Pura-Pura Pinter: Kenapa Banyak Orang Suka Pakai Bahasa Ribet Biar Kelihatan Cerdas?

bahasa rumit
Gambar: Dok. MMI

Pernah nggak sih kamu ketemu orang yang ngomongnya muter-muter, penuh istilah asing, campur bahasa Inggris, pakai teori sana-sini, tapi setelah dipikir lagi… sebenarnya isi omongannya nggak terlalu dalam? 

Lucunya, di era sekarang, cara ngomong sering lebih dihargai dibanding isi pembicaraan itu sendiri.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Orang yang ngomong simpel dianggap biasa aja, sementara yang bahasanya ribet sering langsung dicap “wah ini pasti intelektual.”

Padahal faktanya justru kebalikannya.

Sebuah penelitian dari Princeton University menemukan bahwa orang yang menjelaskan sesuatu dengan bahasa sederhana justru terlihat lebih pintar dibanding mereka yang menggunakan kalimat rumit dan berbelit-belit.

Artinya, kemampuan menyederhanakan ide itu malah dianggap sebagai tanda pemahaman yang matang.

Tapi realitanya di media sosial sekarang beda banget. Kita hidup di zaman di mana orang berlomba-lomba terdengar pintar, bukan benar-benar memahami sesuatu.

Mulai dari caption sok filosofis, thread panjang yang penuh istilah akademis, sampai video opini dengan intonasi meyakinkan padahal isinya setengah matang.

Semua berlomba tampil “smart”, walau kadang substansinya tipis banget.

Fenomena ini makin menarik ketika dikaitkan dengan psikologi, cara kerja otak, sampai budaya internet modern yang bikin semua orang pengen terlihat intelektual.

Otak Manusia Itu Ada Limit-nya, Bukan Google Chrome Unlimited Tab

Ada satu fenomena yang jarang dibahas tapi sebenarnya sering kejadian, terutama pada orang yang menguasai banyak bahasa atau biasa disebut polyglot.

Banyak orang mengira polyglot itu kayak manusia super, yang lancar ngomong berbagai bahasa, cepat mikir, dan otomatis lebih pintar. Padahal kenyataannya nggak sesederhana itu.

Kadang mereka juga bisa tiba-tiba blank di tengah percakapan.

Bukan karena nggak ngerti, tapi karena otaknya terlalu sibuk memproses banyak hal sekaligus.

Bayangin kamu lagi buka 27 tab di browser, sambil denger musik, balas chat, nonton video pendek, dan mikirin tugas yang belum selesai.

Awalnya mungkin aman. Tapi lama-lama laptop mulai lag.

Otak manusia juga begitu.

Saat seseorang harus memilih kosakata dari banyak bahasa, menyesuaikan struktur kalimat, mempertimbangkan konteks sosial, sekaligus menjaga image di depan lawan bicara, beban mentalnya jadi tinggi banget.

Psikolog sekaligus peraih Nobel, Daniel Kahneman, pernah menjelaskan bahwa otak manusia punya kapasitas terbatas dalam memproses informasi sadar.

Ketika terlalu banyak hal dipikirkan dalam satu waktu, kualitas berpikir malah menurun. 

Fenomena ini dikenal sebagai cognitive overload.

Dan ironisnya, orang yang paling terlihat “sophisticated” dalam berbicara justru sering jadi yang paling rawan mengalami overload semacam ini.

Makanya kadang ada orang yang kelihatannya intelektual banget di media sosial, tapi saat diskusi langsung malah bingung menjelaskan inti pikirannya sendiri.

Karena sebagian energi mereka habis buat “terlihat pintar”, bukan untuk menyederhanakan ide.

Padahal orang yang benar-benar paham biasanya justru bisa menjelaskan hal rumit dengan cara yang santai dan gampang dimengerti.

Ini yang bikin sosok seperti Richard Feynman begitu dihormati.

Dia bisa menjelaskan fisika kuantum ke anak kecil tanpa kehilangan inti ilmunya.

Dan itu jauh lebih susah dibanding ngomong ribet.

Bahasa Ribet Kadang Cuma Jadi Kostum Sosial

Sekarang pertanyaannya, “Kenapa banyak orang tetap suka ngomong ribet meski sebenarnya bikin komunikasi jadi nggak efektif?”

Jawabannya sederhana, karena bahasa sering dipakai buat membangun citra.

Sosiolog terkenal Erving Goffman pernah menjelaskan bahwa kehidupan sosial itu mirip panggung teater.

Setiap orang memainkan karakter tertentu tergantung siapa penontonnya.

Dan bahasa adalah salah satu “kostum” paling kuat.

Makanya nggak heran kalau banyak orang sengaja memilih gaya bicara tertentu demi membangun kesan tertentu juga.

Coba lihat pola yang sering muncul di media sosial:

Campur bahasa Inggris di tengah percakapan Indonesia: dianggap global dan educated
Nyebut filsuf atau teori akademik: dianggap intelektual
Pakai kalimat panjang dengan istilah rumit: dianggap deep thinker
Ngetik caption penuh metafora: dianggap filosofis dan berkelas

Padahal belum tentu semuanya benar-benar memahami apa yang mereka ucapkan.

Banyak orang sebenarnya cuma sedang memainkan “karakter pintar” supaya diterima dalam lingkungan tertentu.

Dan media sosial memperparah semuanya.

Di platform seperti X, LinkedIn, atau YouTube, ada semacam kompetisi diam-diam untuk terlihat paling intelektual.

Semakin terdengar kompleks, semakin dianggap keren.

Makanya muncul thread-thread panjang yang sebenarnya muter-muter.

Ada juga video opini yang delivery-nya meyakinkan banget, padahal kalau dicek datanya banyak yang ngawur.

Yang lebih lucu lagi, algoritma media sosial ikut memperkuat fenomena ini.

Konten yang “terlihat pintar” biasanya lebih gampang viral karena banyak orang suka membagikan sesuatu yang bikin mereka ikut terlihat pintar juga.

Akhirnya kita hidup di ekosistem yang menghargai performa kecerdasan lebih tinggi daripada kecerdasan itu sendiri.

Dan tanpa sadar, banyak orang jadi takut ngomong simpel karena khawatir dianggap kurang intelektual. Padahal komunikasi itu bukan lomba siapa paling ribet.

Orang yang Benar-Benar Pintar Biasanya Nggak Ingin Dibilang Pintar

Masalah terbesar dari budaya “bahasa ribet = pintar” adalah dampaknya ke cara kita memandang orang lain.

Pertama, orang yang ngomong sederhana sering diremehkan. 

Padahal menjelaskan ide kompleks dengan bahasa simpel itu skill tingkat tinggi. Nggak semua orang bisa.

Orang yang benar-benar memahami sesuatu biasanya tahu bagian mana yang penting dijelaskan dan mana yang nggak perlu dipersulit.

Sebaliknya, orang yang pemahamannya masih setengah matang sering bersembunyi di balik istilah rumit.

Kedua, budaya ini bikin banyak orang minder untuk bicara.

Ada banyak orang cerdas yang sebenarnya punya ide bagus, tapi memilih diam karena merasa cara bicara mereka nggak cukup “akademis.”

Mereka takut dianggap bodoh cuma karena nggak pakai istilah keren.

Padahal ide segar nggak selalu datang dari orang yang ngomong paling formal.

Kadang justru orang dengan logat daerah, gaya santai, atau bahasa sederhana punya sudut pandang yang jauh lebih tajam dan realistis.

Ketiga, diskusi jadi kehilangan tujuan.

Harusnya diskusi itu mencari solusi dan saling memahami.

Tapi sekarang sering berubah jadi ajang flexing intelektual.

Siapa yang paling filosofis, paling banyak istilah asing, atau paling rumit ngomongnya dianggap menang. 

Padahal setelah diskusi selesai, nggak ada insight yang benar-benar nyangkut.

Karena fokusnya bukan memahami, tapi tampil mengesankan.

Makanya penting banget buat mulai mengubah cara pandang.

Kalau memang audiensnya profesional atau akademis, istilah teknis tentu wajar dipakai. Itu efisien.

Tapi kalau ngobrol sama publik umum lalu sengaja bikin bahasa serumit mungkin tanpa usaha menjelaskan, itu bukan kecerdasan.

Itu cuma eksklusivitas yang dibungkus gaya intelektual. Belajar bahasa baru tetap penting.

Menguasai istilah akademik juga bagus.

Tapi semua itu seharusnya dipakai untuk memperjelas komunikasi, bukan menciptakan jarak sosial.

Karena pada akhirnya, orang yang benar-benar pintar biasanya nggak sibuk terlihat pintar.

Mereka lebih fokus bikin orang lain ngerti.

Dan di dunia yang penuh noise kayak sekarang, kemampuan membuat sesuatu jadi jelas adalah bentuk kecerdasan yang jauh lebih langka.

Mungkin karena itu juga, orang-orang paling berpengaruh sering justru berbicara dengan sederhana.

Bukan karena mereka kurang dalam, tapi karena mereka cukup paham untuk nggak mempersulit hal yang sebenarnya bisa dijelaskan dengan mudah.

Sebab bahasa terbaik bukan yang bikin orang kagum sesaat.

Tapi yang bikin orang benar-benar paham.


Penulis: Muhammad Faris Taqiyuddin
Mahasiswa Prodi Sosiologi, Universitas Sebelas Maret


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses