Tangan kecil itu berkacak pinggang, matanya menatap tajam, lalu sebuah kalimat bernada tinggi meluncur bebas dari bibir seorang anak berusia lima tahun kepada gurunya. Di sudut lain, media sosial kerap dihebohkan oleh berita viral mengenai siswa sekolah dasar hingga menengah yang berani membentak, melawan, bahkan melakukan tindakan fisik yang kurang pantas kepada tenaga pendidik mereka.
Sebagai seorang tenaga pendidik, fenomena ini bukan lagi sekadar judul berita di layar gawai, melainkan sebuah kenyataan pahit yang mulai tampak dan lumrah dijumpai dalam keseharian. Gen Alpha, generasi yang lahir di dalam dekapan penuh teknologi sejak tahun 2010, sedang mengalami pergeseran nilai etika, sikap, dan sopan santun yang mengkhawatirkan terhadap orang yang lebih tua.
Baca Juga: Generasi Z dan Alpha: Tantangan Pendidik di Era Digital
Tantangan Pembentukan Karakter di Era Digital
Secara nyata, komitmen dalam menjaga moralitas anak di sekolah sebenarnya telah diatur dalam regulasi formal. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mengintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) ke dalam kurikulum guna membentuk pelajar yang berakhlak mulia.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangannya jauh lebih kompleks daripada sekadar teks kurikulum. Anak-anak zaman sekarang tumbuh dalam paparan arus informasi digital tanpa filter.
Ketika gawai menjadi pengasuh kedua, interaksi sosial secara nyata mulai terkikis sehingga benang batas antara hal yang tabu dan hal yang wajar menjadi bias di mata mereka.
Baca Juga: Waspada Kecanduan Gawai, Nomophobia Mengancam Kesehatan Mental!
Anak Belajar dari Keteladanan, Bukan Sekadar Nasihat
Penurunan kesopanan ini tidak bisa langsung kita timpakan sebagai kesalahan mutlak di pundak anak-anak. Adalah sebuah opini yang keliru jika kita menganggap Gen Alpha sebagai “generasi yang sulit diatur”. Mereka adalah peniru yang sangat ulung. Apa yang mereka ekspresikan merupakan perwujudan dari apa yang mereka lihat, dengar, dan serap di lingkungan sekitarnya, terutama dari orang dewasa.
Saat orang tua atau orang-orang di sekitar mereka terbiasa berbicara kasar, meremehkan orang lain, atau sibuk dengan dunia digitalnya sendiri tanpa memedulikan etika berkomunikasi, anak-anak akan merekam dan mempraktikkannya sebagai sebuah standar kebenaran baru.
Contoh nyata dari fenomena ini sering kali terlihat dari hal-hal kecil di lingkungan sekolah. Misalnya, budaya sederhana seperti mengucapkan “tolong” saat meminta bantuan, “terima kasih” setelah menerima sesuatu, dan “maaf” saat melakukan kesalahan kini mulai memudar dan jarang terdengar dari lisan anak-anak jika tidak dipicu secara terus-menerus oleh guru.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Jawabannya kembali pada pola asuh dan lingkungan. Ketika anak-anak melihat orang dewasa di sekitar mereka mengabaikan etika dasar tersebut dalam interaksi sehari-hari, baik di rumah maupun di ruang publik, kata-kata nasihat yang kita berikan di kelas akan kehilangan kekuatannya. Anak tidak belajar dari apa yang kita katakan, melainkan dari apa yang kita lakukan.
Baca Juga: Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak di Lingkungan Keluarga
Keteladanan sebagai Kunci Pendidikan Moral
Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum ini untuk melek bersama dan menyadari pentingnya penanaman nilai moral sejak dini. Kita sebagai orang dewasa, baik sebagai orang tua, guru, kakak, maupun anggota masyarakat, memiliki peran yang sangat krusial dan tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
Kesadaran etika ini tidak akan pernah terwujud secara nyata jika kita hanya pandai mendikte melalui deretan kata-kata dan larangan. Langkah persuasif yang paling efektif adalah memberikan keteladanan langsung melalui tindakan nyata. Berikan contoh bagaimana menghormati orang lain, bagaimana mendengarkan saat orang lain berbicara, dan bagaimana mengelola emosi dengan bijak.
Mulailah dari diri kita sendiri, di depan mata mereka, sekarang juga. Sebab, satu tindakan nyata bergema jauh lebih kuat dalam memori anak dibandingkan sejuta nasihat tanpa keteladanan.
Referensi Pendukung (Etika Akademik)
Kemendikbudristek RI. (2017). Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Jakarta.
Lubis, R. R., & Azmi, F. (2021). Analisis Degradasi Moral dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Etika Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 112–120.
Penulis: Revana Aulia Febriyanti
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Siliwangi
Dosen Pengampu: Dr. Asep Samsudin, M.Pd.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












