Toxic Masculinity dalam Interaksi Kelompok Virtual: Studi Kasus Grup Chat Mahasiswa

Toxic Masculinity
Ilustrasi Toxic Masculinity (Sumber: MMI)

Fenomena interaksi dalam grup chat angkatan seperti WhatsApp, Telegram ataupun Line kini bukan lagi hanya untuk koordinasi seputar perkuliahan atau tempat saling bertukar pesan berupa informasi yang bermanfaat untuk di diskusikan. Namun, media chat saat ini juga menjadi sangat menakutkan karena sering juga menjadi arena untuk pertukar pesan yang negatif, terutama untuk melecehkan perempuan.

Dalam ruang privat ini, seringkali muncul pola komunikasi yang menyingkirkan sensitivitas demi mempertahankan dominasi kelompok tertentu. Sering kita lihat bagaimana guyonan yang berlebihan sering dianggap sebagai “Candaan Tongkrongan,” hingga penggunaan label “Baperan” menjadi senjata untuk membungkam argumen yang dianggap tidak maskulin.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dari sinilah toxic masculinity bermula, menciptakan standar ganda dalam berkomunikasi dan sering tidak disadari oleh pelakunya.

Masalah utama dalam grup chat mahasiswa adalah munculnya rasa berani karena mereka tidak bertemu secara langsung, sehingga mereka lebih agresif dan mungkin sampai di tahap kehilangan sopan santun. Hal ini sering dimanfaatkan oleh oknum untuk mendominasi percakapan dengan cara meremehkan pendapat orang lain.

Akibatnya, grup tersebut tidak lagi menjadi arena diskusi yang sehat, melainkan hanya menjadi wadah bagi mereka yang paling keras suaranya untuk membungkam pendapat yang berbeda.

Hal ini sangat relevan dengan “social information processing theory” dari Joseph Walther. Teori ini menjelaskan, bagaimana pengguna membangun relasi melalui media digital. Namun, dalam konteks chat mahasiswa sering ada stereotipe gender.

Selain itu, “muted group theory” juga ada dalam kasus ini, di mana kelompok yang tidak sesuai merasa “Terbungkam” karena sistem komunikasi di dalam grup chat tersebut di dominasi oleh satu kelompok dominan. Pesan yang dikirimkan bukan lagi pertukaran imformasi melainkan alat untuk menegaskan hierarki sosial.

Pada 11 April lalu, publik dihebohkan dengan kemunculan screenshot bukti chat mahasiswa yang memperlihatkan percakapan yang sangat tidak pantas di akun X, mirisnya percakapan itu dilakukan oleh mahasiswa hukum di Universitas Indonesia (UI) Depok. Mahasiswa hukum yang seharusnya mencari keadilan bagi korban pelecehan seksual malah menjadi pelaku pelecehan seksual lewat room chat, korban mereka ada mahasiswi dan juga dosen.

Di dunia digital, banyak oknum yang menggunakan stiker atau meme kasar untuk terlihat akrab. Masalahnya, kalau ada yang menegur tindakan mereka biasanya mereka akan menyerang balik dengan kalimat, “Baper amat sih. Jangan terlalu serius dong, kan kita Cuma bercanda.” Ini adalah sebuah kalimat halus yang bisa membungkam orang lain yang menganggap candaan mereka itu berlebihan.

Baca juga: Adiksi Game Online dan Perilaku Toxic pada Remaja

Mereka selalu merasa bahwa semua hal bisa dijadikan sebagai bercandaan, tanpa bisa menilai mana yang positif dan mana yang negatif. Akibatnya, grup chat yang harusnya jadi arena diskusi atau menyampaikan informasi yang positif atau sekedar menjadi arena mengobrol santai, malah terasa mengancam.

Orang yang tidak setuju dengan candaan vulgar tersebut akhirnya memilih menjadi pembaca tanpa berniat membalas chat tersebut karena malas berdebat dan memperkeruh suasana atau mengkin dikucilkan. Secara tidak sadar, grup chat tersebut berubah menjadi siapa yang paling berani menghina adalah si pemegang kendali.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun dianggap pintar, banyak orang yang gagal menjaga etika di dunia digital. Demi mendapat validasi bahwa dirinya “Keren” mereka bahkan rela baik secara sadar atau tidak meremehkan orang lain atau meremehkan isu gender.

Kita harus mempunyai kesadaran bahwa membiarkan satu candaan kasar tetap lewat tanpa di tegur sama dengan mendukung budaya merendahkan orang lain dan mungkin akan terbawa hingga masa depan.

Toxic Masculinity terutama dalam room chat bukan sekedar masalah etika personal, ruang virtual yang seharusnya digunakan untuk berkomunikasi justu disalahgunakan untuk mempersempit ruang ekspresi, jika terus dibiarkan pola komunikasi yang menindas akan menetap. Fungsi pendidikan tinggi untuk memanusiakan manusia akan terhambat oleh layar handphone kita sendiri.

Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, kita memiliki tanggung jawab moral untuk memutus rantai toxic tersebut. Menjadi mahasiswa yang kritis bukan hanya untuk membedah teori di kelas, tetapi juga berani mengambil sikap saat saat melihat ketidakadilan gender terutama yang terjadi di room chat kita. Ruang digital harus dikembalikan fungsinya sebagai ruang dialog ke arah positif terurama, bukan jadi arena perang ego yang usang.

 


Penulis: Nayla Arifa Siregar (1152500103)
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus Surabaya


Dosen Pengampu: Dheny Jatmiko, S. Hum, MA.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses