Pentingnya Fungsionalisme Struktural di Masa Pandemi Covid-19

fungsionalis struktural

Oleh: Dhyaul Fikri Adham Alhadi
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Indonesia merupakan negara yang padat penduduk, dilansir dari detikNews ditahun 2020 ini saja sudah berada di kisaran 271 juta jiwa dengan paling banyak penghuni di pulau Jawa, setelah pulau Jawa adalah Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara. Sedangkan pulau Papua dan Kepulauan Maluku memiliki jumlah penduduk terkecil berdasarkan perkiraan tersebut.

Seiring tahun, jumlah penduduk Indonesia di tahun 2030 diperkirakan akan naik dan semakin padat hingga mencapai 296 juta jiwa. Padatnya penduduk ini memberikan banyak dampak positif, seperti dalam hal ekonomi, meskipun masih tergolong negara yang berkembang, kemandiriannya tetapi akan terus mengalami perkembangan hingga menjadi negara yang maju, bila seluruh penghuninya mau untuk menyatukan misi dan ikut berkontribusi menuju negara yang maju.

Populasi penduduk yang banyak di Indonesia ini pun bukan tak memiliki dampak negatif, karena banyaknya penduduk ini menyimpan kekhawatiran ketika suatu saat dilanda suatu penyakit atau virus yang menular, seperti Covid-19 saat ini. Virus yang diteliti sebagai virus yang aktif ini dapat menular dan bisa semakin aktif penyebarannya di tempat yang banyak dilakukan kontak antar manusia di dalamnya. Sebagaimana dilansir dari beberapa media cetak maupun digital, para peniliti memprediksi jumlah positif Covid-19 ini akan semakin naik di Indonesia, karena beberapa faktor, seperti kepadatan penduduknya.

Di saat kondisi seperti ini Indonesia diuji kebersamaan dan solidaritasnya, bagaimana mereka bisa terus menyatu untuk bisa keluar dari kondisi yang tidak disangka maupun diinginkan ini. Di sini peran serta seluruh elemen yang ada di dalamnya menjadi sangat penting dan sangat diharapkan.

Struktural yang dibangun sebelumnya memiliki fungsi yang penting saat ini, dari mulai presiden, DPR, hingga kepala desa dituntut harus bisa mencari dan memberikan kebijakan yang tepat untuk masyarakatnya. Selain itu, perilaku yang baik dari masyarakatnya pun tidak kalah penting untuk menentukan keberhasilan kebijakan yang telah ditentukan.

Seiring kebijakan yang telah diberlakukan pemerintah, para tokoh masyarakat, agama, publik figur pun tak ingin kehilangan kesempatan untuk turut berkontribusi meringankan musibah ini, mereka berkontribusi sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya, seperti kebijakan ibadah di rumah saja yang difatwakan oleh para tokoh agama, ada juga penggalangan dana yang dilakukan para musisi musik tanah air dengan melakukan konser di rumah saja. Sebagaimana yang diselenggarakan oleh alm. Didi kempot dengan tema konser musik #dirumahaja yang digelar oleh Narasi dan juga acara penggalangan dana di Kompas TV. Di mancanegara, ada juga konser virtual yang digelar oleh lady gaga, stevie wonder, dan the rolling stones.

Indonesia di mata dunia merupakan negara yang ramah dan santun, terbukti dengan banyaknya turis dari mancanegara yang tak pernah sepi berkunjung ke indonesia. Hal ini juga menjadi salah satu bukti, bahwa Indonesia merupakan negara yang berbudaya dan negara yang dapat menjalin hubungan dengan baik dengan negara lain.

Budaya yang baik ini merupakan salah satu bekal Indonesia untuk bisa terus  berkembang dan maju. Dengan budaya baik ini pula diharapkan Indonesia bisa menjadi contoh penyemangat bagi negara lain untuk bisa  keluar dari pandemi covid-19 yang melanda seluruh belahan dunia.

Fungsionalisme struktural menjadi salah satu teori untuk dapat melihat kondisi Indonesia saat ini, khususnya penelitian untuk bisa bertahan dan keluar dari pandemi yang masih belum ditemukan vaksinnya kini. Dengan teori ini kita bisa melihat peran pemerintah dan masyarakat sebagai struktural, apakah ia berfungsi dengan baik atau belum?

Berbekal dari beberapa pemikiran para tokoh sosiologi-antropologi maka kesemua elemen di sebuah negara memiliki peran masing-masing untuk mencapai tujuan bersama, seperti yang dikemukakan Parsons bahwa masyarakat akan berada dalam kedaaan harmonis dan seimbang bila institusi/atau lembaga-lembaga yang ada pada masyarakat dan negara mampu menjaga stabilitas pada masyarakat tersebut. Struktur masyarakat yang dapat menjalankan fungsinya dengan baik dengan tetap menjaga nilai dan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat maka hal ini akan menciptakan stabilitas pada masyarakat itu sendiri.

Keluarga merupakan unit terkecil dalam struktur negara, dan juga memiliki fungsi yang sangat dan diharapkan kontribusinya, yaitu dengan melakukan perilaku yang baik seperti pemberian pemahaman yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya mengenai kebijakan #dirumahaja saat kondisi pandemi Covid-19 ini. Dengan adanya pemahaman yang diberikan para orang tua diharapkan bisa mendukung kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah. Sehingga kondisi ini bisa cepat berlalu.

Hal di atas merupakan contoh yang sangat logis mengenai pentingnya teori fungsionalisme struktural untuk membantu bertahan dan melawan covid-19 ini. Contoh lain mengenai pentingnya teori fungsionalisme struktural ini adalah pentingnya sebuah lembaga kesehatan, di Indonesia seperti Kemenkes. Dalam penanganan wabah Covid-19 ini, Kemenkes sebagai lembaga yang termasuk kedalam struktural negara, memiliki fungsi yang diharapkan kontribusinya dalam  penanganan wabahCovid-19 ini. Salah satu fungsi Kemenkes tersebut pada masa pandemi ini adalah pengadaan alat kesehatan dan kefarmasian terkait pencegahan dan penanganan Covid-19. Selain itu, Kemenkes juga bekerjasama dengan lembaga struktural lain yang ada dibawah pemerintahan, seperti BNPB. Sejak Covid-9 ditetapkan sebagai bencana nasional, BPNB ikut berperan penting menjadi garda terdepan untuk menangani covid-19 ini. Kerjasama yang baik antara keduanya menjadi salah satu  penumbuh  rasa optimis masyarakat untuk keluar dari pandemi yang melanda dunia ini.

Namun sebaliknya, jika fungsionalisme struktural tidak dijaga apalagi tidak ada dalam masyarakat, maka akan menjadikan masyarakatnya kacau dan kebingungan. Di masa pandemi saat ini, jika tidak ada fungsionalisme struktural, masyarakat hanya akan berputar-putar di atas kebingungan yang tiada habisnya. Sebab tidak ada yang mereka jadikan sebagai pegangan dan penumbuh sifat optimisme. Semoga Allah SWT  melindungi kita semua dari segala bala’, musibah, penyakit yang melanda Indonesia dan dunia.

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI