Mahasiswa dan Pendidikan Rakyat

“Suatu bangsa tidak akan maju sebelum ada diantara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya!” —M Natsir.

Kegundahan hari ini mengenai permasalahan pendidikan di Indonesia bukan hanya sebuah kabar burung rakyat kalangan kelas bawah. Sebuah data survei yang diterbitkan oleh Program for International Assesment (PISA) menyatakan bahwa dalam bidang sain, Indonesia berada pada posisi 64 sementara untuk bidang membaca Indonesia berada pada posisi 66 dari 72 negara yang disurvei.

Menilik data yang tersaji tentu sangat miris, permasalahan pendidikan ini bagaimanapun merupakan bagian terpenting untuk mencapai tujuan negara yang sejahtera dan maju. Negara yang memiliki sumber daya alam yang sangat besar ini harus juga dikelola oleh sumber daya manusia yang unggul.

Suka atau tidak suka peran mahasiswa pendidikan sebagai calon guru dimasa yang akan datang memiliki tantangan luar biasa yang juga merupakan amanah para pendiri bangsa dalam kemerdekaan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang tersurat dalam pembukaan UUD 1945.

Data Statistik Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti) menunjukan bahwa mahasiswa dengan kelompok studi bidang pendidikan merupakan yang paling banyak dengan 1.300.879 mahasiswa yang tersebar di seluruh perguruan tinggi dari Sabang hingga Merauke.

Saat pertama kali mahasiswa masuk perguruan tinggi mahasiswa sudah dikenalkan dengan Tridharma perguruan tinggi di Indonesia yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian, namun apakah mahasiswa benar – benar memahami apa konteks permasalahan pendidikan yang hari ini terjadi.

Mahasiswa seyogyanya bukan hanya belajar dan mengimplentasikan kecerdasannya dalam ranah kampus dan terkunkung dalam ruangan. Mahasiswa harus kembali kepada rakyat melaksanakan amanah UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Proses belajar mahasiswa bukan hanya sekedar bersumber dari teori dan naskah akademik, namun juga ruang perkuliahan yang lebih luas yaitu masyarakat. Tidaklah cukup seorang sarjana kependidikan mampu untuk presentasi dan beradu argumen dalam kelas, namun berdiskusi dan mendengar kebutuhan rakyat lebih akan mencerdaskan nalar dan hati bakal guru–guru Indonesia dimasa depan.

Banyak sekali daerah di Indonesia terutama daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) yang sulit dalam mengakses pendidikan. Peran mahasiswa dalam pengabdian hari ini merupakan panggilan rakyat yang harus segera didengar oleh mahasiswa sebagai agent of change, terjun tangan dalam upaya pencerdasan bangsa di Indonesia.

Belajar dalam kelas memang penting bahkan wajib, namun itu saja tidak cukup. Mahasiswa yang hanya belajar dalam kelas hanya akan menghasilan selembar kertas nilai di akhir perkuliahannya. Yang dicari bukan hanya soal Indek Prestasi Kumulatif (IPK), membangun masa depan Indonesia dibangun dengan rasa kesadaran kita bersamasa dalam mengetaskan permasalahan.

Rubyanto Prabowo
Mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Universitas Negeri Semarang

Baca juga:
Pendidikan Karakter Pada Era Digital
Semua Orang itu Cerdas
Hentikan Plagiarisme dan Banggalah dengan Hasil Karya Sendiri

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI