Hubungan Kepercayaan Diri dengan Perilaku Compulsive Buying Pada Remaja

Abstrak

Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola konsumsi masyarakat, khususnya pada kalangan remaja. Kemudahan akses terhadap berbagai platform belanja online memungkinkan individu melakukan pembelian kapan saja dan di mana saja. Kondisi tersebut tidak hanya memberikan manfaat, tetapi juga berpotensi meningkatkan perilaku konsumtif yang berlebihan, salah satunya adalah compulsive buying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan perilaku compulsive buying pada remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel penelitian berjumlah 100 remaja yang diperoleh melalui teknik sampling yang disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala kepercayaan diri dan skala compulsive buying dengan model Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dengan perilaku compulsive buying pada remaja (r = 0,304; p = 0,002). Temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri memiliki keterkaitan dengan kecenderungan perilaku compulsive buying pada remaja. Meskipun hubungan yang ditemukan berada pada kategori rendah hingga sedang, hasil penelitian memberikan gambaran bahwa faktor psikologis memiliki peran dalam membentuk perilaku konsumsi remaja pada era digital.

Kata Kunci: Kepercayaan diri, compulsive buying, remaja, psikologi konsumen, era digital.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Abstract

The rapid development of digital technology has significantly changed consumer behavior, particularly among adolescents. Easy access to online shopping platforms enables individuals to purchase products anytime and anywhere. While this development offers convenience, it also increases the risk of excessive consumer behavior, including compulsive buying. This study aimed to examine the relationship between self-confidence and compulsive buying behavior among adolescents. A quantitative correlational design was employed involving 100 adolescent participants. Data were collected using a self-confidence scale and a compulsive buying scale based on the Likert model. The findings revealed a positive and significant relationship between self-confidence and compulsive buying behavior (r = 0.304; p = 0.002). Although the relationship was categorized as low to moderate, the results indicate that psychological factors play a role in shaping adolescent consumer behavior in the digital era.

Keywords: Self-confidence, compulsive buying, adolescents, consumer psychology, digital era.

 

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam aktivitas konsumsi. Saat ini masyarakat dapat melakukan pembelian berbagai produk melalui aplikasi dan platform digital hanya dengan menggunakan telepon pintar. Kemudahan tersebut memberikan keuntungan berupa efisiensi waktu dan tenaga. Namun di sisi lain, perkembangan teknologi juga mendorong munculnya perilaku konsumtif yang semakin tinggi, khususnya pada kelompok remaja..

Remaja merupakan kelompok usia yang sedang berada pada tahap perkembangan penting dalam pembentukan identitas diri. Menurut (Santrock, 2018) masa remaja merupakan periode transisi yang ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, sosial, dan emosional yang cukup kompleks. Dalam proses tersebut, remaja cenderung lebih memperhatikan penampilan, status sosial, dan penerimaan dari lingkungan sekitarnya. Kondisi ini menyebabkan remaja lebih rentan mengikuti tren yang berkembang dalam masyarakat.

Salah satu fenomena yang banyak ditemukan pada remaja saat ini adalah perilaku compulsive buying. (Black, 2007) menjelaskan bahwa compulsive buying merupakan perilaku membeli secara berulang dan sulit dikendalikan sehingga dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi individu. Individu yang mengalami compulsive buying biasanya melakukan pembelian bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan karena dorongan emosional yang kuat. Setelah melakukan pembelian, individu sering kali merasakan kepuasan sesaat yang kemudian diikuti oleh rasa bersalah atau penyesalan.

Salah satu faktor psikologis yang diduga memiliki hubungan dengan perilaku compulsive buying adalah kepercayaan diri. (Lauster, 2012) menyatakan bahwa kepercayaan diri merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimilikinya sehingga mampu bertindak secara efektif tanpa mengalami kecemasan yang berlebihan. Individu yang memiliki kepercayaan diri yang baik cenderung memiliki pandangan positif terhadap dirinya dan mampu bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.

Hubungan antara kepercayaan diri dan compulsive buying menjadi penting untuk dikaji karena pada masa remaja individu sedang berusaha membangun identitas diri. (Helga Dittmar, 2005) menjelaskan bahwa aktivitas membeli tidak hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk membangun identitas diri serta memperoleh pengakuan sosial. Oleh karena itu, penelitian mengenai hubungan kedua variabel tersebut menjadi relevan untuk dilakukan dalam konteks psikologi konsumen pada era digital.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Metode ini digunakan karena mahasiswa ingin mengetahui hubungan antara variabel kepercayaan diri dengan perilaku compulsive buying pada remaja. Responden dalam penelitian ini berjumlah 100 remaja. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditentukan oleh mahasiswa. Data penelitian dikumpulkan menggunakan kuesioner yang terdiri dari dua variabel, yaitu kepercayaan diri (X) dan perilaku compulsive buying (Y).

Variabel kepercayaan diri terdiri dari 10 item pernyataan, sedangkan variabel perilaku compulsive buying terdiri dari 10 item pernyataan. Setiap item menggunakan skala Likert dengan lima alternatif jawaban, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, dan sangat setuju. Analisis data dilakukan menggunakan program SPSS. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, mahasiswa terlebih dahulu melakukan uji validitas, uji reliabilitas, dan uji normalitas. Setelah seluruh syarat terpenuhi, mahasiswa melakukan uji korelasi Pearson Product Moment untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel penelitian.

 

HASIL PENELITIAN

Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian

Berdasarkan hasil analisis deskriptif, variabel kepercayaan diri memiliki nilai rata-rata sebesar 29,73 yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat kepercayaan diri pada kategori sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa responden cukup yakin terhadap kemampuan yang dimiliki, mampu menilai dirinya secara positif, serta memiliki keyakinan yang cukup baik dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan. Sementara itu, variabel compulsive buying memiliki nilai rata-rata sebesar 31,76 yang juga berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian responden memiliki kecenderungan melakukan pembelian yang tidak sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan, meskipun perilaku tersebut belum tergolong tinggi.

Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas

Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa instrumen compulsive buying memiliki tingkat reliabilitas yang cukup baik dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,617. Sementara itu, instrumen kepercayaan diri memperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,326 yang menunjukkan konsistensi internal masih rendah. Oleh karena itu, pada penelitian selanjutnya diperlukan penyempurnaan item agar instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang lebih tinggi.

Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wil

Berdasarkan hasil uji normalitas Shapiro-Wilk, kedua variabel memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal sehingga memenuhi salah satu asumsi penggunaan analisis parametrik, yaitu korelasi Pearson Product Moment.

Tabel 4. Hasil Uji Korelasi Pearson Product Moment

Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,304 dengan nilai signifikansi sebesar 0,002 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dengan perilaku compulsive buying pada remaja. Dengan demikian hipotesis penelitian diterima.

 

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dengan perilaku compulsive buying pada remaja (r = 0,304; p = 0,002). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kepercayaan diri yang dimiliki responden, maka kecenderungan perilaku compulsive buying juga cenderung meningkat. Meskipun kekuatan hubungan yang ditemukan berada pada kategori rendah hingga sedang, hasil ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri merupakan salah satu faktor psikologis yang berkaitan dengan perilaku konsumsi pada remaja.

Masa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai dengan pencarian identitas diri, peningkatan kebutuhan akan penerimaan sosial, serta pembentukan konsep diri yang lebih stabil. Menurut (Santrock, 2018) remaja cenderung lebih sensitif terhadap penilaian lingkungan sosial sehingga sering berusaha menampilkan citra diri yang positif di hadapan orang lain. Dalam proses tersebut, berbagai simbol konsumsi seperti pakaian bermerek, produk kecantikan, aksesori, maupun barang elektronik sering digunakan sebagai sarana untuk menunjukkan identitas diri dan meningkatkan status sosial di lingkungan pertemanan.

Temuan penelitian ini dapat dijelaskan melalui teori konsumsi simbolik yang dikemukakan oleh (Helga Dittmar, 2005). Dittmar menjelaskan bahwa perilaku membeli tidak hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan psikologis seperti peningkatan harga diri, pencitraan diri, dan kebutuhan akan penerimaan sosial. Dalam konteks remaja, kepemilikan barang tertentu sering dianggap mampu meningkatkan rasa percaya diri sehingga mendorong individu untuk melakukan pembelian lebih sering dibandingkan kebutuhan sebenarnya.

Selain itu, perkembangan teknologi digital juga menjadi faktor yang memperkuat hubungan tersebut. Saat ini remaja hidup dalam lingkungan yang sangat dekat dengan media sosial. Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan Shopee tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga menjadi media promosi yang sangat efektif. Remaja setiap hari terpapar oleh konten influencer, tren fashion, rekomendasi produk, serta gaya hidup konsumtif yang dapat memengaruhi keputusan pembelian mereka. Kondisi ini membuat perilaku konsumsi menjadi bagian dari cara remaja membangun identitas diri dan memperoleh pengakuan sosial.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kepercayaan diri tidak selalu berperan sebagai faktor protektif terhadap perilaku compulsive buying. Pada beberapa kondisi, individu yang memiliki kepercayaan diri cukup tinggi justru dapat terdorong untuk mempertahankan citra dirinya melalui konsumsi berbagai produk yang dianggap mampu menunjang penampilan dan status sosialnya. Fenomena ini sesuai dengan pendapat (Helga Dittmar, 2005) yang menjelaskan bahwa aktivitas konsumsi sering digunakan sebagai sarana ekspresi diri dan pembentukan identitas sosial.

Di sisi lain, hasil penelitian ini berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menemukan hubungan negatif antara kepercayaan diri dan compulsive buying. Perbedaan hasil tersebut dapat disebabkan oleh karakteristik responden, perkembangan teknologi digital, budaya konsumsi yang berbeda, serta pengaruh media sosial yang semakin kuat pada generasi remaja saat ini. Oleh karena itu, perilaku compulsive buying tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal seperti kepercayaan diri, tetapi juga oleh berbagai faktor eksternal seperti konformitas teman sebaya, materialisme, kontrol diri, dan intensitas penggunaan media sosial.

Berdasarkan temuan penelitian, dapat dipahami bahwa perilaku compulsive buying pada remaja merupakan fenomena yang kompleks dan multidimensional. Kepercayaan diri memang memiliki hubungan dengan perilaku tersebut, namun bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dalam memahami perilaku konsumsi remaja agar dapat membantu mereka mengembangkan pola konsumsi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai hubungan kepercayaan diri dengan perilaku compulsive buying pada remaja, dapat disimpulkan bahwa tingkat kepercayaan diri responden berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata sebesar 29,73. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja dalam penelitian memiliki keyakinan yang cukup baik terhadap kemampuan dirinya sendiri, mampu memandang dirinya secara positif, serta memiliki tingkat optimisme yang cukup dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Kepercayaan diri yang dimiliki responden juga menggambarkan bahwa mereka telah memiliki kemampuan yang cukup baik dalam menilai potensi diri, meskipun masih terdapat beberapa individu yang menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang relatif rendah.

Selain itu, perilaku compulsive buying pada responden juga berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata sebesar 31,76. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki kecenderungan melakukan pembelian yang tidak sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan, tetapi juga dipengaruhi oleh keinginan, faktor emosional, serta pengaruh lingkungan sosial. Meskipun tingkat compulsive buying yang ditemukan belum termasuk kategori tinggi, hasil tersebut tetap menunjukkan adanya kecenderungan perilaku konsumtif yang perlu mendapatkan perhatian, terutama karena remaja merupakan kelompok usia yang sangat mudah terpengaruh oleh perkembangan teknologi, media sosial, tren gaya hidup, dan kelompok teman sebaya.

Hasil pengujian hipotesis menggunakan analisis korelasi Pearson Product Moment menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dengan perilaku compulsive buying pada remaja dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,304 dan nilai signifikansi sebesar 0,002 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri memiliki hubungan dengan perilaku compulsive buying pada remaja. Meskipun hubungan yang ditemukan berada pada kategori rendah hingga sedang, temuan ini memberikan gambaran bahwa aspek psikologis individu turut berperan dalam membentuk perilaku konsumsi yang dilakukan oleh remaja.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku pembelian pada remaja tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan fungsional terhadap suatu produk, tetapi juga dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis dan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, remaja sering menggunakan berbagai produk sebagai sarana untuk mengekspresikan diri, membangun identitas, meningkatkan citra diri, serta memperoleh pengakuan dari lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, aktivitas konsumsi sering kali memiliki makna simbolis yang lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini semakin diperkuat oleh perkembangan media sosial yang memungkinkan remaja terus-menerus terpapar berbagai informasi mengenai tren, gaya hidup, dan produk-produk yang sedang populer.

Penelitian ini juga memberikan pemahaman bahwa perilaku compulsive buying merupakan fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kepercayaan diri memang memiliki hubungan dengan perilaku compulsive buying, namun bukan merupakan satu-satunya faktor yang memengaruhinya. Faktor lain seperti kontrol diri, konformitas teman sebaya, materialisme, gaya hidup, kondisi emosional, serta intensitas penggunaan media sosial juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap munculnya perilaku compulsive buying pada remaja. Oleh karena itu, pemahaman mengenai perilaku konsumsi remaja perlu dilakukan secara lebih komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai faktor psikologis maupun sosial yang saling berkaitan.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu psikologi, khususnya dalam bidang psikologi perkembangan dan psikologi konsumen, dengan menunjukkan bahwa kepercayaan diri memiliki keterkaitan dengan perilaku compulsive buying pada remaja. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi upaya edukasi dan intervensi yang bertujuan untuk membantu remaja mengembangkan perilaku konsumsi yang lebih sehat, rasional, dan bertanggung jawab. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya untuk mengkaji faktor-faktor lain yang berkaitan dengan perilaku compulsive buying sehingga diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai perilaku konsumsi remaja di era digital.

 

UCAPKAN TERIMA KASIH

Puji syukur mahasiswa panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, karunia, dan kasih sayang-Nya sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan artikel penelitian yang berjudul “Hubungan Kepercayaan Diri dengan Perilaku Compulsive Buying pada Remaja” dengan baik dan tepat waktu. Proses penyusunan penelitian ini tentunya tidak terlepas dari berbagai bantuan, dukungan, serta bimbingan dari banyak pihak yang telah memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Oleh karena itu, mahasiswa ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Desi Ariyani. S.Psi., M.Si selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan arahan, masukan, serta bimbingan selama proses penyusunan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga mahasiswa sampaikan kepada seluruh dosen Program Studi Psikologi yang telah memberikan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan wawasan yang sangat bermanfaat selama masa perkuliahan sehingga menjadi bekal bagi mahasiswa dalam melaksanakan penelitian ini.

Mahasiswa juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh responden yang telah bersedia meluangkan waktu untuk berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner yang diberikan. Tanpa kesediaan dan kerja sama para responden, penelitian ini tidak akan dapat terlaksana dengan baik. Selain itu, mahasiswa menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada kedua orang tua dan keluarga yang selalu memberikan doa, dukungan, motivasi, serta semangat selama proses perkuliahan hingga penyusunan penelitian ini selesai.

Tidak lupa, kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan bantuan, dukungan, dan motivasi selama proses penyusunan penelitian. Berbagai masukan, saran, serta semangat yang diberikan menjadi salah satu faktor yang membantu mahasiswa dalam menyelesaikan penelitian ini.

Mahasiswa menyadari bahwa penelitian ini masih memiliki keterbatasan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, mahasiswa sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai bahan evaluasi dan perbaikan untuk penelitian selanjutnya. Akhir kata, mahasiswa berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu psikologi, khususnya dalam memahami hubungan antara kepercayaan diri dengan perilaku compulsive buying pada remaja, serta dapat menjadi referensi bagi penelitian-penelitian berikutnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Black, D. W. (2007). A review of compulsive buying disorder. World Psychiatry, 6(1), 14–18.
  • Helga Dittmar. (2005). Compulsive Buying – A Growing Concern? An Examination of Gender, Age, and Endorsement of Materialistic Values as Predictors. . British Journal of Psychology, 96(4), 467–497.
  • Lauster. (2012). Tes Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Santrock, J. W. (2018). Life-Span Development (Perkembangan Masa Hidup). Jakarta: Erlangga.

Penulis:
– Ais Firza Hamid
– Afifah Azzahra
– Ainun Aulia Sari
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


Dosen Pengampu: Desi Ariyani, S.Psi., M.Si.


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses