Seberapa sering kita benar-benar hidup di dunia nyata, dan bukan di layar ponsel?
Rata-rata, banyak dari kita menghabiskan sekitar enam jam sehari di depan ponsel pintar—untuk bekerja, berkomunikasi, hiburan, hingga menjelajah media sosial.
Ironisnya, di balik kenyamanan dan konektivitas global yang kita nikmati, muncul bayangan gelap yang kini diakui sebagai masalah kesehatan mental dan sosial: Nomophobia.
Nomophobia, akronim dari “no mobile phone phobia” (fobia tanpa ponsel), adalah kondisi psikologis modern yang ditandai dengan rasa takut atau cemas yang intens ketika seseorang tidak dapat mengakses atau menggunakan ponselnya.
Kekhawatiran ini meluas, bukan hanya saat ponsel tertinggal, tetapi juga ketika baterai hampir habis, kehabisan kuota data, atau berada di zona tanpa sinyal.
Kondisi ini kini semakin diakui sebagai kecanduan perilaku (behavioral addiction) yang memiliki implikasi serius terhadap kesehatan mental, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda.
Data menunjukkan bahwa nomophobia adalah masalah yang sangat umum. Mengutip dari tempo, terdapat 2.100 orang dewasa menunjukkan bahwa 53 persen peserta mengalami nomophobia pada tingkat tertentu.
Baca Juga: Pengaruh Penggunaan Gawai terhadap Penurunan Minat Baca Anak di Usia Dini
Nomophobia bermanifestasi melalui serangkaian gejala yang mengkhawatirkan ketika terpisah dari perangkat seluler.
Gejala fisiknya meliputi: kecemasan, agitasi, takikardia (detak jantung cepat), gemetar, disorientasi, dan bahkan serangan panik.
Sering kali, gejala-gejala ini tumpang tindih dengan gangguan kecemasan lainnya, yang membuat diagnosis menjadi kompleks.
Faktor psikologis seperti neurotisisme, impulsivitas, dan FoMO (Fear of Missing Out)—rasa takut ketinggalan informasi—sangat erat kaitannya dengan peningkatan kerentanan terhadap nomophobia.
Fenomena mengecek ponsel berulang kali tanpa alasan yang jelas atau hanya karena “gabut” (tidak ada pekerjaan) adalah penanda awal bahwa kita sedang ditarik ke dalam lingkaran kecanduan ini.
Jika kecanduan ini hanya mengenai ponsel, mungkin dampaknya hanya pada individu.
Namun, nomophobia telah dikategorikan sebagai patologi sosial yang kompleks karena dampaknya yang meluas pada interaksi sosial dan tatanan masyarakat.
Baca Juga: Mental Illness : Candu Gawai dan Media Sosial Penyebabnya
Individu dengan nomophobia menunjukkan kecenderungan untuk:
- Mengalami kecemasan sosial yang lebih tinggi: Mereka merasa lebih aman dan terkontrol dalam interaksi daring (online) daripada tatap muka (offline).
- Kesulitan membangun hubungan nyata: Ketergantungan pada komunikasi virtual mengikis kemampuan untuk membangun koneksi yang sehat dan mendalam di dunia nyata.
- Memperburuk isolasi: Meskipun ponsel bertujuan menghubungkan, kecanduan yang berlebihan justru dapat mendorong individu menjauhi interaksi fisik, memperburuk kesepian, yang ironisnya, merupakan salah satu pemicu utama nomophobia
Nomophobia adalah konsekuensi dari stres, kesepian, dan kecemasan sosial yang diperburuk oleh ciri-ciri kepribadian dan perilaku digital tertentu.
Oleh karena itu, penanganannya tidak hanya tentang memutus hubungan, tetapi tentang membangun kebiasaan teknologi yang lebih sehat.
Langkah-langkah yang dapat diambil untuk melawan nomophobia:
- Batasi penggunaan berlebihan: Tentukan waktu atau tempat bebas ponsel (misalnya, di meja makan atau 30 menit sebelum tidur).
- Alihkan perhatian ke kegiatan offline produktif: Alihkan energi dari layar ke aktivitas yang membangun relasi nyata dan skill pribadi, seperti bergabung dengan klub buku atau diskusi, melakukan olahraga atau aktivitas fisik, mencoba hobi kreatif (melukis, menulis, bermusik), atau bisa menghadiri seminar atau workshop untuk membangun jejaring secara langsung.
Baca Juga: Patologi Sosial: Membaca Fenomena Kota lewat Teori Sosial dan Psikologi
Kesimpulannya, nomophobia adalah alarm keras bagi masyarakat digital kita. Untuk melindungi kesehatan mental dan kualitas interaksi sosial, kita harus menyadari bahwa ponsel adalah alat, bukan oksigen.
Mengendalikan gawai dan memperkuat koneksi di dunia nyata adalah kunci untuk keluar dari ancaman kecemasan digital ini.
Bagaimana menurut Anda, kegiatan offline apa yang paling efektif untuk menggantikan waktu scrolling di ponsel?
Penulis: Eka Vindana Dulasta
Mahasiswa Prodi Tasawuf dan Psikoterapi, UIN Sunan Ampel Surabaya
Dosen Pengampu:
1. Dra. Khodijah, M.Si.
2. Ahmad Khoirudin, S.Ag., M.Psi. (Asisten Dosen)
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












