Dulu Kita Searah, Sekarang Sudah Berbeda Arah

arah berbeda
Ilustrasi Arah Hidup yang Berbeda (Foto: Dok. MMI)

Ada masa ketika dua orang berjalan berdampingan dengan langkah yang sama.

Tujuan terasa jelas, percakapan mengalir tanpa jeda, dan setiap rencana masa depan selalu diawali dengan kata “kita.”

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Saat itu, dunia seolah menjadi tempat yang lebih mudah karena ada seseorang yang berjalan di sisi yang sama.

Namun hidup tidak selalu mempertahankan arah yang sama.

Waktu perlahan mengubah banyak hal.

Kesibukan datang tanpa permisi, prioritas mulai berbeda, dan mimpi yang dulu dirancang bersama mulai bergerak ke tujuan masing-masing.

Tidak ada pertengkaran besar, tidak juga pengkhianatan yang dramatis.

Hanya perubahan kecil yang terus menumpuk hingga akhirnya menciptakan jarak.

Dulu kita searah. Sekarang sudah berbeda arah.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kenyataan yang tidak mudah diterima.

Sebab yang paling menyakitkan bukan selalu kehilangan, melainkan menyadari bahwa seseorang yang pernah begitu dekat kini tidak lagi berjalan bersama kita.

Kadang kita masih mengenang masa-masa ketika semuanya terasa hangat.

Tertawa tanpa alasan, saling mendukung dalam keadaan sulit, hingga percaya bahwa hubungan itu akan bertahan lama.

Tetapi hidup mengajarkan bahwa tidak semua kebersamaan ditakdirkan untuk selamanya.

Ada orang yang hadir untuk menemani sebagian perjalanan, bukan seluruh perjalanan.

Perbedaan arah bukan berarti salah satu harus disalahkan.

Bisa jadi, masing-masing hanya sedang bertumbuh menjadi versi dirinya sendiri.

Ada yang memilih mengejar mimpi, ada yang ingin menemukan ketenangan, dan ada pula yang harus pergi demi masa depan yang dianggap lebih baik.

Menerima kenyataan itu memang tidak mudah.

Hati sering kali masih ingin kembali ke masa lalu, berharap semuanya bisa seperti dulu.

Namun waktu tidak pernah berjalan mundur.

Yang bisa dilakukan hanyalah belajar ikhlas dan memahami bahwa setiap pertemuan selalu membawa pelajaran.

Mungkin dulu kita dipertemukan untuk saling menguatkan.

Mungkin juga untuk mengajarkan arti kehilangan, kedewasaan, dan cara merelakan.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling lama tinggal, tetapi siapa yang pernah memberi makna dalam perjalanan.

Kini jalan kita memang berbeda. Tidak lagi saling menggenggam, tidak lagi saling menunggu.

Tetapi kenangan tetap ada sebagai bagian dari cerita yang pernah indah pada masanya.

Dan meskipun sekarang sudah berbeda arah, setidaknya kita pernah berjalan searah dengan penuh bahagia.


Penulis: Abdul Qosim
Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Yunita Kwartarani, S.Pd., M.Pd.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses