Di zaman yang serba digital ini, media sosial tidak pernah lepas dari genggaman masyarakat dan tidak lagi dijadikan sebagai sarana berkomunikasi, tetapi juga sebagai panggung untuk menampilkan gaya hidup. Flexing salah satunya, flexing adalah perilaku memamerkan gaya hidup, mewah, kekayaan, barang-barang bermerek atau pencapaian pribadi dengan berlebihan lalu diposting di media sosial. Flexing sering dilakukan karena ingin mendapatkan pengakuan sosial dan meningkatkan status diri di media sosial.
Bagi sebagian orang, flexing merupakan sebuah cara untuk mempresentasikan hasil kerja keras, mereka ingin berbagi kebahagiaan dan pencapaian hidup yang menurut mereka membanggakan, jika dalam batas tertentu ini wajar karena setiap individu pasti mempunyai rasa ingin diapresiasi atas kerja kerasnya dan media sosial menjadi sarana untuk mempublikasikannya sehingga banyak orang tahu dengan gaya hidup dan pencapaiannya.
Tentunya flexing juga membawa dampak negatif. Dengan adanya flexing, maka akan menimbulkan social comparison atau perbandingan sosial di kalangan pengguna.
Ketika melihat orang lain terus menerus memamerkan gaya hidupnya yang tinggi, maka akan muncul rasa kurang atau tertinggal, sehingga menyebabkan seseorang mengharuskan diri untuk mengikutinya tanpa mengukur kemampuan diri sendiri sehingga terlihat memaksakan dan lama-kelamaan muncul perilaku konsumtif.
Tetapi tidak sedikit yang menganggap flexing sebagai bahan motivasi. Melihat orang lain sukses dengan pencapaiannya yang luar biasa maka seseorang akan terdorong untuk bekerja lebih keras walaupun dengan waktu yang lama, dan akan dijalani dengan percaya diri, semangat dan konsisten sehingga suatu saat nanti mendapatkan hasil yang memuaskan.
Fenomena flexing di media sosial tentunya sulit dihindari dan flexing bukanlah sesuatu yang benar atau salah. Semua tergantung bagaimana kita menyikapi. Bagi yang menampilkan sangat penting untuk bersikap bijak dan tidak berlebihan, bagi yang melihat penting untuk tidak mudah terpengaruh dan tetap mengukur kemampuan diri dan tidak memaksakan gaya hidup.
Media sosial seharusnya menjadi sarana untuk saling terhubung, saling berkomunikasi bukan menjadi sarana perlombaan gaya hidup dan saling membandingkan diri untuk terlihat lebih baik.
Oleh karena itu, kesadaran penggunaan media sosial yang sehat sangat diperlukan agar setiap individu mampu memanfaatkan media sosial dengan bijak dan tidak terpengaruh oleh standar hidup orang lain namun tetap menghargai proses dan kemampuan diri tanpa harus menjadikan orang lain sebagai patokan hidup.
Penulis: Florentina Evana Putri Ayunindya
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Yogyakarta
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












