Akhir-akhir ini tengah viral perbincangan soal laki-laki yang selalu mengalah kepada perempuan. Diskusi ini dipantik oleh tragedi kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 yang menewaskan mayoritas penumpang perempuan.
Banyak penumpang perempuan yang menjadi korban dikarenakan posisi gerbong khusus perempuan diletakkan di ujung depan dan belakang kereta api. Lalu Arifah Choiri Fauzi selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengusulkan gerbong perempuan tidak lagi ditempatkan di ujung kereta, melainkan di bagian tengah kereta. Pernyataan tersebut terkesan seperti menukar nyawa antara laki-laki dan perempuan.
Setelah kabar ini tersiarkan, banyak masyarakat terpancing untuk bersuara atas solusi yang kurang masuk akal tersebut. Salah satunya muncul klip dari potongan video Najwa Shihab yang berjudul “Enaknya Jadi Laki-Laki”, potongan klip itu berisi Najwa Shihab yang mengatakan bahwa laki-laki tidak sanggup menjadi perempuan, lalu dijawab oleh Ge Pamungkas dengan jawaban sederhana, yaitu “SEPAKAT”.
Potongan video itu terangkat kembali dan seakan-akan menggambarkan kepada netizen bahwa laki-laki akan mempersingkat perdebatan terhadap perempuan yang pasti akan memperpanjang masalah.
Baca juga: Toxic Masculinity dalam Interaksi Kelompok Virtual: Studi Kasus Grup Chat Mahasiswa
Masalah seperti inilah yang membuat laki-laki seperti harus kuat secara fisik dan mental dengan mandiri tanpa bantuan dari orang lain dan tidak boleh terlihat lemah. Walaupun diserang, laki-laki harus tetap diam dan menerimanya. Pandangan semacam ini yang menimbulkan perspektif maskulinitas toksik.
Apa itu maskulinitas? Singkatnya adalah perilaku yang dikaitkan dengan kelaki-lakian, seperti sifat mandiri, berani, tegas dan lain-lain. Namun, stigma maskulinitas ini justru membuat para laki-laki menjadi rapuh.
Bayangkan saja, tragedi kecelakaan kereta api yang sudah disebutkan di atas, bukannya diberikan solusi untuk segera memperbaiki sistem error dari perkereta apian agar tragedi semacam ini tidak terjadi lagi, malah dengan cara memindahkan gerbong perempuan dari ujung depan dan belakang menjadi di tengah, lalu gerbong laki-laki yang menggantikan posisi awal gerbong perempuan.
Hasil pikiran ini tentu timbul dari pandangan maskulinitas yang menekankan bahwa laki-laki memang gender yang sudah siap menanggung kematian atau siksaan.
Perlu diketahui, bahwa kami para laki-laki juga bisa merasakan sakit, bisa merasakan sedih, bisa menjadi lemah, laki-laki juga bisa meninggal. Laki-laki boleh bercerita, menceritakan semua beban yang ia pikul selama ini untuk meringankannya.
Jika stigma ini membelenggu para laki-laki untuk kuat sendirian tanpa mencoba untuk melakukan curahan hati kepada teman-temannya dan tanpa diberi waktu istirahat, maka yang terjadi adalah kepunahan laki-laki.
Penulis: Asep Taufikul Hakim Sunarto
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas AMIKOM Yogyakarta
Dosen Pengampu: Wiwid Adiyanto, A.Md., S.I.Kom., M.I.Kom.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












