Lagu “Pergi Pagi Pulang Pagi”: Realita Marhaen dalam Cengkeraman Kapitalisme dan Imperialisme

Ku rela, pergi. Pagi, pulang pagi. Hanya untuk, mengais rezeki. Doakan, saja. Aku, pergi. Semoga pulang, dompetku terisi.
(Lirik Lagu Armada – Pergi Pagi Pulang Pagi)

Lagu ini adalah karya salah satu grup musik asal Sumatera, Armada, dengan judul yang menggelitik. Ya. Pergi pagi, pulang pagi. Sedikit curhat, awalnya saya memandang lagu ini sebelah mata. Armada memang kerap membuat lagu yang mendayu-dayu dan “cengeng”. Tak ayal, grup musik ini kadang dicibir sebagai grup musik “kampungan”. Seperti Kangen Band, ST 12, atau Hijau Daun pada beberapa tahun lalu. Apalagi suara vokalisnya, Rizal, sangat bernuansa melayu. Cengkoknya saya akui bagus. Tepat jika ia menyanyi lagu melayu. Namun jika menyanyi lagu pop, apalagi lagu cinta-cintaan, menjadi kemayu.

Salah satu teman saya ada yang sering mendengarkan lagu ini. Favorit katanya. Menggambarkan kehidupan rakyat. Awalnya, saya hanya tersenyum. Namun, kemudian saya penasaran. Saya dengarkan sekali. Enak juga. Awalnya hanya menikmati lagunya, sekedar mendengarkan. Namun, di suatu malam saya menyendiri hanya ditemani secangkir kopi. Saya dengarkan lagu ini terus menerus. Saya teliti seluruh liriknya. Saya hayati dan resapi. Ternyata, saya acungi jempol untuk Armada untuk karyanya kali ini. Tidak seperti karyanya yang berjudul “Buka Hatimu”, atau “Mau Dibawa Kemana”. Menggambarkan lelaki yang lemah di hadapan wanita.

Liriknya sederhana, sangat sederhana. Menceritakan sosok suami yang pergi bekerja dari pagi hingga pulang pagi lagi untuk “mengais” rezeki. Demi istri dan keluarga tercinta. Lagu ini menarik untuk dikupas habis mulai dari musik, lirik lagu, hingga cerita dalam video clip-nya.

Musik
Seperti lagu-lagu Armada lainnya, musik yang diusung selalu bernuansa melayu. Walau beraliran / genre pop. Namun bisa dibilang, musiknya sangat melayu. Lebih tepat pop-melayu. Khusus di lagu “Pergi Pagi Pulang Pagi”, gebukan drum dan temponya sangat kental bernuansa melayu. Suara khas dari Rizal, Vokalis Armada, mendayu-dayu. Cengkoknya pas. Lagu ini juga enak didengar dengan berbagai versi. Seperti biasa, para penyanyi dangdut kerap meng-cover lagu-lagu pop. Khususnya pop-melayu. Sebab memang ada kedekatan nuansa dalam kedua aliran musik tersebut. Penyanyi Campursari kawakan, Didi Kempot, juga pernah membawakan lagu ini dengan nuansa Jawa. Campursari. Liriknya pun diubah ke dalam bahasa Jawa. Enak juga mendengarnya. Saya menontonnya di Youtube, pada acara “Bukan Empat Mata”. Saya bukan kritikus musik. Hanya penikmat biasa. Demikian yang bisa saya bahas mengenai musik dalam lagu tersebut.

Lirik Lagu
Lagu ini diawali dengan pernyataan kesungguhan untuk yang tercinta. Apapun rintangannya, demi yang dicinta, akan ditempuh. Panas hujan begini, makanan sehari-hari, adalah penekanan untuk meyakinkan yang tercinta. Lirik tersebut menurut saya yang paling sering dialami para Marhaen. Ya. para Marhaen terbiasa dengan suasana seperti ini. Kita bisa lihat misalnya para gelandangan di pinggir jalan, tukang parkir, dan lain-lain. Para petani rela berkotor-kotor, nelayan rela bertaruh nyawa di tengah lautan ganas, semua demi yang dicintainya. Lirik yang digunakan dalam lagu ini sangat sederhana. Bahasanya mudah dipahami masyarakat. Entah disadari atau tidak, bahkan oleh Armada sendiri, lirik lagu ini bisa dianggap sebagai kritik sosial.

Cerita dalam Video Clip
Video Clip dalam lagu ini menggambarkan tentang sosok seorang ayah yang berjuang demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ada tukang sapu jalanan, supir taksi, dan juga Satpam (satuan pengamanan). Ditampilkan juga scene supir taksi yang sedang menghitung uang, tiba-tiba uangnya terbang dan susah payah untuk dikejar. Terlihat betapa berharganya uang Rp. 50.000,- bagi kaum Marhaen. Tidak bagi para Borjuis dan para Kapitalis yang senang menghamburkan uang, yang memiliki modal melimpah dan terus berputar. Rp. 50.000,- bagi mereka kecil. Namun bagi kaum Marhaen, uang bernilai demikian adalah besar.

Nampak juga seorang anak kecil yang membaca poster konser Armada, seakan berharap ingin menonton bersama ayah dan ibunya, juga terdapat istri yang menunggu di rumah dengan wajah resah. Menariknya, Armada seolah memberikan kesempatan kepada tokoh istri dalam lagu tersebut untuk berbicara. Aku rela, ditinggal. Pagi, pulang pagi. Karena kamu mencari rezeki. Itu adalah pernyataan kerelaan hati seorang istri yang bersabar menunggu suaminya pulang.

Dalam video tersebut juga ditampilkan Armada tampil menghibur masyarakat dengan lagu ini. Seperti “Band Kampung” lainnya, musik Armada yang easy listening ini memang mudah diterima masyarakat Indonesia. dalam video tersebut terlihat masyarakat berkumpul dan bergoyang bersama. Ya. seperti itulah rakyat kecil Indonesia, kaum Marhaen. Hiburan seperti penampilan “Band Kampung” atau “Dangdutan” seolah menjadi pelipur lara sejenak. Bak obat bius. Mematikan penderitaan sementara. Marhaen bisa bergoyang bersama, bisa terhibur seolah tiada masalah. Padahal mereka dilanda kesengsaraan akibat cengkeraman Kapitalisme & Imperliasme. Di akhir video tersebut digambarkan betapa bahagianya saat suami pulang menemui istrinya setelah lelah bekerja dan membawa uang.

Realita Marhaen Dalam Cengkeraman Kapitalisme & Imperialisme

Lagu ini adalah representasi kehidupan kaum Marhaen. Mereka hidup dalam cengkeraman Kapitalisme & Imperialisme, baik nasional maupun global (internasional). Seperti yang dijelaskan sebelumnya, mungkin Armada tidak sadar bahwa karya mereka ini adalah kritik sosial. Lagu ini menggambarkan kehidupan masyarakat yang Money Oriented. Kebahagiaan diukur dengan uang. Kita pasti menolak hal ini. Biasanya kita menganggap kebahagiaan adalah lebih dari sekedar uang. Uang tidak bisa membeli segalanya. Memang benar. Namun yang digambarkan dalam lagu ini adalah realita. Memang bahagia tidak bisa diukur dengan uang. Namun kita kini hidup di alam Kapitalisme & Imperialisme. Kedua sistem tersebut merampas makna dari kebahagiaan. Di zaman seperti ini, jika tidak memiliki uang bagaimana bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari diri sendiri dan keluarga? Pasal 33 dalam UUD 1945 dengan tegas menyatakan bahwa sumber daya alam dikuasai negara dan diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat, tidak bisa diwujudkan oleh para pemimpin negeri ini. Sebab kepentingan pribadi diutamakan. Banyak sekali ekonom-ekonom Indonesia yang Neo-Lib. Antek-antek Neo-Liberal, yang menginginkan Kapitalisme & Imperialisme langgeng di Indonesia dengan dalih “kebebasan berusaha”.

Demi uang, apapun dilakukan. Ya. mencari rezeki halal memang kerap menyakitkan hati. Harus jujur dan tidak menipu serta tidak menindas orang lain kini adalah sebuah pengorbanan. Berbeda dengan para maling uang rakyat (baca: koruptor). Memanfaatkan kekuasaannya untuk memakmurkan keluarganya, namun mencuri uang rakyat. Begitu juga para bandar judi, para pebisnis narkoba, para mucikari, para pelacur, dan sebagainya yang menggadaikan imannya demi uang. Lagi-lagi soal perut. Mereka mendapat rezeki yang melimpah, namun haram. Dalam alam “kebebasan” seperti saat ini, halal-haram tak lagi perkara. Tuhan seakan dibius untuk tidur nyenyak agar tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Masa yang disebut Reformasi kini menurut saya hanyalah perpindahan dari Kapitalisme Terpusat (Orde Baru dan Kroninya), kepada para Kapitalis & Imperialis global. Demi alasan “Demokratisasi”, kita justru kebablasan. Suka atau tidak, itulah yang terjadi. Prof. Dawam Rahardjo, Rektor Universitas Proklamasi 1945 Yogyakarta, pernah bercerita dalam diskusi publik Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Yogyakarta di kampus tersebut. ia berkata bahwa ia kelabakan mempertahanakan Pasal 33 UUD 1945 yang berada dalam ancaman untuk diubah agar sesuai selera para ekonom Neo-Lib dan para Kapitalis.

Kembali ke topik utama, lagu ini menggambarkan ketidakberdayaan kaum Marhaen menghadapi kerasnya kehidupan. Terutama di kota-kota besar yang metro bahkan megapolitan. Di jalan-jalan kota-kota besar, terdapat kesenjangan sosial yang besar. Di tengah jalan, terdapat banyak mobil bergelimpangan. Sementara para Marhaen di pinggir jalan. Ada yang mengamen, mengemis, dan berjualan ala kadarnya speerti para pedagang asongan. Kapitalisme & Imperialisme menciptakan kesadaran palsu. Orang dihipnotis dengan kedua sistem tersebut. Membuat kebanyakan orang seperti biasa saja dengan kondisi demikian. Menganggap bahwa kesenjangan sosial tersebut seakan lumrah terjadi di kota-kota besar.

Tidak Hanya Suami
Walau lagu ini menggambarkan perjuangan seorang suami dan bapak terhadap keluarganya, namun jika dianalisa dari realita masyakarat sejatinya tidak hanya itu. Lagu ini juga bisa direpresentasikan lintas usia. Contohnya, para pengamen cilik jalanan. Juga tidak hanya suami. Anak-anak dan pemuda pun demikian. Contohnya, para pemulung. Mereka semua rela melakukan apapun demi menyambung hidup. Ya. hidup mereka tidak lebih dari sekedar bisa bertahan hidup dan mengenyangkan perut. Walau hanya sekali sehari, atau bahkan tak tentu. Hanya untuk, mengais rezeki. Pun, bagi para istri dan ibu. Banyak dari mereka yang juga bekerja membantu suaminya. Contohnya, pembantu rumah tangga. Baik di dalam maupun luar negeri (Tenaga Kerja Wanita / TKW).

Khusus TKW, banyak kasus penyiksaan yang mereka alami di luar negeri. Semua itu mereka hadapi demi keluarganya, khususnya demi anak-anaknya. Para TKW pun juga jarang pulang, bahkan tidak tahu kapan bisa pulang untuk menemui anaknya walau hanya sejenak. lebih dari “pergi pagi pulang pagi”. Mereka pergi dan tak tahu kapan kembali. Contoh berikutnya juga para pelacur (pekerja seks komersial). Hal ini memang kontroversial. Sebab banyak dari para pelacur yang sebenarnya mampu, tidak dalam kesulitan ekonomi. Namun demi harta dan gengsi, mereka gadaikan kehormatan mereka. Demi gaya hidup mewah. Walau banyak juga yang terpaksa menjadi pelacur karena kesulitan ekonomi.

Orang Kantoran Pun “Kena”

Ternyata jika dianalisa lagi, golongan menengah pun juga terkena singgung oleh lagu ini. Ya. para pekerja. Orang-orang “kantoran” juga. Mereka banyak yang lembur demi memenuhi kebutuhan perusahaan. Para pekerja memiliki waktu yang terbatas bersama keluarganya, demi lembur hanya untuk mengembangkan perusahaan tempat mereka bekerja.

Hanya Untuk Mengais Rezeki
Ini lirik yang paling mengena menurut saya. Sebab demi uang, manusia rela banting tulang. Bahkan jika sudah sukses, terkadang dimabukkepayang. Ya. lupa daratan. Demi “mengais rezeki” pula, manusia rela saling mencaci, memfitnah, mencuri, menyakiti hati, hingga membunuh. Benar kata Bung Karno, bahwa Kapitalisme & Imperialisme bukan bangsa. Bukan hanya “Londo”, bukan “Bule”. Namun Kapitalisme & Imperialisme adalah sistem yang menyangkut soal perut, soal perebutan rezeki.

Penutup, saya hanya ingin mengingatkan bahwa rezeki bukan hanya uang. Kesejahteraan tidak bisa diukur hanya dengan banyaknya uang. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan apapun. Namun yang harus diingat, di alam cengkeraman Kapitalisme & Imperialisme global ini, uang bisa menguasai segalanya.

Hanya ada satu kata, LAWAN!
MERDEKA!!!

ASLAMA NANDA RIZAL

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI