Masa Depan Tenaga Kerja di Era Teknologi Modern berbasis AI

Masa Depan Tenaga Kerja
Ilustrasi Tenaga Kerja (Sumber: Penulis)

Izinkan saya membuka tulisan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana:

Apakah pekerjaan Anda hari ini masih akan ada lima tahun lagi?

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Saya tidak bertanya untuk menakut-nakuti. Saya bertanya karena jawabannya bagi jutaan pekerja Indonesia mungkin tidak semenyakinkan yang kita harapkan.

 

Ketika Angka Bicara Lebih Keras dari Pidato

Tahun 2020, World Economic Forum (WEF) sudah membunyikan alarm: sekitar 85 juta pekerjaan di seluruh dunia akan lenyap akibat otomasi dan kecerdasan buatan (AI) pada 2025. Empat tahun kemudian, Presiden Joko Widodo mengulang angka itu sendiri di depan para ekonom terbaik negeri ini dalam Kongres ISEI di Surakarta, September 2024.

Artinya, bukan saya yang dramatis. Bahkan kepala negara pun mengakui: ini nyata. Dan Indonesia bukan penonton. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat per Februari 2025, angkatan kerja kita sudah menyentuh 153 juta jiwa  dengan 145 juta di antaranya sudah bekerja. Bayangkan sebagian dari 153 juta manusia itu sedang menuju sebuah perubahan yang belum pernah terjadi dalam sejarah ketenagakerjaan kita.

 

Jangan Salah Sangka Bukan Hanya Buruh Pabrik yang Terancam

Inilah bagian yang paling sering disalah pahami Banyak yang berpikir, “Saya kerja di kantor, pakai laptop, bukan di pabrik jadi aman.” Sayangnya, justru sebaliknya. Pekerjaan administratif, keuangan, layanan pelanggan, analisis data semua itu berada di garis terdepan yang paling cepat digerus AI.

Chatbot sudah menggantikan ribuan customer service. Perangkat lunak akuntansi sudah melampaui akurasi manusia dalam hal pembukuan. Sistem otomasi di sektor perbankan, ritel, dan logistik Indonesia sudah berjalan penuh sejak 2024 dan hasilnya efisiensi operasional naik hingga 40%, tapi kebutuhan tenaga manusia di level bawah justru anjlok.

Lebih mengejutkan lagi: laporan WEF memproyeksikan pada 2030, sekitar 92 juta pekerjaan akan hilang secara global. Angka yang menghantam bukan hanya kelas pekerja, tapi juga profesional berpendidikan tinggi.

 

Ada Cahaya di Ujung Terowongan Tapi Jalannya Tidak Mudah

Saya tidak ingin berhenti di titik gelap itu. Karena ada sisi lain yang sama pentingnya untuk diketahui. Teknologi yang menghancurkan pekerjaan lama, di saat yang sama juga melahirkan pekerjaan baru yang sebelumnya tidak pernah ada. WEF memperkirakan akan muncul 170 juta pekerjaan baru pada 2030 — di bidang teknologi, ekonomi digital, dan energi hijau. Secara matematika, ada surplus 78 juta lapangan kerja baru.

Tapi di sini masalahnya: pekerjaan lama yang hilang itu mudah dimasuki siapa saja. Pekerjaan baru yang muncul? Butuh keahlian yang sangat spesifik. AI Engineer, Machine Learning Specialist, analis data, pengembang keamanan siber, spesialis prompt engineering — gaji mereka di Indonesia saat ini sudah menyentuh Rp25 juta hingga Rp80 juta per bulan. Tapi berapa banyak pekerja kita yang siap mengisinya?

Dan ada hal yang sering luput dari perbincangan: beberapa profesi justru tidak bisa digantikan AI. Guru yang hadir dan menginspirasi muridnya. Perawat yang memegang tangan pasien di saat-saat tersulit. Seniman yang bercerita lewat karya. Pengacara yang berargumen di ruang sidang. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan empati sejati, kreativitas yang tumbuh dari pengalaman hidup — itu wilayah yang belum bisa dijamah mesin.

 

Pemerintah Sudah Bergerak, Tapi Belum Cukup

Saya harus berlaku adil. Kementerian Ketenagakerjaan di bawah Menaker Yassierli sudah menyatakan prinsip yang saya apresiasi: no one left behind  tidak boleh ada satu pun pekerja yang tertinggal atau ter-PHK tanpa solusi nyata di tangan.

Baca juga: Apa Saja Hak Karyawan yang Dipecat (PHK)? Ini Aturan Hukum dan Cara Memperjuangkannya

Pada 2025, Kemnaker telah melatih 700 ahli produktivitas dan menyelenggarakan pelatihan di lebih dari 63 titik di seluruh Indonesia, melibatkan serikat pekerja secara aktif. Ada 42 Balai Latihan Kerja (BLK) yang disiapkan sebagai pusat pengembangan kompetensi.

Tapi saya harus jujur: skala masalahnya jauh melampaui kapasitas yang ada. Melatih ratusan orang, sementara jutaan pekerja membutuhkan transformasi kompetensi yang mendasar  itu seperti memadamkan kebakaran hutan dengan ember yang dibutuhkan bukan sekadar program. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara berpikir secara menyeluruh  dari pemerintah, dunia usaha, hingga individu pekerja itu sendiri.

 

Tanggung Jawab Kita Masing-Masing

Perusahaan yang mengadopsi AI dan otomasi tidak bisa hanya menghitung efisiensi lalu membuang karyawan lama begitu saja. Ada tanggung jawab moral yang tidak bisa dinegosiasikan: bantu proses transisi, siapkan pelatihan, jangan tinggalkan orang-orang yang selama ini membesarkan perusahaan Anda. Dan sebagai individu?

Kita tidak punya pilihan selain beradaptasi. Bukan berarti semua orang harus jadi programmer. Tapi setidaknya: pahami cara kerja AI sebagai alat, tingkatkan kemampuan berpikir kritis, dan jangan berhenti belajar hal baru.

Dunia tidak akan menunggu kita merasa nyaman. Ada satu hal menarik yang sering luput dari diskusi ini: biaya tenaga kerja Indonesia yang relatif lebih rendah dibanding investasi infrastruktur AI membuat banyak UKM masih mempertahankan karyawan manusia. Ini memberi kita jendela waktu — tapi bukan untuk bersantai. Ini waktu untuk bersiap dengan serius.

 

Bukan Tentang Takut, Tapi Tentang Pilihan

Saya menulis ini karena saya percaya bahwa kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan. Dan Indonesia dengan 153 juta angkatan kerja, dengan bonus demografi yang masih bisa dimanfaatkan, dengan generasi muda yang melek teknologi  punya semua bahan untuk memenangkan era ini.

Tapi bahan yang bagus tidak otomatis jadi makanan yang enak. Butuh yang mau memasak.

Jadi mulailah. Pelajari satu hal baru hari ini. Tanyakan kepada diri sendiri: keahlian apa yang saya punya yang tidak bisa dilakukan mesin? Dan kembangkan itu sebaik-baiknya.

Karena pada akhirnya, bukan AI yang akan mengambil alih Indonesia. Yang akan mengambil alih adalah mereka yang tahu cara bekerja bersama AI dan mengalahkan mereka yang tidak mau bergerak.

 


Penulis: Asmariati (23051020016)
Mahasiswa Perbandingan Madzhab, UIN Raden Fatah Palembang


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

  1. World Economic Forum. (2020). The Future of Jobs Report 2020. https://www.weforum.org/reports/the-future-of-jobs-report-2020
  2. Metro TV News. (2024, 19 September). 85 Juta Pekerjaan Hilang Gegara AI dan Otomasi Teknologi. https://www.metrotvnews.com/read/b2lCVg3g-85-juta-pekerjaan-hilang-gegara-ai-dan-otomasi-teknologi
  3. Badan Pusat Statistik (BPS). (Februari 2025). Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2025. https://www.bps.go.id/en/infographic?id=1113
  4. (Februari 2025). Otomatisasi Industri dan Tantangan Tenaga Kerja di 2030. https://www.kompasiana.com/01_adityasyahrialvalentio5472/67ad5a43c925c45599798302/otomatisasi-industri-dan-tantangan-tenaga-kerja-di-2030
  5. Kementerian Ketenagakerjaan RI. (Februari 2026). Hadapi Disrupsi AI, Menaker Ajak Serikat Pekerja Perkuat Upskilling dan Reskilling. https://kemnaker.go.id/news/detail/hadapi-disrupsi-ai-menaker-ajak-serikat-pekerja-perkuat-upskilling-dan-reskilling
  6. (2025). Dunia Kerja Indonesia 2025: Bagaimana AI dan Otomasi Mengubah Industri? https://senusa.co.id/dunia-kerja-indonesia-2025-ai/
  7. Jatim Satu News. (Oktober 2025). Otomatisasi Bawa Efisiensi, Tapi Siapa Peduli pada Nasib Pekerja? https://www.jatimsatunews.com/2025/10/otomatisasi-bawa-efisiensi-tapi-siapa.html
  8. Desana OB. (Maret 2026). AI Menggantikan Pekerjaan? 7 Fakta Mengejutkan di 2026! https://desanaob.id/ai-menggantikan-pekerjaan-fakta-2026/

 

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses