Menyambut Munas IKAMI Sulsel: Selamat Datang Inovasi

Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia (IKAMI) Sulawesi Selatan (Sulsel) akan menghelat musyawarah nasional yang ditempatkan di Palembang pertengahan Mei 2015. Momentum ini menjadi sirkulasi kepemimpinan nasional untuk penyegaran dan kaderisasi organisasi.

Lazimnya semua organisasi, kadang musyawarah nasional atau kongres, dan apapun namanya yang merupakan ritual politik organisasi, selalu saja lebih mengemuka nuanasa politik praktiknya ketimbang dengan pertarungan ide bagaimana mengembangkan organisasi. Bahkan dalam beberapa kesempatan, organisasi mahasiswa sudah mengadopsi prinsip partai politik dengan membincangkan soal suara dan uang.

Pekan lalu saya hadir dalam ramah tamah Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS-PTIS) yang baru saja menyelesaikan musyawarah nasional di Universitas Muslim Indonesia, Makassar. Budaya mereka justru selesai munas bukannya berpecah belah sebagaimana pecah belahnya Partai Golkar dan Peradi, BKS-PTIS justru bersatu seusai munas. Pemilihan dilakukan dengan musyawarah kemudian disepakati secara aklamasi. Tidak menggunakan sistem voting yang kata Megawati merupakan budaya impor (Kompas, 9 April 2015). Di kalangan mahasiswa Islam juga berlaku perseturuan yang sama. Dalam beberapa periode sejak 2004 Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) selalu saja menjalani proses dualisme.

Prof. Irfan Idris, guru besar Politik Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mengemukakan analisis ketika dikukuhkan menjadi guru besar di awal 2009. Beliau menegaskan bahwa perilaku muslim Indonesia diantaranya suka berpecah belah dan tidak mengedepankan program tetapi justru lebih kepada ritual kegiatan. Analisis seperti ini sudah menjadi praktik yang jamak. Dalam banyak organisasi selalu saja berpecah belah dan tidak mengedepankan ukhuwah. Padahal apapun perbedaannya kalau selalu menggunakan landasan ukhuwah, maka soal yang termata besar dapat selesai karena mau saling mendengarkan.

IKAMI mau kemana?
Dengan melaksanakan munas mestinya IKAMI tidak saja memutuskan siapa yang akan jadi ketua umum untuk dua tahun mendatang. Perlu diputuskan secara nasional arah organisasi melangkah kemana. Sebagai organisasi mahasiswa yang didasari oleh kesamaan kultural Sulawesi Selatan, maka mestinya IKAMI menjadikan budaya Sulawesi Selatan sebagai pijakan dasar dalam setiap langkah. Hanya saja, setiap hal yang berhubungan dengan budaya lokal dianggap sebagai bagian dari kosa kata “kuno”. Dibandingkan dengan budaya Korea dan Jepang, budaya Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja yang semuanya tumbuh dan berkembang di Sulawesi Selatan tidaklah begitu memikat.

Jikalau Pelras (1996), Caldwell (1988), Millar (1989), Acciaioli (2000), Tol (1992), Andaya (1981), Ammarell (1999) semuanya menulis Bugis dari perpektif yang berbeda-beda. Sementara Chabot (1976), Yong (2011), menulis tentang Makassar. Dari semua tulisan justru yang menyedihkan karena ditulis oleh turis mancanegara. Mereka bukanlah peneliti yang hidup dan berkembang dengan tradisi Sulawesi Selatan. Sehingga bisa saja dalam penulisan itu ada pemahaman yang tidak sesuai dengan kontekstualisasi tradisi yang sebenarnya. Bukan juga berarti bahwa karya-karya itu cacat. Tetapi jikalau ditulis oleh orang Sulawesi Selatan sendiri, maka akan memberikan perspektif yang berbeda atau bahkan lebih luas pemaknaanya.

Sementara Mattulada dan Fachruddin Ambo Enre sudah wafat, adapun Nurhayati Rahman, Abu Hamid, dan Nurnaningsih Nawawi sudah sampai pada tahap senior. Sementara ini Ilmi Idrus, Shabri AR, Halilintar Latief, Ima Kusuma, diantara nama yang masih menggeluti penelitian tentang Sulawesi Selatan. Selanjutnya tidak ada lagi nama-nama ilmuwan muda yang bergelut dalam kajian Sulawesi Selatan. Di antara yang sedikit terdapat nama Saleh Tajuddin, Muh. Yusuf Kasim, dan Adlin Sila yang menggeluti Sulawesi Selatan dari perspektif agama Islam.

Masa depan IKAMI salah satunya di ranah ini. Sebagai organisasi yang mendorong lahirnya ilmuwan muda, maka perlu mengambil posisi dalam kajian Sulawesi Selatan. Tentu dengan tidak meninggalkan kecenderungan kekinian yang menuntut perlunya budaya popular. Sehingga khazanah keilmuwan yang sudah hadir dalam tradisi Sulawesi Selatan akan disebarkan melalui teknologi terkini. Sehingga minat dan perhatian anak-anak muda dapat tertumpu pada soal-soal kebudayaan Sulawesi Selatan yang tak kalah tingginya dengan perdaban lain di dunia.

Terakhir, selamat bermunas. Semoga dengan acara ini akan melahirkan inovasi dan prakarsa yang membawa kemajuan bagi Sulawesi Selatan dan Indonesia melalui ilmu pengetahuan.

ISMAIL SUARDI WEKKE
Peneliti di Lembaga Persada Papua; Visiting Fellow di Oxford University, Inggris 2014; Editor-in-Chief Jurnal Kebudayaan Sulawesi Selatan SUREQ.

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI