Dollar Naik, Rupiah Melemah: Benarkah Masyarakat Desa Tidak Terdampak?

dampak kenaikan dollar
Dollar Naik, Rupiah Melemah: Benarkah Masyarakat Desa Tidak Terdampak? Sumber: MMI.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir yang diakibatkan oleh berbagai faktor global. Nilai tukar rupiah mencapai Rp17.905 di akhir bulan Juni 2026, bahkan  sempat menyentuh kisaran Rp18.190 di awal Juni 2026.

Terdapat kemungkinan bahwa nilai tukar dollar akan terus meningkat apabila faktor-faktor yang mendorong penguatannya belum menunjukkan perbaikan. Kondisi inilah yang menimbulkan kekhawatiran karena berpengaruh ke harga barang, biaya produksi, dan stabilitas ekonomi nasional.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Ketika dollar menguat, harga barang impor menjadi lebih mahal, sedangkan Indonesia masih mengimpor berbagai kebutuhan penting seperti bahan bakar, bahan baku industri, mesin, hingga sebagian bahan untuk pupuk, dan pakan ternak.

Menanggapi isu tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dollar dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak perlu khawatir terhadap kenaikan nilai tukar dollar. Pernyataan ini dinyatakan ketika peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa di Kabupaten Nganjuk.

Secara langsung, pernyataan Presiden Prabowo memiliki dasar yang kuat. Sebagian besar masyarakat desa memang melakukan transaksi menggunakan rupiah, baik untuk membeli kebutuhan sehari-hari ataupun menjual hasil pertanian.

Baca Juga: Kepercayaan Generasi Z di Kudus pada Pemerintah dengan Melemahnya Nilai Rupiah terhadap Dollar

Akan tetapi, dampak tersebut dapat dirasakan melalui kenaikan harga sarana produksi pertanian seperti pupuk, pestisida, benih, pakan ternak, dan peralatan pertanian yang berpotensi mengalami kenaikan harga karena adanya komponen impor dalam proses produksinya bagi masyarakat desa, khususnya petani.

Menurut saya, pernyataan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dollar memang benar secara harfiah, akan tetapi kurang tepat apabila digunakan untuk menyimpulkan bahwa mereka tidak terdampak oleh kenaikan dollar karena dalam kenyataannya, masyarakat desa tetap menjadi bagian dari sistem ekonomi nasional yang terhubung dengan pasar global.

Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya perlu menjaga stabilitas niai tukar rupiah tetapi juga memperkuat sektor pertanian dan industri dalam negeri agar tidak selalu bergantung pada bahan impor.

Baca Juga: Dolar AS Menggila! Ini Penyebab dan Dampaknya terhadap Ekonomi Indonesia

Selain itu, pemerintah perlu memberikan perhatian melalui kebijakan yang dapat mendukung ketersediaan pupuk, stabilitas harga hasil pertanian, dan akses teknologi yang lebih baik.

Kenaikan dollar memang tidak terdampak secara langsung terhadap transaksi masyarakat desa karena mereka menggunakan rupiah dalam aktivitas sehari-hari, namun dampak tidak langsung dapat dirasakan melalui kenaikan biaya produksi, harga kebutuhan produk, dan tekanan inflasi. Oleh karena itu, masyarakat desa tidak sepenuhnya terlepas dari pengaruh menguatnya dollar.


Penulis: Ayu Ningtyas Budianti
Mahasiswa Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses