Psikoedukasi: Membangun Kesejahteraan Emosional Anak Broken Home

Membangun Kesejahteraan Emosional Anak Broken Home
Broken Home (doktersehat)

Rumah tangga yang sudah tidak dapat dipertahankan akan berujung pada perpisahan. Ketika orang tua berpisah maka anak akan menjadi salah satu korbannya.

Anak yang terdampak dari kasus perpisahan orang tua cenderung akan memiliki sifat berbeda dari teman-temannya, khususnya dibandingkan dengan anak memiliki keluarga utuh dan harmonis.

Karena tumbuh dalam keluarga tidak utuh merupakan pengalaman yang tidak mudah, apalagi jika dialami oleh anak usia sangat muda atau usia anak sekolah dasar.

Kehidupan rumah tangga yang tidak utuh atau dikenal sebagai broken home dapat berdampak serius pada perkembangan anak. Oleh karena itu, psikoedukasi tentang broken home sejak dini, khususnya di tingkat sekolah dasar menjadi langkah yang sangat penting.

Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada Anak-anak tentang perubahan yang terjadi dalam keluarga mereka dan membantu mereka mengelola dampaknya.

Anak usia sekolah dasar mungkin belum sepenuhnya megetahui maksud apai itu broken home. Dengan hal tersebut maka, psikoedukasi harus disampaikan melalui bahasa yang mudah dipahami oleh siswa.

Agar penjelasan dapat diserap dan dipahami siswa, guru dan konselor di sekolah dapat menggunakan pendekatan secara kreatif seperti bercerita dengan media gambar maupun bermain peran untuk menjelaskan situasi tersebut secara sederhana.

Aspek terpenting dalam psikoedukasi adalah meyakinkan anak tidak merasa dirinya penyebab dari permasalahan atau harus bertanggung jawab atas keadaan tersebut. Maka diperlukan pemahaman bahwa perpisahan orang tua bukanlah kesalahan mereka, dan mereka tetap merasakan kenyamanan serta dicintai oleh kedua orang tua walaupun adanya perubahan struktur dalam keluarga.

Selanjutnya psikoedukasi di sekolah dasar harus terpusat pada pembentukan kemampuan emosional. Pentingnya Anak-anak belajar cara mengendali dan mengatur emosi mereka terkait dalam hal perubahan keluarganya.

Konselor sekolah bisa memberikan ruang bagi anak untuk menceritakan tentang perasaan yang mereka alami, sehingga anak mampu memahami terkait berbagai macam perasaan seperti sedih, marah, maupun bingung adalah hal yang normal dalam situasi ini.

Dalam proses psikoedukasi orang tua juga harus diikutsertakan, dikarenakan dalam hal ini keterlibatan orang tua sangat penting. Dengan itu sekolah mampu mengadakan sesi informasi kepada orang tua, memberikan arahan tentang cara mendukung Anak-anak mereka pada masa transisi ini.

Adanya kolaborasi antara orang tua dan pihak sekolah merupakan kunci dalam menciptakan lingkungan yang menunjang perkembangan emosi Anak-anak.

Hal lain yang penting diperhatikan yaitu dalam psikoedukasi ini harus bersifat inklusif. Setiap individu memiliki pengalaman hidup yang beragam dan unik, maka pendekatan harus memperhitungkan keberagaman agar mampu terciptanya lingkungan yang mendukung semua siswa.

Guru dapat membentuk kebijakan yang memastikan Anak-anak yang berasal dari keluarga broken home tidak mengalami dijauhi dikarenakan teman-temannya menganggap keluarganya berbeda dari keluarga pada umumnya dan guru harus memastikan tidak ada perlakuan diskriminatif.

Dengan pemberian psikoedukasi mengenai broken home di sekolah dasar kita mampu membantu mewujudkan generasi yang lebih kuat secara emosional. Hal ini tidah hanya membantu Anak-anak dalam mengatasi dampak psikologis dari perceraian orang tua, namun juga membentuk fondasi yang kokoh untuk kesejahteraan mental anak dimasa yang akan datang.

Penulis: Dyan Permata Ratri
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI