Kebutuhan air bersih meningkat seiring pertumbuhan kota. Pemukiman baru, rumah susun, tempat usaha dan fasilitas pelayanan publik memakai sumber air yang sama. Banyak warga mengandalkan sumur bor karena jaringan air perpipaan belum merata.
Air terlihat jernih sehingga dianggap aman. Kenyataannya banyak sumur berada dekat septic tank dan saluran limbah. Jarak tidak memenuhi standar sehingga air mudah tercemar bakteri dan nitrat.
Kondisi tanah padat membuat air limbah meresap dengan cepat ke akuifer dangkal. Warga yang tinggal di daerah datar juga menghadapi risiko penurunan muka air tanah karena pengambilan berlebihan. Sumur semakin dalam, biaya pengeboran naik dan kualitas air menurun.
Masalah muncul lebih jelas saat musim kemarau. Sumur dangkal kering. Sungai berubah keruh karena debit rendah dan beban limbah dari permukiman naik. Banyak warga akhirnya membeli air galon tanpa memeriksa sumber dan proses pengolahannya. Keterbatasan akses membuat air menjadi barang konsumsi, bukan hak dasar. Kondisi ini menjadi beban ekonomi bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Pengelolaan air bersih seharusnya tidak hanya menambah sumber baru. Kota perlu menjaga kualitas dan ketersediaan air dari sumber hingga distribusi. Teknologi lingkungan membantu menjalankan langkah tersebut melalui filtrasi, pemetaan akuifer, dan sistem pengolahan komunal yang terjangkau.
Air bersih yang aman tidak hanya memenuhi kebutuhan minum. Air digunakan untuk memasak, mandi, mencuci dan aktivitas rumah tangga. Kontaminasi ringan dapat menimbulkan iritasi kulit. Kontaminasi tinggi menyebabkan gangguan pencernaan dan penyakit menular.
Lingkungan yang kekurangan air bersih sering menghadapi masalah kesehatan yang berulang. Sanitasi buruk memperparah keadaan karena limbah dan air hujan bercampur di saluran terbuka. Air bersih dan sanitasi perlu berjalan bersamaan agar lingkungan tetap sehat. Kota membutuhkan kebijakan yang memastikan sumur tidak menjadi satu-satunya solusi dan warga tidak dibiarkan bergantung pada air kemasan
Pertumbuhan kota harus mengikuti perencanaan sumber air tanah. Pemerintah dapat memetakan zona pengambilan air. Zona akuifer sensitif dilindungi agar tidak terjadi pengeboran liar.
Data titik sumur dan kedalaman akuifer membantu menentukan batas pengambilan. Warga yang ingin membuat sumur perlu mengikuti izin pengeboran. Aturan ini menjaga tekanan air tanah tetap stabil dan mencegah penurunan muka air yang merusak struktur tanah.
Filtrasi rumah dapat menjadi langkah awal peningkatan kualitas air. Filter sederhana memakai arang aktif, zeolit dan pasir silika dapat mengurangi bau, warna dan kandungan organik. Filter harus dibersihkan secara berkala agar efektif. Rebusan tetap digunakan untuk keamanan mikrobiologi, tetapi tidak cukup untuk menghilangkan logam atau bahan kimia. Kombinasi filtrasi dan perebusan memberi hasil yang lebih aman.
Pengolahan komunal memberi solusi bagi wilayah padat. Instalasi berbasis koagulasi dan filtrasi gravitasi dapat melayani satu RT atau kompleks permukiman. Biaya dibagi sehingga tidak membebani satu rumah.
Unit ini menurunkan kekeruhan dan bakteri sebelum air dipakai. Warga dapat mengelola unit bersama dengan jadwal perawatan dan pencatatan kualitas air. Sistem ini menjaga ketersediaan air saat musim kemarau tanpa bergantung pada truk air.
Pemantauan kualitas air perlu dilakukan secara rutin. Pemerintah dapat menyediakan layanan cek air di kantor kecamatan. Warga membawa sampel untuk diuji parameter dasar seperti pH, TDS dan bakteri. Data ini memberi gambaran kualitas air dan langkah yang harus dilakukan. Wilayah tertentu mungkin membutuhkan klorinasi tambahan. Wilayah lain mungkin perlu menambah filter karbon untuk mengurangi senyawa organik.
Distribusi air perpipaan membantu mengurangi eksploitasi air tanah. Kota dapat memperluas jaringan pipa ke wilayah padat agar warga tidak membuat sumur bor pribadi.
Instalasi rumah harus dirawat agar tidak terjadi kontaminasi ulang. Tangki penyimpanan harus tertutup dan dibersihkan secara berkala. Pipa bocor harus diganti agar tidak terjadi pencampuran dengan air dari luar tanah.
Air bersih menjadi dasar lingkungan yang sehat. Kota perlu mengatur pengambilan air tanah, memperluas jaringan perpipaan dan menyediakan sistem pengolahan komunal. Warga merawat sumber air di rumah dan memastikan tangki penyimpanan tetap bersih. Teknologi lingkungan membantu menjalankan langkah-langkah ini agar air tetap aman dan tersedia. Lingkungan menjadi lebih sehat dan kehidupan kota berjalan lebih layak.
Penulis: Novianus Oba Foni (250101081)
Mahasiswa Teknologi Lingkungan, Akademi Teknik Tirta Wiyata
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













