Sadar Lingkungan dan Kesehatan: Filtrasi Sederhana sebagai Tindakan Nyata

Pascapandemi COVID-19 yang merebak sejak akhir tahun 2019, masyarakat Indonesia, khususnya Generasi Z (Gen Z), mulai masif menerapkan gaya hidup sehat.

Tren positif ini terus berkembang hingga saat ini. Pola hidup sehat kini menjadi salah satu topik hangat yang ramai diperbincangkan, terutama oleh Gen Z yang aktif di media sosial.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bagi mereka, gaya hidup sehat (healthy lifestyle) yang ditampilkan di platform digital sering kali dianggap sebagai representasi identitas dan jati diri. Berbagai aktivitas pun rutin dibagikan, mulai dari kebiasaan sehari-hari, pemilihan menu makanan, hingga olahraga teratur.

Meskipun demikian, data menunjukkan masih ada ruang yang perlu dibenahi. Berdasarkan survei IDN Research Institute (2024), sebanyak 18% Gen Z mengaku jarang berolahraga. Angka ini relatif kecil jika dibandingkan dengan kelompok yang rutin beraktivitas fisik.

Baca juga: Tips agar Hidup Sehat dengan Rahasia Pola Hidup Sehat!

Secara rinci, 9% Gen Z berolahraga setiap hari, 27% beberapa kali dalam seminggu, 16% seminggu sekali, dan 29% beberapa kali dalam sebulan.

Sayangnya, di tengah meningkatnya tren kesehatan yang berfokus pada makanan dan olahraga, kualitas air minum justru sering kali dikesampingkan.

Air yang secara visual tampak jernih belum tentu bebas dari bakteri dan aman bagi tubuh; risiko cemaran mikroba serta zat kimia berbahaya kerap kali tidak kasatmata.

Berdasarkan studi kualitas air minum rumah tangga oleh Kementerian Kesehatan (2020), ditemukan bahwa hampir seluruh rumah tangga (93%) merasa telah memiliki akses terhadap air yang layak.

Namun, hasil pengujian laboratorium menunjukkan hanya 11% air minum rumah tangga yang benar-benar aman dikonsumsi.

Meskipun sebagian besar masyarakat mengandalkan metode perebusan untuk membunuh kuman, data membuktikan bahwa 25,6% air yang siap dikonsumsi tersebut masih mengandung bakteri patogen seperti Escherichia coli (E. coli) atau zat kimia berbahaya yang memicu risiko kesehatan serius.

Mengingat masih banyaknya air minum yang beredar belum sepenuhnya aman, diperlukan metode sederhana yang dapat diimplementasikan masyarakat untuk membantu meningkatkan kualitas air, salah satunya melalui proses filtrasi.

Baca juga: Air Bersih sebagai Fondasi Lingkungan Kota yang Sehat

Filtrasi merupakan metode pemisahan antara cairan dan padatan untuk mengurangi zat sisa serta polutan di dalam air.

Proses ini sangat mudah diterapkan di rumah, yaitu dengan mengalirkan air melalui media berpori seperti kertas saring atau kain filter. Partikel padat yang berukuran lebih besar akan tertahan di permukaan penyaring, sementara cairan dan partikel mikro akan lolos melewati pori-porinya.

Pembuatan sistem filtrasi mandiri dapat dilakukan dengan menggunakan botol plastik bekas ukuran 1,5 liter sebagai wadah utama.

Sementara itu, media penyaring yang digunakan meliputi kerikil, pasir, arang aktif, sabut kelapa, kapas, dan tisu.

Setiap bahan memiliki fungsi spesifik: kerikil berfungsi menyaring kotoran besar seperti lumpur atau serpihan daun; pasir membantu menyaring partikel halus; sedangkan arang aktif berperan penting dalam mengurangi bau sekaligus menyerap zat-zat polutan di dalam air.

Sabut kelapa, kapas, dan tisu menjadi lapisan tambahan agar hasil penyaringan semakin maksimal. Cara pembuatannya pun cukup sederhana.

Botol plastik dipotong pada bagian bawah lalu dibalik sehingga mulut botol berada di bawah. Setelah itu, media penyaring disusun secara berlapis dimulai dari kapas dan tisu di bagian paling bawah, dilanjutkan dengan sabut kelapa, arang aktif, pasir, dan kerikil pada bagian teratas.

Air keruh kemudian dituangkan secara perlahan dari atas botol dan hasil penyaringan ditampung di wadah penampung bawah.

Jika dalam skala rumah tangga filtrasi dilakukan secara mekanis sederhana, pengolahan air minum dalam skala industri biasanya melibatkan beberapa tahapan yang lebih kompleks.

Proses pengolahan diawali dengan pengambilan air baku dari sungai, danau, maupun air tanah. Setelah itu, air memasuki tahap koagulasi dan flokulasi.

Pada tahap ini, bahan kimia seperti tawas atau Poly Aluminium Chloride (PAC) ditambahkan untuk membantu menggumpalkan partikel kotoran kecil di dalam air menjadi flok yang lebih besar agar mudah dipisahkan.

Selanjutnya, air dialirkan ke bak sedimentasi agar flok yang sudah terbentuk dapat mengendap di dasar bak. Air yang lebih jernih kemudian mengalir ke tahap filtrasi menggunakan media seperti pasir silika, antrasit, karbon aktif, dan kerikil.

Filtrasi ini bertujuan untuk mengeliminasi partikel halus, warna, bau, hingga zat organik yang masih tersisa.

Di instalasi pengolahan modern, proses biasanya diperkuat dengan teknologi mikrofiltrasi atau ultrafiltrasi menggunakan membran khusus untuk menyaring bakteri, virus, dan partikel berukuran sangat kecil.

Tahap terakhir adalah disinfeksi menggunakan klorin, ozon, atau sinar ultraviolet (UV) untuk memastikan tidak ada mikroorganisme berbahaya yang tersisa. Setelah dinyatakan memenuhi standar kualitas, air disimpan terlebih dahulu di dalam reservoir sebelum akhirnya didistribusikan ke rumah-rumah dan berbagai fasilitas umum.

Selama proses berlangsung, kualitas air terus dipantau melalui parameter seperti pH, kekeruhan, TDS (Total Dissolved Solids), dan uji mikrobiologi agar air yang sampai ke masyarakat tetap aman, jernih, dan layak minum.

Selain sebagai solusi praktis untuk mengatasi masalah air bersih, alat filtrasi sederhana ini juga memiliki nilai edukasi yang tinggi. Pengolahan air esensial dilakukan untuk meningkatkan kualitas air sehingga aman untuk dikonsumsi maupun digunakan dalam aktivitas harian.

Baca juga: Turunnya Kualitas Air Sungai Akibat Sampah

Air yang tidak diolah dengan baik dapat membahayakan tubuh karena rentan mengandung zat toksik, bakteri, dan residu berbahaya.

Diharapkan, dengan adanya inovasi ini, masyarakat, khususnya generasi muda, dapat lebih peka terhadap kelestarian lingkungan dan menyadari bahwa menjaga kualitas air dapat dimulai dari langkah kecil yang diterapkan sehari-hari.


Penulis:
Armedinda Azizah
Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Padjadjaran
Nisrina Hazizah
Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Padjadjaran


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses