Keterlibatan Mahasiswa Magang Universitas Negeri Malang di LPKP Jatim untuk Mendampingi Anak-Anak di Area Pasok Sampah Lowokdoro

Sebagai upaya pencegahan terjadinya penambahan angka anak putus sekolah karena menjadi pekerja anak

Saat ini semakin marak terjadi kasus pekerja anak, pekerja anak sendiri merupakan sebuah istilah yang digunakan dalam hal mempekerjakan anak-anak kecil atau anak di bawah umur. Perilaku pekerja anak ini secara tidak langsung telah merebut hak-hak anak yang seharusnya mereka dapatkan di usia mereka saat ini.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya pekerja anak, seperti faktor ekonomi, faktor keluarga, faktor lingkungan sekitar dan masih banyak lagi. Semakin banyak terjadinya kasus pekerja anak dapat semakin meningkatkan kasus anak putus sekolah.

Bacaan Lainnya
DONASI

Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti waktu anak yang semakin tersita karena bekerja membuat mereka kelelahan hingga terkadang meninggalkan waktu belajar dan sekolahnya, kurangnya motivasi mereka untuk melanjutkan pendidikan karena dengan mereka bekerja mereka sudah dapat menghasilkan uang sendiri, kurangnya dukungan dari orang tua untuk melanjutkan jenjang pendidikan karena lebih mendukung mereka untuk bekerja.

Baca Juga: Kegiatan Magang Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang di SPNF SKB Kota Malang

Di Indonesia sendiri menurut Laporan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menunjukkan, ada 75.303 orang anak yang putus sekolah pada tahun 2021. Jumlah anak yang putus sekolah di tingkat sekolah dasar (SD) merupakan yang tertinggi, yaitu sebanyak 38.716 orang, namun jumlah tersebut telah menurun 13,02% dari tahun sebelumnya.

Kemudian, jumlah anak putus sekolah di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) yakni sebanyak 15.042 orang dan jumlah ini telah naik 32,20% dari tahun sebelumnya yang berjumlah 11.378 orang. Berikutnya, sebanyak 12.063 orang anak putus sekolah di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK), jumlah ini turun 13,53% dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 13.951 orang.

Sementara itu, sebanyak 10.022 orang anak putus sekolah di tingkat sekolah menengah atas (SMA), jumlah  ini turun 27,90% dari tahun sebelumnya yang berjumlah 13.879 orang. Salah satu kasus terjadinya anak putus sekolah dan pekerja anak juga terjadi di Kota Malang, salah satunya adalah seperti yang terjadi di salah satu TPA atau Tempat Pembuangan Akhir Lowokdoro.

TPA ini merupakan salah satu tempat pembuangan sampah akhir di kota malang, tempat ini menjadi salah satu lahan bagi masyarakat yang berada di sekitarnya untuk bekerja, mereka bekerja sebagai pemilah sampah atau pemisah sampah-sampah yang masih bisa untuk di daur ulang yang nantinya hasil dari pemilahan sampah tersebut akan di setor atau dijual kepada pemasok yang lebih besar.

Namun yang lebih disayangkan lagi masyarakat-masyarakat tersebut tidak hanya bekerja sebagai pemilah sampah di sana, tetapi mereka juga tinggal bersama dengan keluarga dan anak-anak mereka di TPA tersebut dengan membangun sebuah bangunan berbentuk rumah semi permanen yang mungkin bagi sebagian orang merupakan rumah yang kurang layak huni karena tinggal berdampingan dengan sampah-sampah yang menumpuk.

Baca Juga: Keterlibatan Mahasiswa/i Universitas Negeri Malang pada Pengabdian Masyarakat melalui Lembaga UPT BLK Wonojati Malang

Dari hasil kegiatan pengenalan dan pendekatan yang kami lakukan pada hari Minggu, 12 Februari 2023. Kami melihat bahwa para anak-anak yang tinggal di sana pun secara tidak langsung sering ikut membantu orang tuanya untuk melakukan pekerjaan memilah sampah hingga bahkan terdapat beberapa anak yang terpaksa harus putus sekolah karena mereka bekerja di TPA tersebut.

Dari beberapa anak yang putus sekolah tersebut terjadi karena mereka lebih memilih untuk bekerja memilah sampah, selain itu dari hasil pengamatan kita didapati bahawa motivasi yang mereka miliki untuk melanjutkan pendidikan sudah sangat sedikit bahkan hampir tidak ada.

Mereka lebih memilih untuk fokus bekerja dan mencari uang karena pekerjaan ini cukup menyita tenaga dan waktu mereka sehingga mereka merasa bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk belajar dan melanjutkan pendidikan karena dengan bekerja seperti ini mereka sudah bisa mendapatkan uang.

Namun dari pihak LPKP sendiri juga membantu meningkatkan motivasi anak anak tersebut dan membantu mereka untuk mengikuti pendidikan kejar paket.

Namun dikarenakan waktu kerja mereka yang tergolong padat mereka sering tidak membaca materi yang diberikan dan tidak mengikuti kegiatan pembelajaran dan ujian yang diberikan oleh lembaga kejar paket tersebut, oleh karena itu pentingnya untuk membantu menumbuhkan motivasi belajar mereka dengan melakukan pendekatan kepada mereka.

Baca Juga: Gerakan Revolusi BUM Desa Benjor oleh Pemdes Benjor bersama Masyarakat Benjor dengan Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Selain itu bagi sebagian anak lainnya yang masih melanjutkan sekolah mereka setiap pulang sekolah dan hari libur juga tetap ikut orang tua mereka bekerja memilah sampah dan mengirim sampah karena bisa membuat mereka mendapatkan uang dan menambah uang jajan mereka, dan hal ini bisa semakin berbahaya apabila semakin diteruskan karena ketika kita melakukan pengenalan dan pendekatan kepada mereka.

Kami melihat bahwa motivasi mereka untuk belajar sangat kurang dan mereka lebih bersemangat untuk bekerja. Apabila hal tersebut dibiarkan dan tidak segera diatasi maka karena keinginan mereka untuk bekerja lebih besar tidak menutup kemungkinan bahwa anak-anak tersebut bisa saja akan lebih memilih untuk putus sekolah di kemudian hari.

 Selain itu pada hari ini sembari melakukan pendekatan kepada anak-anak,  kami juga melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan untuk mengetes kemampuan mereka dan menurut kami pengetahuan mereka pun masih dirasa kurang apabila dilihat dari tingkatan usia dan jenjang pendidikan mereka.

Mereka juga merasa sangat jenuh dan mudah bosan apabila kami membahas soal pelajaran dan lebih suka untuk bermain hal ini mungkin terjadi dikarenakan di setiap harinya mereka sudah sibuk bekerja sehingga ketika mereka libur bekerja mereka lebih ingin untuk bermain dibandingkan belajar.

Baca Juga: Mahasiswa PLS UM Gelar Pembinaan DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) sebagai Penguatan Pengentasan Angka Stunting di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang

Kurangnya kemampuan pengetahuan mereka dalam bidang pelajaran juga bisa terjadi karena kurangnya bimbingan dari orang tua selama mereka di rumah untuk belajar dan mengerjakan tugas.

Tetapi dari sebagian besar anak-anak tersebut juga masih ada beberapa anak yang memiliki motivasi sekolah dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta memiliki pengetahuan yang cukup bagus akan tetapi yang masih perlu untuk dikhawatirkan adalah apabila mereka tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitarnya, karena hal tersebut bisa membuat motivasi belajar mereka semakin menurun.

Selain itu dari hasil kami mengobrol dan melakukan pendekatan bersama dengan anak-anak, kami juga mendapatkan temuan bahwa masih ada juga orang tua yang mendukung anaknya untuk tetap bersekolah dan melanjutkan pendidikannya sehingga kelak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik darinya.

Oleh karena itu dari hasil pengenalan dan pendekatan bersama anak-anak di TPA tersebut kami akan melakukan kegiatan rutin untuk belajar dan bermain bersama dengan anak-anak di setiap minggunya untuk membantu kegiatan pembelajaran mereka dan menyelesaikan tugas sekolah mereka sehingga bisa mengikuti pembelajaran di sekolah dengan baik serta untuk meningkatkan motivasi dan keinginan mereka dalam melanjutkan pendidikan agar mereka tidak sampai putus sekolah dan lebih memilih untuk bekerja.

Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk mengurangi waktu bekerja mereka sehingga mereka tidak terus menerus berkecimpung di lingkungan TPA tersebut agar mereka tidak semakin merasa lebih nyaman bekerja daripada bersekolah.

Penulis: 

1. Aprilia Permata Sari

2. Devi Yunita

3. Riska Dea Sri Wahyuni

4. M Syukron Mi’am
Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang

Editor: Ika Ayuni Lestari     

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI