Artikel ini tidak bermaksud untuk memberikan penilaian atau diagnosis psikologis kepada individu tertentu. Sebaliknya, ini berusaha untuk mengkaji fenomena bunuh diri mahasiswa dari sudut pandang psikologis umum, dengan penekanan pada stres psikologis yang seringkali tidak disadari yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa di universitas.
Kabar bunuh diri siswa tidak baru di media. Kisah-kisah seperti ini muncul dari waktu ke waktu, dengan berbagai alasan, mulai dari stres dan kesulitan di sekolah hingga masalah pribadi. Sayangnya, kasus-kasus ini seringkali hanya dianggap sebagai statistik atau berita cepat, tanpa memahami tingkat stres psikologis yang dialami siswa.
Baca juga: Ngopi Santay, Stress Bye-Bye: Ajak Gen Z Sadar Self-Care dan Kesehatan Mental
Seringkali dianggap sebagai fase kehidupan yang bebas dan menyenangkan untuk menjadi mahasiswa. Tetapi banyak siswa benar-benar stres. Mahasiswa mengalami banyak tekanan karena tuntutan akademik yang tinggi, tujuan untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu, dan harapan dari teman dan keluarga. Stres berubah menjadi kelelahan mental seiring bertambahnya tugas, nilai menjadi sangat penting, dan waktu istirahat semakin jarang.
Tekanan ini tidak selalu terkait dengan pendidikan. Lingkungan sosial kampus dapat menyebabkan masalah juga. Kekerasan dalam bentuk perundungan, pengucilan, atau hubungan yang tidak sehat masih sering terjadi, tetapi tidak selalu terlihat jelas.
Selain itu, ada tekanan dari sistem kampus yang terlihat kaku, tidak ramah, atau tidak peduli dengan kesulitan siswa. Mahasiswa dapat merasa terisolasi, disalahpahami, dan tidak ingin membahas masalah mereka dalam situasi seperti itu.
Masalah pribadi meningkatkan tekanan. Hubungan akademik seringkali disertai dengan konflik keluarga, hubungan asmara, masalah keuangan, dan bahkan kesepian. Bagi beberapa siswa, masalah ini tampaknya terus meningkat. Ini dapat menyebabkan perasaan terisolasi dan putus asa, terutama dalam situasi di mana tidak ada ruang aman untuk berbicara.
Ironisnya, di tengah tekanan, banyak siswa memilih untuk tetap diam. Sampai saat ini, meminta bantuan masih dianggap memalukan atau menunjukkan kelemahan. Mahasiswa yang mengalami Stigma Kesehatan Mental takut dianggap lemah, tidak tahu berterima kasih, atau tidak mampu merawat diri sendiri. Akibatnya, layanan konseling kampus sering diremehkan.
Situasi semakin memburuk karena budaya mahasiswa “kita harus kuat”. Meskipun kata-kata seperti “ini hanya fase” atau “semua orang mengalami kesulitan” seringkali terdengar sederhana, mereka dapat memberi Anda kesan bahwa mereka tidak penting. Siswa akhirnya terbiasa menyembunyikan perasaan mereka dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, sampai mereka kehilangan kendali.
Penting untuk memahami bahwa bunuh diri bukanlah keputusan yang diambil begitu saja. Perilaku seperti itu biasanya dikaitkan dengan tekanan psikologis, putus asa, dan keyakinan bahwa tidak ada jalan keluar lain dalam psikologi. Karena itu, melihat fenomena ini secara eksklusif sebagai masalah individu menghalangi upaya pencegahan yang lebih luas.
Kampanye sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman secara mental. Layanan kesehatan mental yang ramah dan mudah diakses, konselor yang lebih komunikatif, dan kebijakan akademik yang lebih manusiawi dapat menjadi langkah awal yang penting. Namun, siswa harus didorong untuk memperhatikan satu sama lain dan memiliki keberanian untuk terlibat dalam diskusi tentang kesehatan mental tanpa khawatir dikritik.
Bentuk dukungan yang sederhana adalah mendengarkan dan peka terhadap perubahan perilaku teman. Kadang-kadang, hanya hadir dan memperhatikan orang lain sudah cukup untuk membuatnya tidak terlalu sendirian.
Pada akhirnya, kasus bunuh diri mahasiswa tidak boleh hanya angka. Angka-angka ini menunjukkan kisah orang yang menderita penyakit mental yang belum sepenuhnya ditangani. Kami berharap dengan pendekatan yang lebih ramah dan terbuka, kampus akan menjadi tempat aman untuk kemajuan akademik dan kesehatan mental mahasiswa.
Penting untuk dipahami bahwa bunuh diri bukanlah keputusan mendadak. Dalam psikologi, perilaku seperti itu biasanya dikaitkan dengan tekanan psikologis jangka panjang, rasa putus asa, dan keyakinan bahwa tidak ada jalan keluar lain. Oleh karena itu, memandang fenomena ini semata-mata sebagai masalah individu sebenarnya menutup pintu bagi langkah-langkah pencegahan yang lebih luas.
Kampanye memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman secara psikologis. Kebijakan akademik yang lebih manusiawi, konselor yang komunikatif, dan layanan kesehatan mental yang ramah dan mudah diakses dapat menjadi langkah awal yang penting.
Di sisi lain, mahasiswa harus didorong untuk saling peduli dan memiliki keberanian untuk membuka percakapan tentang kesehatan mental tanpa takut dihakimi.
Saling mendengarkan dan peka terhadap perubahan perilaku teman dapat menjadi bentuk dukungan yang sederhana. Terkadang, sekadar hadir dan memperhatikan sudah cukup untuk membuat seseorang merasa tidak terlalu sendirian.
Pada akhirnya, jumlah kasus bunuh diri mahasiswa tidak boleh hanya menjadi statistik semata. Angka-angka ini menceritakan kisah penderitaan mental yang belum sepenuhnya ditangani. Kami berharap dengan pendekatan yang lebih empatik dan terbuka, kampus akan menjadi ruang aman untuk pertumbuhan, tidak hanya dalam hal prestasi akademik tetapi juga dalam hal kesehatan mental mahasiswa.
Penulis: Suci Fitriani Rahayu (202510230110008)
Mahasiswa Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
Aktif juga sebagai:
- Staff Media Creative UKM Sepak Bola UMM 2024-2025
- Department Humas Himatanbu Malang 2024-2025
- Ketua Bidang INFOKOM Himatanbu Malang 2025-2026
Dosen Pengampu: Ary Dwi Purnomo, M.Pd
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












