Belanja sekarang bayar nanti? Fenomena paylater kini makin akrab di berbagai kalangan. Di tengah meningkatnya diskon e-commerce dan tren belanja online, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa buy now pay later mengalami peningkatan sebesar 33,64% secara tahunan (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan nominal sebesar Rp6,81 triliun.
Pada tahun 2023, Databoks menunjukkan bahwa 43,9% penggunaan layanan buy now pay later ini berasal dari Generasi Milenial, dan 26,5% lainnya berasal dari kalangan Gen Z, sebagaimana fenomena tersebut dijelaskan dalam artikel yang dipublikasikan oleh Perbanas Institute.
Kemudahan transaksi dengan cara pembayaran nanti membuat paylater terlihat sebagai solusi yang praktis, terutama saat kebutuhan meningkat. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul salah satu pertanyaan penting, yaitu apakah paylater benar-benar memberikan kemudahan yang membuat nyaman bagi penggunanya?
Paylater Memberi Kemudahan yang Membuat Nyaman?
Paylater menjadi pilihan ketika mempunyai keinginan untuk membeli sesuatu, tetapi pendapatan belum masuk atau tabungan tidak mencukupi. Opsi ini dapat dinilai memberi kemudahan karena:
- Tidak perlu menggunakan kartu kredit
- Pengajuannya lebih mudah dan juga cepat
- Dapat digunakan di beberapa e-commerce
- Tersedia banyak promo dan juga cashback untuk para pengguna paylater
Perilaku Belanja Berlebihan Mengalami Peningkatan
Salah satu kekhawatiran terbesar bagi pengguna paylater adalah meningkatnya perilaku belanja berlebihan. Di berbagai generasi, termasuk Gen Z dan Milenial yang sehari-hari terpengaruh oleh tren media sosial, review influencer, dan juga diskon e-commerce berpeluang melakukan impulsive buying, hanya karena pembayaran di kemudian hari.
Baca jgua: Perkembangan E-Business dan E-Commerce di Era Globalisasi
Perilaku belanja berlebihan ini muncul dalam beberapa bentuk:
- Belanja hanya karena FOMO atau takut ketinggalan tren
- Impulsive buying saat midnight sale, dan 12.12
- Membeli barang yang viral walau tidak dibutuhkan
Jika gaya hidup ini terus berulang, pengguna cenderung tidak menyadari bahwa perlahan hidup mereka di luar kemampuan finansial.
Utang Jangka Pendek yang Kian Menumpuk
Di sinilah letak bahayanya paylater, yaitu munculnya utang jangka pendek. Meski nominalnya yang kecil, mulai dari Rp20.000 hingga Rp100.000, penggunaan paylater secara terus-menerus di berbagai e-commerce dapat membuat total utang membesar tanpa disadari.
Belum lagi jika telat bayar. Denda dan juga bunga membuat total pembayaran menjadi lebih besar dari harga aslinya. Hal inilah yang menimbulkan kekhawatiran apakah paylater benar-benar membantu atau malah menjerat kondisi ekonomi pengguna.
Menjadi Solusi atau Malah Menjerat? Fondasinya Ada Pada Pengelolaan
Paylater tidak selalu berdampak buruk. Tetapi sebaliknya, opsi ini bisa menjadi solusi jika digunakan secara benar dan juga bijak, seperti:
- Untuk kebutuhan yang mendesak
- Pembelian yang sudah direncanakan
- Pengeluaran yang produktif
- Pembayaran cicilan dilakukan sesuai dengan kemampuan finansial.
Disisi lain, tanpa pengelolaan keuangan yang baik, paylater dapat menjerat ekonomi, terutama jika digunakan untuk memenuhi gaya hidup yang boros.
Simpulan
Fenomena pengguna paylater di berbagai kalangan ini adalah salah satu bukti bahwa teknologi finansial berkembang pesat dan memudahkan ekonomi. Tetapi, kemudahan ini diikuti dengan ancaman yang paling besar, jika tidak digunakan dengan benar dan juga bijak.
Lambat laun, paylater bisa menjadi solusi ataupun jebakan, tergantung pada kesadaran pengguna dalam membedakan antara kebutuhan yang mendesak dengan keinginan sesaat.
Sehingga, pada akhirnya paylater bukan hanya sekedar kemudahan transaksi saja, akan tetapi, tentang kemampuan diri sendiri dalam melakukan pengelolaan keuangan. Tanpa kesadaran dan kontrol diri yang baik, kemudahan ini dapat berubah menjadi jerat ekonomi di kemudian hari.
Penulis: Mayla Fajar Azalia (251010502129)
Mahasiswa S1 Manajemen, Universitas Pamulang
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












