Abstrak
Pengendalian diri merupakan kemampuan individu untuk mengatur pikiran, emosi, dan perilaku agar tetap selaras dengan nilai, norma, serta tujuan yang ingin dicapai. Kemampuan ini memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari karena membantu seseorang menghadapi berbagai tekanan, godaan, maupun konflik yang muncul dalam lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemahaman hadis tentang kesabaran dan pengendalian diri dengan kondisi psikososial seorang ibu. Dalam kehidupan keluarga, ibu memiliki peran yang sangat penting dalam mengelola berbagai tuntutan dan tantangan yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis maupun sosialnya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendeketan korelasional ,metode korelasional bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara dua atau lebih variabel tanpa melakukan manipulasi terhadap variabel terse-but. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan terhadap responden yang berstatus sebagai ibu, diperoleh bahwa tingkat pemahaman hadis tentang kesabaran dan pengendalian diri berada pada kategori sedang hingga tinggi. Sebagian besar responden menunjukkan pemahaman yang baik terhadap nilai-nilai kesabaran dalam menghadapi berbagai permasalahan keluarga, pengasuhan anak, serta interaksi sosial di lingkungan sekitar. Penelitian kuantitatif merupakan pende-katan yang berfokus pada pengumpulan dan analisis data numerik untuk memahami feno-mena dan menarik kesimpulan yang objektif. (Aida, A., Hermina, d., & Norlaila, N, 2025)
Kata kunci: Pemahaman hadis, Kesabaran, Pengendalian diri, Psikososial, Ibu.
Introduction (Pendahuluan)
Hadits merupakan salah satu sumber ajaran Islam yang memiliki kedudukan penting setelah Al-Qur‟an. Hadis berisi segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang menjadi pedoman hidup bagi umat Islam dalam menjalankan ajaran agama secara menyeluruh. Melalui hadis, umat Islam dapat memahami penjelasan dan penerapan ajaran Al-Qur‟an dalam kehidupan sehari-hari. (Khusniati, 2018)
Kajian terhadap hadis menjadi bagian penting dalam ilmu keislaman karena berfungsi untuk menelusuri keaslian, makna, serta konteks dari sabda Nabi SAW. Dalam perkembangannya, hadis tidak hanya dipelajari dari segi isi (matan), tetapi juga dari segi periwayatannya (sanad), sehingga keaslian dan kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. (Hasanah, 2026).
Emosi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Melalui emosi, seseorang dapat merasakan kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, cinta, maupun kemarahan. Emosi berfungsi sebagai respon alami terhadap berbagai situasi yang dihadapi manusia dalam kehidupannya.
Namun, ketika emosi tidak terkendali, ia dapat menjadi sumber masalah, baik dalam hubungan sosial, kesehatan mental, maupun spiritual. Dalam perspektif Islam, pengendalian emosi, khususnya amarah, tidak hanya dilihat sebagai upaya psikologis untuk menjaga kestabilan diri, tetapi juga sebagai bentuk pengendalian spiritual yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan seseorang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Al-Qur’an memberikan banyak penekanan tentang pentingnya menahan amarah dan menggantinya dengan sikap sabar serta memaafkan kesalahan orang lain.
Salah satu ayat yang sangat terkenal adalah QS. Ali Imran ayat 134 yang menjelaskan bahwa orang-orang yang menahan amarah dan memberi maaf termasuk golongan orang bertakwa yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan demikian, pengendalian amarah bukan sekadar kemampuan untuk menahan diri, tetapi juga merupakan bagian dari proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang menumbuhkan kedamaian batin. (Bustaman, M. A)
Di era modern ini banyak kita temukan fenomena sosial dalam kehidupn sehari-hari yang menunjukan bahwa praktik keagamaan kerap berhadapan dengan realitas sosial yang beragam dan kompleks. Salah satu contohnya terlihat ketika imam atau jamaah harus menyesuaikan pelaksanaan ibadah dengan kondisi sekitar.
Misalnya, saat terdengar tangisan bayi di masjid, sebagian jamaah merasa terganggu, sementara ibu yang membawa anak merasa gelisah. Situasi ini memperlihatkan adanya dinamika sosial dan emosional yang saling berkaitan antara ibadah individu, kenyamanan jamaah, dan kebutuhan anak.
Fenomena ini menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, sebab setiap praktik keagamaan selalu berlangsung dalam ruang dan waktu yang melibatkan interaksi antarindividu. Dengan demikian, ibadah tidak berdiri secara kaku, melainkan senantiasa berinteraksi dengan realitas kemanusiaan yang menuntut adanya sikap bijaksana, toleransi, serta pemahaman bahwa ajaran agama hadir untuk memudahkan dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan bersama (Ulil albab, 2025)
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami ulang bagaimana konteks pegendalian diri dalam lingkungan sosial. Serta memahami dan merumuskan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan bagaimana fokus kita untuk menghadapi persoalan yang akan terjadi agar tentap relevan dengan hadist Nabi. Urgensi penelitian ini teletak pada kepentigan psikologis seorang ibu.
Methods (Metode)
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka (library research). Focus utama dalam teks, dokumen, dalam kematagan psikososial fokus pada regulasi emosi mandiri, impulsivitas, pada interaksi sosial fokus pada manajemen konflik interpersonal, komunikasi asertif, dan penjagaan etika sosial saat krisis.
Data dan Sumber data
- Sumber data primer: Hadits Shahih Al-Bukhari No. 709 – Kitab AdzanBab Siapa yang Memperpendek Shalat Ketika Anak Menangis Al-Bukhari. (2002). Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir, Muslim ibn al-Hajjaj (2006). Sahih Muslim. Riyadh: Darussalam, Imam an-Nawawi. (2007). Riyadhus Shalihin. Riyadh: Darussalam, Hadits Shahih Muslim No. 2608 – Kitab Kebaikan, Silaturahmi dan Etika, Bab Keutamaan Mengendalikan Diri Saat Marah Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir, Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, Imam An-Nawawi. Riyadhus Shalihin dan syarahnya, bab tentang kesabaran (Kitab al-Shabr).
- Sumber skunder: Jurnal ilmiah, artikel, buku-buku mengenai psikologi.
Result (Hasil)
Berdasarkan analisis data yang dilakukan penelitian ini menemukan bahwa lingkungan sosial mwmiliki pengaruh yang signifikan terhadap beban psikologis seorang ibu. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekspektasi Masyarakat yang tinggi dan kurangnya empati dari lingkungan sekitar sangat berpegaruh terhadap mental seorang ibu, serta dapat menumbuhkan rasa tidak percaya diri pada ibu dalam menjalankan perannya.
Hasil
Penelitian ini menegaskan bahwa penilaia lingkungan sosial terhadap psikologi seorang ibu tidak boleh terjebak dalam standar domestikasi kaku maupun tuntunan peran yang mengabaikan realitas mental ibu. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekspektasi sosial yang memaksakan bentuk formal “ibu ideal” tanpa melihat konteks sosiologis dan psikologis rill, justru mengasingkan ibu dari kesejahteraan mentalnya. (Pendidikan ilmu sosial 2023)
1. Memahami makna pegendalian diri
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، – وَاللَّفْظُ لِقُتَيْبَةَ – قَالاَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ سُوَيْدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” مَا تَعُدُّونَ الرَّقُوبَ فِيكُمْ ” . قَالَ قُلْنَا الَّذِي لاَ يُولَدُ لَهُ . قَالَ ” لَيْسَ ذَاكَ بِالرَّقُوبِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا ” . قَالَ ” فَمَا تَعُدُّونَ الصُّرَعَةَ فِيكُمْ ” . قَالَ قُلْنَا الَّذِي لاَ يَصْرَعُهُ الرِّجَالُ . قَالَ ” لَيْسَ بِذَلِكَ وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ” .
Abdullah bin Mas’ud melaporkan bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda: “Siapa yang kalian anggap sebagai ‘Raqub’ di antara kalian?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Seseorang yang tidak memiliki anak (anak-anaknya lahir tetapi tidak bertahan hidup).” Maka beliau (Nabi) bersabda: “Dia bukanlah Raqub, tetapi Raqub adalah orang yang tidak menemukan anaknya sebagai pendahulu (di surga).” Kemudian beliau bertanya: “Siapa yang kalian anggap sebagai pegulat di antara kalian?” Kami menjawab: “Dia yang bergulat dengan orang-orang.” Beliau bersabda: “Bukan itu, tetapi yang mengendalikan dirinya saat marah.”Salah satu bentuk pengendalian diri/ kontrol emosi.
Kandungan dan poin-poin yang bisa diambil daripada hadist tersebut adalah Orang yang bisa mengendalikan amarahnya adalah yang sebenarnya paling kuat karena ia berhasil mengalahkan musuh terbesar yaitu hawa nafsunya sendiri, Orang kuat adalah yang memadamkan api itu dengan mengendalikan lisans dan anggota tubuh, Kekuatan dalam konteks ini adalah kuat iman dan kuat menundukkan nafsu, Pahala Menahan Marah, maka Allah akan memanggilnya di hadapan semua manusia pada hari kiamat dan membiarkannya memilih bidadari.
Intinya dalam hadist itu abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda untuk mendefinisikan siapa yang sebenernya layak disebut sebagai orang yang kuat. Artinya dalam hadist itu mengajarkan bahwa tantagan dalam pegendalian diri bukanlah melawan orang lain, melainkan melawan hawa nafsu dari dalam dirinya sendiri.
2. Hadist yang tentang mengontrol emosi
Hadist-hadist Nabi Mhammad SAW, tidak hanya merekam ajaran-ajarn normative dalam beribadah, tetapi juga menggambarkan keteladanan beliau dalamdimensi sosial dan kemanusiaan. Hadist yang saya ambil ini adalah salah satu hadist yang kita gunakan dalam penelitian ini, hadist yang sangat berkaitan dengan kepedulian psikologis seorang ibu dalam lingkungan sosial, karena dalam hadist ini sangat jelas memberikan gambaran, bentuk kebepedulian lingkungan sosial yang harus diterapkan.
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ” إِنِّي لأَدْخُلُ فِي الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلاَتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ ”.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik: “Ketika saya mulai shalat, saya berniat untuk memperpanjangnya, tetapi ketika saya mendengar tangisan anak, saya memperpendek shalat karena saya tahu bahwa tangisan anak akan membangkitkan emosi ibunya.
Penjelasan hadist
Pada suatu ketika Beliau menjadi imam saat shalat jamaah dan berniat akan memanjangkan shalatnya, tapi ketika Beliau mendengar suara tangis anak kecil, maka Beliau mempercepat shalatnya karena takut hal itu akan merepotkan ibunya, karena jika ibunya mendengar anaknya menangis dia akan merasa sedih dan tidak tenang sehingga menganggu konsentrasi shalatnya. Krena itulah Beliau mempercepat shalatnya supaya tidak merepotkan ibu dari anak yang menangis tersebut. Dari hadist itu dapat kita ambil poin yang bisa kita jadikan teladan untuk kehidupan bermasyarakat esok, bahwa adanya belas kasih Nabi saw. Terhadap para sahabatnya, dan sikap beliau dalam menjaga kondisi orang tua dan anak-anak diantara mereka adalah salah satu sikap dimana menjaga psikologis seorang ibu. Toleransi dan kemudahan islam, dimana ia memperhatikan kondisi dan kemampuan manusia, sehingga tidak ada keberatan diantranya, saling memahami satu sama lain, dan memiliki jiwa kasih sayang terhadap anak, dan yang paling penting adalah menjaga kondisi psikolog seorang ibu.
Dari uraian dari hadist dapat disimpulkan bahwa Rasulullah Saw. menampilkan teladan agung dalam menyeimbangkan dimensi ibadah dan kemanusiaan. Peristiwa ketika beliau memendekkan salat karena mendengar tangisan bayi menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama, khususnya seorang ibu yang sedang gelisah, merupakan bagian integral dari praktik keberagamaan. Hadis ini menegaskan bahwa Islam tidak memisahkan antara hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan manusia, melainkan menuntut keduanya berjalan seimbang. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan bahwa kepekaan sosial, empati, dan kasih sayang merupakan nilai esensial yang harus menyertai setiap bentuk ibadah. (Ulil albab 2025)
3. Mengontrol emosi
Dari hasil penelitian dapat kita temukan beberapa hal yang dapat mengendalikan hawa nafsu/ amarah kita dengan baik, beberapa Upaya yang dapat kita lakukan untuk meredam amarah/megendalikan emosi:
Diam
Diam merupakan salah satu cara yang diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk mengatasi amarah. Walaupun terkadang dalam hati terasa tidak nyaman, namun itu lebih baik dari pada harus melampiaskan emosi dan marah. Karena yang namanya marah itu jika keluar bisa jadi keluar kata-kata yang tidak Allah ridhai. Ada yang marah keluar kata-kata kufur, ada yang marah keluar kalimat mencaci maki, ada yang marah keluar kalimat laknat, ada yang marah keluar kata-kata cerai, nama Binatang, hingga hal-hal sekitarnya pun bisa hancur. Kalau seseorang memaksa dirinya untuk diam ketika akan marah, hal-hal yang rusak tadi tidak akan terjadi. Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi).
Segera duduk
Jika seseorang marah sambil berdiri, maka sebaiknya segera duduk, dan jika kemarahannya sudah hilang, maka hendaklah berbaring. Sebagaimana dalam hadits ; Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ
“Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Mengambil Air Wudhu
Marah adalah api dari setan yang berakibat mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf. Karena, umat Islam juga dianjurkan segera berwudhu ketika marah. Air wudhu akan memadamkan api tersebut dan akan menghilangkan amarah serta gejolak darah.
Dari Athiyyah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, nomor 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Membaca isti’adzah (ta’awudz)
Meminta perlindungan pada Allah SWT dari godaan setan. Kenapa sampai meminta tolong pada Allah SWT agar dilindungi dari setan? Karena marah bisa dari setan. Maka kita mengamalkan firman Allah SWT : وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)
Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata :
كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ“
“Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari, nomor 3282)
Ingat wasiat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ; “Jangan Marah”
Sebelum memuntahkan amarah kepada orang lain atau benda sekalipun, baiknya memperhatikan hadits berikut yang berisi pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang yang meminta nasehat dari beliau.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari, no. 6116).
Daftar Pustaka
- Alfaiz, M. A., Nurjanah, D. S., & Qodim, H. (2022). Arti Penting Pengendalian Diri Dalam Islam: Studi Kritik Hadis. Gunung Djati Conference Series, 8, 903–913.
- Ammar, H. W. M. (2023). Agar Sekeluarga Kumpul Bersama di Surga. Pustaka Hizum.
- Chaidar, R. (2025, November 1). Hadis Tentang Pengendalian Diri dan Kekuatan Mengelola Emosi. TERAKURAT.
- Muslim, I. (2006). Shahih Muslim (No. Hadis 2608, Kitab Kebaikan, Silaturahmi dan Etika). Darussalam Publishers.
- al-Bukhari, I. (2002). Shahih Al-Bukhari (No. Hadis 709, Kitab Adzan). Darussalam Publishers.
- Al-Utsaimin Syaikh Muhammad (2019) Syarah Riyadhus Shalhin. Darul Falah
- Hasanah, U. (2026). Konsep Dasar Studi Hadist. Journal Analisis Niaga dan Ilmu Sosial, 1(2), 101-112.
- Bustaman, M. A. Kekuatan Di Balik Kesabaran: Tafsir Tematik Tentang Pengendalian Amarah Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah
- Sitorus, M. A., & Saroinsong, W. P. (2023). Peran dukungan sosial, kualitas kehidupan dan sharenting terhadap kesejahteraan emosional ibu di Indonesia. PAUD Teratai, 12(2).
- Arfianto, M. A., Mustikasari, & Wardani, I. Y. (2020). Is Social Support Related to Psychological Wellbeing in Working Mother? Jurnal Keperawatan Jiwa, 8(4).
Penulis:
1. Tsalist Wafiqotul Khoiriyah
2. M. Adam Firmansyah
3. Rahma Amalia
Program Studi Pegembangan Masyarakat Islam, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN JKT)
Dosen Pengampu: M. Firdaus, Lc.,MA.,Ph.D.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














