Dampak Erupsi Gunung Semeru terhadap Masyarakat Sekitar

Dampak Erupsi Gunung Semeru

Mengenai Gunung Semeru yang mengalami erupsi pada hari Sabtu tanggal 4 Desember 2021 pukul 15.00 WIB. Gunung berapi yang terletak di dua kabupaten, yaitu Malang dan Lumajang itu mengeluarkan lava pijar, dan suara gemuruh serta asap pekat berwarna abu-abu.

Dampak erupsi Semeru kali ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tapi juga kerusakan materi, maupun menimbulkan  kecemasan pada masyarakat sekitar.

BPBD Kabupaten Lumajang dan tim gabungan masih meneruskan proses pencarian dan evakuasi warga yang terdampak atau pun yang diperkirakan hilang. Tim gabungan juga berhasil melakukan evakuasi warga yang dilaporkan Wakil Bupati Lumajang terjebak di kantor pemilik tambang.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Mahasiswa Kampus Mengajar Adakan Sosialisasi Mitigasi Bencana untuk Sekolah Dasar

Saat ini para warga telah ditempatkan di Pos Curah Kobokan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. sampai saat ini 41 orang yang mengalami luka-luka bakar  sudah mendapatkan penanganan di Puskesmas Penanggal. Selanjutnya  mereka dirujuk ke RSUD Haryoto dan RS Bhayangkara. Sementara itu, warga yang luka ringan ditangani menggunakan beberapa fasilitas kesehatan.

Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), saat ini Gunung Semeru masih dalam status level 2 atau bisa di artikan dengan  waspada. Adapun pemantauan kondisi udara melalui radar Accuweather Udara mencapai tingkat polusi tinggi dan berdampak negatif bagi lansia, ibu hamil, serta anak yang termasuk kategori rentan.

Saat ini dalam pemantauan situasi Gunung Semeru lebih mudah menggunakan AI. AI yaitu kecerdasan buatan atau artificial intelligence merupakan salah satu bagian ilmu komputer yang membuat agar mesin (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaiknya di lakukan oleh manusia.

Baca Juga: Sekolah Diredam Banjir, Siswa SMP 1 Pragaan Dipulangkan

Dengan adanya AI memudahkan untuk mendeteksi dan mengukur perubahan di sekitar gunung berapi. Dalam hal mendeteksi gunung berapi Telah dibangun aplikasi telemetri suhu untuk menentukan status gunung berapi, dengan prinsip kerja menggunakan sensor SHT11 dan sensor LM35 untuk pembacaan suhu yang selanjutnya digunakan sebagai parameter penentu status gunung berapi.

Sistem telemetri adalah suatu sistem pemantauan jarak jauh yang digunakan untuk pengukuran di daerah-daerah yang sulit dijangkau manusia. Salah satu contoh sistem telemetri. Telemetri gunung berapi bertujuan untuk mengetahui kondisi atau aktivitas gunung berapi. Aktivitas gunung berapi berbahaya bagi masyarakat sekitarnya karena dapat mengeluarkan gas beracun seperti H2S, SO2, CO,NO2 dan CO2, lava dan gempa.

Aktivitas gunung berapi yang berbahaya tersebut menyebabkan gunung berapi perlu dipantau secara berkala. Pemantauan gunung berapi dapat dilakukan dalam beberapa cara yaitu mendatangi gunung, membangun posko pemantauan dan memasang alat untuk mendeteksi aktivitas gunung berapi. Alat pendeteksi aktivitas gunung berapi digunakan untuk mengukur data-data seperti temperatur, kadar racun di udara sekitar kawah solfatara atau danau kawah, gempa dan lain-lain.

Baca Juga: Diskontinuitas Program Mengundang Kembalinya Banjir di DKI Jakarta

Data-data yang dihasilkan dari alat tersebut dipantau melalui dua cara yaitu secara otomatis dan secara manual. sistem pemantauan otomatis menggunakan AI dan data dari berbagai sumber seperti pengindraan jarak jauh atau bisa disebut dengan satelit dan sensor berbasis darat akan membantu untuk memberikan informasi kepada orang-orang dengan cara yang lebih tepat waktu.”

Zharfa Yusrina
Mahasiswa Fakultas Psikologi
Universitas Sarjanawiayata Tamansiswa

Editor: Diana Pratiwi

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI