Fear of Missing Out Scale (FoMO) atau Skala Fear of Missing
  2. Pencipta Alat Ukur: Konsep Fear of Missing Out (FoMO) dikembangkan oleh Andrew Przybylski, Kou Murayama, Cody R. DeHaan, dan Valerie Gladwell pada tahun 2013. Dalam penelitian ini digunakan versi adaptasi yang disusun oleh Diana Maula (2024).
  3. Penjelasan: Fear of Missing Out Scale (FoMO) merupakan instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat kecemasan individu terhadap kemungkinan tertinggal informasi, pengalaman, aktivitas, atau momen yang dianggap penting oleh orang lain. Individu dengan tingkat FoMO yang tinggi cenderung memiliki keinginan yang kuat untuk terus terhubung dengan aktivitas sosial dan informasi terbaru yang terjadi di lingkungannya, terutama melalui media sosial. Pada versi adaptasi Diana Maula (2024), skala FoMO terdiri dari 11 item yang disusun berdasarkan empat indikator utama, yaitu Comparison with Friends (perbandingan dengan teman), Being Left Out (perasaan ditinggalkan), Missed Experience (pengalaman yang terlewatkan), dan Compulsion (dorongan untuk terus memeriksa aktivitas orang lain agar tidak tertinggal informasi terbaru).
  4. Skala Jawaban: Setiap item dalam skala FoMO dijawab menggunakan skala Likert 5 poin, mulai dari 1 (Sangat Tidak Setuju) sampai 5 (Sangat Setuju). Skor total diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor Semakin tinggi skor yang diperoleh responden, maka semakin tinggi tingkat Fear of Missing Out (FoMO) yang dimiliki.
  5. Validitas dan Reliabilitas: Skala FoMO yang digunakan merupakan hasil adaptasi Diana Maula (2024) yang telah melalui proses pengujian instrumen dalam penelitiannya. Selain itu, konsep FoMO yang dikembangkan oleh Przybylski et al. (2013) merupakan salah satu alat ukur FoMO yang paling banyak digunakan dalam penelitian psikologi dan media sosial. Penelitian asli menunjukkan bahwa skala ini memiliki reliabilitas konsistensi internal yang baik dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,87. Untuk memastikan kesesuaian instrumen dengan karakteristik responden penelitian, peneliti akan kembali melakukan uji validitas dan reliabilitas sebelum analisis data dilakukan.
  6. Contoh Pertanyaan: Pertanyaan-pertanyaan dalam skala FoMO dirancang untuk menangkap kecenderungan individu merasa takut tertinggal dari pengalaman, aktivitas, maupun informasi yang dimiliki oleh orang lain. Contoh pertanyaan yang digunakan dalam skala ini adalah:
    • “Saya merasa diri saya kurang jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang mengikuti tren tertentu.” (Comparison with Friends)
    • “Saya merasa tidak nyaman apabila tidak diikutsertakan dalam pembicaraan oleh teman saya.” (Being Left Out)
    • “Saya khawatir kehilangan pengalaman yang sedang dialami oleh orang.” (Missed Experience)
    • “Saya sering memeriksa media sosial agar tidak tertinggal informasi.” (Compulsion)
      Skala Jawaban: Setiap pertanyaan dijawab menggunakan skala Likert 5 poin, mulai dari 1 (Tidak Pernah) sampai 5 (Selalu).

Baca Juga: Mudahnya Belanja dengan Paylater: FOMO sebagai Pemicu Pemborosan

Prosedur Penelitian Data

Data akan dikumpulkan melalui survei daring menggunakan Google Forms atau kuesioner cetak, yang didistribusikan kepada peserta yang memenuhi kriteria inklusi. Responden akan diminta untuk mengisi kuesioner yang mencakup pertanyaan mengenai pengalaman menggunakan paylater.

Analisis Data

Data yang telah terkumpul akan dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS. Analisis deskriptif dilakukan melalui perhitungan frekuensi, rata-rata, dan standar deviasi untuk menggambarkan karakteristik sampel. Selanjutnya, uji reliabilitas dilakukan menggunakan Cronbach’s Alpha dan uji validitas konstruk menggunakan analisis faktor eksploratori. Selain itu, analisis regresi digunakan untuk menguji hubungan antar variabel serta mengeksplorasi pengaruh variabel independen (IV) terhadap variabel dependen (DV).

IV. Hasil dan Pembahasan

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap instrumen penelitian. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh item pada skala FoMO memiliki koefisien korelasi item-total berkisar antara 0,596-0,805 dengan nilai signifikansi p < 0,001 sehingga seluruh item dinyatakan valid. Demikian pula pada skala Self- Control, seluruh item memiliki koefisien korelasi item-total berkisar antara 0,718-0,878 sehingga seluruh item dinyatakan valid. Pada skala Financial Management Behavior, seluruh item memiliki koefisien korelasi item total berkisar antara 0,856-0,907 sehingga seluruh item dinyatakan valid. Selanjutnya, hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa skala FoMO memiliki nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,915, skala Self-Control sebesar 0,926, dan skala Financial Management Behavior sebesar 0,933. Nilai tersebut berada di atas kriteria reliabilitas 0,60 sehingga seluruh instrumen penelitian dinyatakan reliabel.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif, diketahui bahwa skor FoMO memiliki nilai rata-rata sebesar 42,16 (SD = 9,795), Self-Control memiliki rata-rata sebesar 28,78 (SD = 13,951), dan Financial Management Behavior memiliki rata-rata sebesar 12,60 (SD = 6,164). Dengan jumlah responden sebanyak 81 orang, hasil ini menunjukkan adanya variasi tingkat FoMO, Self-Control, dan perilaku manajemen keuangan pada pengguna paylater generasi Z.

Hasil Uji Deskripsi
Mean Std.Deviation N
Financial Management Behavior 12,60 6,164 81
Jenis Kelamin 0,59 0,494 81
FoMO 42,16 9,795 81
Self-Control 28,78 13,951 81

Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa Financial Management Behavior memiliki hubungan negatif dengan FoMO (r = -0,758; p < 0,001) dan hubungan positif dengan Self-Control (r = 0,771; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat FoMO individu maka semakin rendah perilaku manajemen keuangannya, sedangkan semakin tinggi Self-Control maka semakin baik perilaku manajemen keuangannya.

Correlations
Variabel Financial Management

Behavior

Jenis

Kelamin

FoMO Self-

Control

Pearson

Correlation

Financial Management

Behavior

1,000 0,558 -0,758 0,771
Jenis Kelamin 0,558 1,000 -0,461 0,491
FoMO -0,758 -0,461 1,000 -0,841
Self-Control 0,771 0,491 -0,841 1,000
Sig. (1-tailed) Financial Management

Behavior

. <0.001 <0.001 <0.001
Jenis Kelamin 0,000 . 0,000 0,000
FoMO 0,000 0,000 . 0,000
Self-Control 0,000 0,000 0,000 .
N Financial Management

Behavior

81 81 81 81
Jenis Kelamin 81 81 81 81
FoMO 81 81 81 81
Self-Control 81 81 81 81

Baca Juga: Layanan PayLater bagi Mahasiswa: Mempercepat Keinginan atau Menambah Beban Utang?

Berdasarkan hasil analisis kolinearitas, seluruh variabel independen memiliki nilai Tolerance lebih besar dari 0,10 yaitu FoMO = 0,783, Self-Control = 0,754 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) lebih kecil dari 10 yaitu FoMO = 1.276 Self-Control = 1.326 Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi gejala kolinearitas dalam model regresi sehingga variabel FoMO dan Self-Control dapat digunakan secara bersamaan dalam model penelitian. Hasil uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi masing-masing variabel independen lebih besar dari 0,05.

Coefficients
Model Unstandardized B Unstandardized Std. Error Standardized Beta T Sig. Collinearity Tolerance Collinearity VIF
1 (Constant) 8,485 0,896 9,467 <.001
Jenis Kelamin 6,953 1,164 0,558 5,972 <.001 1,000 1,000
2 (Constant) 15,175 4,628 3,279 0,002
Jenis Kelamin 2,676 0,942 0,215 2,842 0,006 0,751 1,331
FoMO -0,213 0,077 -0,339 -2,788 0,007 0,290 3,449
Self- Control 0,168 0,055 0,381 3,074 0,003 0,280 3,576
a. Dependent Variable: Financial Management Behavior

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengalami gejala heteroskedastisitas sehingga asumsi homoskedastisitas telah terpenuhi. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis regresi linear berganda dengan memasukkan variabel kontrol berupa jenis kelamin dan usia pada Model 1, kemudian menambahkan variabel FoMO dan Self- Control pada Model 2. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin mampu menjelaskan 31,1% variasi Financial Management Behavior (R² = 0,311; F = 35,662; p < 0,001). Setelah memasukkan variabel FoMO dan Self-Control, nilai koefisien determinasi meningkat menjadi 67% (R² = 0,670). Penambahan kedua variabel tersebut meningkatkan kemampuan model dalam menjelaskan Financial Management Behavior sebesar 35,9% (ΔR² = 0,359; F Change = 41,884; p < 0,001).

Model Summary
Model R R

Square

Adjusted R Square Std. Error of the Estimate R Square Change F

Change

df1 df2 Sig. F Change Durbin- Watson
1 0,558ª 0,311 0,302 5,148 0,311 35,662 1 79 <.001
2 0,819ᵇ 0,670 0,657 3,609 0,359 41,884 2 77 <.001 2,106
a.  Predictors: (Constant), Jenis Kelamin

b.  Predictors: (Constant), Jenis Kelamin , FoMO, Self-Control

c.  Dependent Variable: Financial Management Behavior

Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda, diperoleh bahwa H1 diterima, yaitu Fear of Missing Out (FoMO) berpengaruh signifikan terhadap Financial Management Behavior pada pengguna paylater generasi Z. Arah pengaruh yang ditemukan bersifat negatif, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat FoMO yang dimiliki individu, maka semakin rendah Financial Management Behavior yang dimiliki. Selanjutnya, H2 diterima, yaitu Self-Control berpengaruh signifikan terhadap Financial Management Behavior pada pengguna paylater generasi Z. Pengaruh yang ditemukan bersifat positif, sehingga semakin tinggi kemampuan self- control individu, maka semakin baik Financial Management Behavior yang dimiliki. Selain itu, hasil analisis juga menunjukkan bahwa FoMO dan Self-Control secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Financial Management Behavior. Model regresi yang dibangun mampu menjelaskan sebesar 67 % variasi Financial Management Behavior, sedangkan sisanya sebesar 33% dijelaskan oleh variabel lain di luar penelitian.

Berdasarkan nilai koefisien regresi terstandarisasi (β), Self-Control (β = 0,381; p < 0,01) memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan FoMO (β = -0,339; p < 0,05) dalam memprediksi Financial Management Behavior. Dengan demikian, Self-Control merupakan prediktor yang lebih dominan terhadap Financial Management Behavior pada pengguna paylater generasi Z.

Baca Juga: Dampak Paylater terhadap Kemandirian Ekonomi Gen Z

V. Diskusi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa FoMO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Financial Management Behavior. Temuan ini mengindikasikan bahwa individu yang memiliki tingkat FoMO tinggi cenderung mengalami kesulitan dalam mengelola keuangan secara bijaksana. Individu dengan FoMO tinggi biasanya terdorong untuk selalu mengikuti tren, aktivitas sosial, maupun gaya hidup yang sedang populer agar tidak merasa tertinggal dari orang lain. Kondisi tersebut dapat mendorong perilaku konsumtif, termasuk penggunaan fasilitas paylater untuk memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis secara instan. Akibatnya, kemampuan dalam melakukan perencanaan, pengendalian pengeluaran, dan pengelolaan keuangan menjadi menurun.

Studi sebelumnya oleh Ayu, Safitri, dan Sujarwo (2025) menemukan bahwa ketakutan kehilangan sesuatu (FoMO) memiliki korelasi positif dengan perilaku konsumtif mahasiswa. Untuk mencegah mereka merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya, individu yang mengalami FoMO mungkin ingin mengikuti aktivitas tertentu atau membeli barang. Selain itu, studi Dewi, Widyastuti, dan Mulyana (2023) menemukan bahwa FoMO dapat meningkatkan pembelian impulsif, terutama ketika orang terpapar tren dan informasi baru di media sosial. Penelitian yang dilakukan oleh Choi dan Lee (2020) juga menemukan bahwa FoMO berdampak pada perilaku konsumsi mencolok, atau perilaku konsumsi yang mencolok, di mana orang membeli barang dan jasa untuk menunjukkan status sosial mereka. Hasil penelitian ini mendukung gagasan bahwa semakin banyak FoMO yang dimiliki seseorang, semakin buruk mereka dalam mengelola keuangan. Ini karena tekanan sosial dan keinginan untuk mengikuti tren lebih banyak memengaruhi keputusan keuangan daripada pertimbangan rasional dan perencanaan keuangan yang matang.

Di sisi lain, Self-Control terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap Financial Management Behavior. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan individu dalam mengendalikan dorongan, emosi, dan keinginan sesaat, maka semakin baik pula perilaku manajemen keuangannya. Individu dengan Self-Control yang tinggi cenderung mampu mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang sebelum melakukan pembelian, mengendalikan impuls konsumtif, serta membuat keputusan keuangan yang lebih rasional.

Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Strömbäck et al. (2017) yang menunjukkan bahwa self-control merupakan salah satu prediktor penting dalam perilaku keuangan yang sehat. Individu yang memiliki self-control tinggi cenderung memiliki kebiasaan menabung yang lebih baik, tingkat utang yang lebih rendah, serta kemampuan perencanaan keuangan yang lebih baik. Kemampuan untuk menunda kepuasan sesaat (delayed gratification) memungkinkan individu untuk memprioritaskan tujuan keuangan jangka panjang dibandingkan memenuhi keinginan sesaat. Oleh karena itu, semakin baik kemampuan self-control seseorang, semakin efektif pula perilaku pengelolaan keuangannya.

Studi Saragih dan Panjitan (2026) juga mendukung temuan penelitian ini, yang menyatakan bahwa ketakutan kehilangan sesuatu (FoMO) dapat memperlemah perilaku keuangan. Kontrol diri yang tinggi lebih mampu mengatasi tekanan sosial, mengontrol keinginan konsumtif, dan menahan tren media sosial yang baru muncul. Dalam keadaan ini, individu dapat tetap memprioritaskan kebutuhannya dan mengambil keputusan keuangan dengan logika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa self-control memiliki peran penting dalam membentuk perilaku pengelolaan keuangan yang baik. Perilaku pengelolaan keuangan yang lebih terencana, disiplin, dan bertanggung jawab akan didorong oleh kemampuan individu untuk mengontrol keinginan mereka, menunda kepuasan sesaat, atau gratifikasi yang ditunda, dan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap keputusan yang dibuat tentang keuangan mereka.

Nilai koefisien beta menunjukkan bahwa Self-Control (β = 0,400) memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan FoMO (β = -0,321). Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan pengendalian diri merupakan faktor psikologis yang lebih dominan dalam menentukan perilaku manajemen keuangan dibandingkan dorongan sosial yang muncul akibat FoMO. Selain itu, model regresi mampu menjelaskan 67% variasi Financial Management Behavior. Hal ini menunjukkan bahwa FoMO dan Self-Control merupakan prediktor yang kuat dalam menjelaskan perilaku manajemen keuangan pada pengguna paylater generasi Z. Namun demikian, masih terdapat 33% variasi perilaku yang dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian, seperti literasi keuangan, materialisme, financial attitude, financial self-efficacy, maupun faktor lingkungan sosial.

Baca Juga: Shopee Paylater Bikin Kecanduan; untuk Kebutuhan atau Keinginan?

VI. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa FoMO dan Self-Control secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Financial Management Behavior pada pengguna paylater generasi Z. Secara parsial, FoMO berpengaruh negatif signifikan terhadap Financial Management Behavior, sedangkan Self-Control berpengaruh positif signifikan terhadap Financial Management Behavior.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat FoMO maka semakin rendah perilaku manajemen keuangan individu. Sebaliknya, semakin tinggi Self-Control maka semakin baik perilaku manajemen keuangannya. Self-Control juga merupakan variabel yang memiliki pengaruh paling dominan dalam memprediksi Financial Management Behavior.

Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya kemampuan pengendalian diri dalam membantu generasi Z mengelola keuangan secara lebih efektif, khususnya dalam penggunaan layanan paylater yang semakin berkembang di era digital.

VII. Limitasi

1] Variabel prediktor yang diuji masih terlalu umum dan terbatas, sehingga probabilitas signifikansi antar variabel dalam penelitian terhitung tinggi; bahkan sebelum dilakukannya penelitian; mesakipun penelitian dengan variabel yang sama persis belum pernah dilakukan; akan tetapi, sudah banyak penelitian sebelumnya yang mengangkat tema dengan variabel yang memiliki konsep yang serupa.

2] Kurangnya waktu dalam melakukan penelitian menjadi salah satu keterbatasan penelitian ini; sehingga proses penulis dalam mengkaji literatur dan mengidentifikasi gap penelitian belum bisa dikatatakan optimal.


Penulis:
1. Fadhila Tazkiah Amalia (2308015252)
2. Shafa Zahra Amalia (2308015268)
3. Ananda Aulia Nurkhasanah (2308015187)
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA)


Dosen Pengampu: Desi Ariyani, S.Psi., M.Si.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


VIII. Daftar Pustaka

Ahmad Fathoni Ardyansyah, & Nur Khusniyah Indrawati. (2024). The influence of financial knowledge on financial management behavior with locus of control and financial attitude as mediation variables. International Journal of Research in Business and Social Science (2147- 4478), 13(4), 265–276. https://doi.org/10.20525/ijrbs.v13i4.3391

Amri, A., Ramdani, Z., Warsihna, J., & Tae, L. F. (2022). The Development and Validation of Financial Management Behavior (FMB) Scale in Postgraduate Students. Jurnal Manajemen Indonesia, 22(2), 189–198. https://doi.org/10.25124/jmi.v22i2.4006

Anh, N. N., My, N. H., Trang, G. T. H., & Trang, T. Q. (2025). Psychological Mechanisms and Debt Risk in Buy Now, Pay Later Use: Evidence from University Students in Vietnam. British Journal of Business Sciences, 1(1), 49–62. https://doi.org/10.65687/bjbs.v1i1.5

Arifin, H. H., & Milla, M. N. (2020). Adaptasi dan properti psikometrik skala kontrol diri ringkas versi Indonesia. Jurnal Psikologi Sosial, 18(2), 179–195. https://doi.org/10.7454/jps.2020.18

Asandimitra, N., & Ikhsani, R. G. (2022). Financial Management Behaviour of Mobile Legend Gamers.          Technium         Social         Sciences          Journal, 35, 462–476. https://doi.org/10.47577/tssj.v35i1.7194

Ayu, N. P., Safitri, D., & Sujarwo. (2025). Hubungan sindrom Fear of Missing Out (FoMO) terhadap perilaku konsumtif pada mahasiswa. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, 3(2), 1–10.

Azzahra, S., Saefullah, A., & Vuthy, I. (2026). Reframing Debt in Buy Now Pay Later (BNPL) Schemes: A Phenomenological Study of Generation Z Consumers. Jurnal Ekualisasi, 7(1), 38–46. https://doi.org/10.60023/4vttz933

Azzuhruf, D., & Cahyono, E. (n.d.). The Role of Financial Literacy in the Paradox of Financial Inclusion in the Era of Digital Wallets and PayLater Services.

Choi, E., & Lee, J. (2020). The effects of fear of missing out on conspicuous consumption. Journal of Consumer Behaviour, 19(3), 1–12.

Defanko, V. A., Nurhayaty, A., & Zahra, F. (2025). Self-Control and Hedonism: How Generation Z Paylater Users in Bandar Lampung Manage Their Finances. Philanthropy: Journal of Psychology, 9(2), 199–216. https://doi.org/10.26623/philanthropy.v9i2.12782

Dewi, R., Widyastuti, T., & Mulyana, A. (2023). Peran kecerdasan finansial dalam memitigasi fear of missing out terhadap pembelian impulsif. Jurnal Manajemen dan Bisnis, 10(2), 145– 158.

Harahap, M. I., Soemitra, A., & Nawawi, Z. M. (2023). Analysis of the effect of Fear of Missing Out (FOMO) and the use of paylater application on impulse buying behavior (review of Maqashid           Syariah).           Manajemen           Dan           Bisnis,           22(2), 67.

https://doi.org/10.24123/jmb.v22i2.682

Hidayat, R. A., & Trisnaningsih, S. (2025). The Influence of FoMO (Fear of Missing Out) and Financial Management on Investment Decision Making Among Generation Z Students of UPN “Veteran” Jawa Timur. BIMA Journal (Business, Management, & Accounting Journal), 6(1), 661–670. https://doi.org/10.37638/bima.6.1.661-670

Hasanah, S., & Sundari, S. (2025). The Influence Of Fomo And Impulsive Buying On Students’ Personal Financial Management Moderated By Self Control. Bima Journal: Journal of Business, 6(2), 767–774. https://doi.org/10.37638/bima.2.1.67-70

Kartika, A. A. I. M., Gama, A. W. S., & Astiti, N. P. Y. (2026). The Effects of Financial Literacy, Risk Perception, And Self-Control on Interest in Using The Shopee Paylater Fintech Service (A Study of Gen Z in Denpasar). EMAS, 7(4), 424–432. https://doi.org/10.36733/emas.v7i4.13995

Kholilah, N. A., & Iramani, R. (2013). Studi financial management behavior pada masyarakat Surabaya. Journal of Business and Banking, 3(1), 69–80. https://doi.org/10.14414/jbb.v3i1.255

Maimunah, L., Julito, K. A., & Subekti, K. V. (2026). Pengaruh Fomo, Literasi Keuangan, dan Herding Behavior terhadap Keputusan Investasi Saham Generasi Z di Era Digital dengan Financial Self-Efficacy sebagai Variabel Moderasi (DKI Jakarta). Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 7(2), 1363–1382. https://doi.org/10.38035/jmpis.v7i2.7781

Mu’awiyah, S., & Jurana, J. (2024). Financial Behavior Patterns Of Generation Z: Netnographic Analysis of the Fear of Missing Out (FoMO) Phenomenon. Journal of Tourism Economics and Policy, 5(1), 23–34. https://doi.org/10.38142/jtep.v5i1.1215

Mudra, U. J., & Rusmanto, T. (2024). The Role of Financial Self-Control in Mitigating Online Impulsive Buying Among Gen Z Consumers in Indonesia’s E-Commerce Sector. Journal of System and Management Sciences, 14(6). https://doi.org/10.33168/jsms.2024.0629

Oetama, S., Susanto, H., & Alejandra Kristiono, K. (2025). The Influence of Self-Control and Financial Attitude on the Financial Management Behavior of Shopee Paylater Users. International Journal of Science, Technology & Management, 6(4), 880–888. https://doi.org/10.46729/ijstm.v6i4.1348

Prelec, D., & Loewenstein, G. (1998). The red and the black: Mental accounting of savings and debt. Marketing Science, 17(1), 4–28.

Przybylski, A. K., Murayama, K., Dehaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014

Saragih, E. H. S., & Panjitan, R. (2026). Pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap Pengelolaan Keuangan Pribadi Generasi Z di Kecamatan Medan Timur. Journal of Golden Generation Economic, (Vol. 2 No. 1 (2026): April 2026), 284–290.

Soman, D. (2001). Effects of payment mechanism on spending behavior: The role of rehearsal and immediacy of payments. Journal of Consumer Research, 27(4), 460–474.

Winata, A. F. A., Zuliansyah, A., & Ermawati, L. (2025). Pengaruh self control dan financial attitude terhadap financial management behavior pengguna layanan buy now pay later dalam perspektif bisnis Islam. Kompleksitas: Jurnal Ilmiah Manajemen, Organisasi dan Bisnis, 14(1), 106–117. https://doi.org/10.56486/kompleksitas.vol14no1.779

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses