Mental Illness : Candu Gawai dan Media Sosial Penyebabnya

Seiring dengan perkembangan dunia yang sangat pesat baik teknologi, sosial budaya ataupun pola pemikiran manusia. Tantangan dan persaingan pun sangat ketat di era saat ini yang tak bisa dipungkiri menghasilkan berbagai masalah dalam kesehatan fisik maupun mental. Dilansir dari medcom.id (11/06/2019) jenis-jenis gangguan mental sendiri setidaknya kurang lebih 300 jenis yang terdaftar dalam The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5 (DSM-5) maupun International Classification of Diseases 10th Edition (ICD-10) yang terbagi atas 10 kategori (F0 – F9).

Mental illness adalah salah satu gangguan mental. Gangguan mental yang mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Gangguan ini bisa dialami oleh siapa saja terutama di kalangan milenial dan membuat penderita sulit untuk mengetahui perilaku yang dianggap normal dan tidak.

Penyebab terjadinya Mental illness ini muncul oleh banyak faktor, bisa karena stress yang terlalu lama, depresi karena mengalami tekanan yang dalam terhadap mental, traumatik akan kehilangan sesuatu dan seseorang, kelainan otak, faktor genetik. Tekanan batin karena lingkungan sekitar atau orang tua, kurang perhatian, broken home dan masih banyak lagi.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya maupun orang lain itu menderita mental illness. Oleh karena itu masih banyak orang Indonesia yang beranggapan bahwa orang-orang yang mengunjungi psikiater atau psikolog hanya orang-orang yang stress saja. Padahal semua orang berhak untuk memeriksakan kondisi kesehatan mental

Penggunaan gawai dan media sosial juga menjadi sebab gangguan ini. Gawai menjadi salah satu barang yang tidak lepas dari genggaman kita ke mana pun kita pergi. Mau ke toilet ataupun saat berkumpul bersama teman-teman, memainkan gawai seperti hal wajib yang harus dilakukan.

Tak hanya orang dewasa yang dapat kecanduan gawai, anak remaja hingga usia balita saat ini sudah tidak asing dengan penggunaan gawai. Awalnya orang tua hanya menjadikan gawai sebagai alat untuk menenangkan anaknya ketika sedang rewel, namun dari hal tersebut membentuk kebiasaan pola asuh orangtua dan menyebakan candu akan gawai pada anak.

Kecanduan tentu tidak baik untuk kesehatan fisik dan juga jiwa. Ditambah dengan media sosial yang menambah beban pikiran terkait gaya hidup ideal yang sejatinya tidak seindah kenyataan.

Media sosial telah lama diketahui bisa menyebabkan masalah bagi seseorang. Beragam dampak mulai gangguan psikologi hingga masalah fisik bisa terjadi ketika kamu terlalu banyak bermain media sosial. Dilansir dari merdeka.com (21/08/2019) Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa ternyata terdapat bahaya lebih banyak dari penggunaan media sosial ini dibanding yang selama ini diketahui.

“Hasil temuan kami menyatakan bahwa media sosial sendiri sesungguhnya tidak menyebabkan masalah. Namun penggunaannya secara sering bisa mengganggu aktivitas yang memiliki dampak positif pada kesehatan mental seperti tidur dan berolahraga. Selain itu, hal ini juga meningkatkan paparan anak muda pada konten berbahaya, terutama pengalaman negatif dari bullying di dunia siber,” ungkap Russel Viner, peneliti dari UCL Great Ormond Street Institute of Child Health.

Maka dari itu, perlunya keseimbangan dalam menggunakan gawai dan juga media sosial. Ada baiknya jika kita mengganti media sosial yang dulunya sebagai tempat curahan hati dengan menceritakan kepada seseorang yang kita percaya dan mau mendengarkan. Selain itu, menjaga kesehatan fisik dengan mengubah pola hidup yang lebih sehat juga dapat membantu mengatasi gangguan mental ini.

Aisyah
Mahasiswi Universitas Negeri Semarang

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI