Mengenal Jenis Gulma sebagai Tanaman Fitoremediasi: Definisi, Contoh, dan Manfaat

Tanaman Fitoremediasi
Foto: Pixabay.com

Tanaman fitoremediasi kini menjadi solusi ramah lingkungan dalam mengatasi pencemaran tanah yang disebabkan polutan berbahaya.

Teknik ini memanfaatkan tumbuhan tertentu yang mampu menyerap, menstabilkan, atau menguraikan zat pencemar sehingga kualitas tanah kembali normal. Seiring meningkatnya pencemaran akibat aktivitas industri dan rumah tangga, pemanfaatan tanaman untuk fitoremediasi semakin relevan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Konsep ini bukan hanya menggunakan tanaman hias atau budidaya, melainkan juga gulma yang selama ini dianggap pengganggu.

Gulma ternyata menyimpan potensi besar karena pertumbuhannya cepat, mudah beradaptasi, dan memiliki kemampuan menyerap logam berat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gulma dapat dijadikan agen fitoremediasi efektif, meski sering kali terabaikan.

Pemahaman lebih mendalam mengenai definisi fitoremediasi, jenis-jenisnya, hingga contoh fitoremediasi yang terbukti efektif akan membantu masyarakat maupun peneliti melihat potensi besar dari tumbuhan ini.

Artikel ini akan membahas berbagai jenis gulma sebagai tanaman fitoremediasi lengkap dengan penjelasan ilmiah, manfaat, hingga tantangan penggunaannya.

Baca juga: Kirim Opini ke Media Mahasiswa Indonesia: 100% Diterbitkan!

1. Definisi dan Konsep Fitoremediasi

Definisi Fitoremediasi

Fitoremediasi berasal dari dua kata, yaitu phyton yang berarti tumbuhan, dan remediare yang berarti memperbaiki.

Secara sederhana, fitoremediasi adalah teknik pemulihan lingkungan tercemar menggunakan tumbuhan hijau sebagai agen utama.

Mekanisme ini memanfaatkan kemampuan fisiologis dan biokimia tanaman untuk menyerap, mengakumulasi, atau memecah polutan menjadi bentuk yang lebih aman.

Teknologi ini menjadi populer karena ramah lingkungan, hemat biaya, serta tidak menimbulkan kerusakan tambahan pada ekosistem. Fitoremediasi juga dapat diaplikasikan pada berbagai media tercemar, mulai dari tanah, air, hingga udara.

Sejarah dan Perkembangan Fitoremediasi

Konsep fitoremediasi sebenarnya telah ada sejak lama, meskipun secara ilmiah baru dipelajari lebih mendalam pada akhir abad ke-20.

Para ilmuwan menemukan bahwa beberapa tumbuhan mampu bertahan hidup di area tambang yang penuh logam berat. Penemuan ini membuka jalan bagi penelitian mengenai tumbuhan hiperakumulator dan potensinya dalam memperbaiki tanah tercemar.

Seiring berkembangnya teknologi lingkungan, fitoremediasi kini menjadi salah satu metode utama yang dipilih karena lebih alami dibandingkan teknik fisik dan kimia yang mahal serta berisiko.

Banyak negara telah melakukan penelitian mendalam untuk menemukan spesies tanaman lokal yang cocok sebagai agen fitoremediasi.

Tujuan Utama Fitoremediasi

Ada beberapa tujuan utama fitoremediasi yang menjadikannya penting:

  1. Mengurangi kandungan logam berat berbahaya seperti timbal, merkuri, atau kadmium.
  2. Memperbaiki struktur tanah agar kembali subur dan bisa ditanami.
  3. Mengurangi biaya remediasi karena tidak membutuhkan alat berat atau bahan kimia berbahaya.
  4. Menjaga keberlanjutan lingkungan dengan memanfaatkan potensi alami tumbuhan.

Baca juga: Mencegah Pencemaran Tanah Akibat Aktivitas Rumah Tangga

2. Jenis-Jenis Fitoremediasi

Sumber: Pinterest.com

Fitoekstraksi

Fitoekstraksi adalah proses penyerapan polutan dari tanah oleh akar tanaman, kemudian dipindahkan ke batang atau daun.

Jenis ini paling sering digunakan untuk menghilangkan logam berat. Misalnya, tanaman hiperakumulator mampu menyimpan logam berbahaya hingga ratusan kali lipat lebih tinggi dibandingkan konsentrasi tanah sekitarnya.

Fitostabilisasi

Fitostabilisasi bertujuan menahan polutan agar tidak menyebar ke area lain. Tanaman berperan sebagai pengikat yang menjaga logam tetap di area akar sehingga tidak mencemari air tanah atau terbawa erosi. Teknik ini sering dipakai untuk mengendalikan area bekas tambang terbuka.

Fitodegradasi

Fitodegradasi adalah proses pemecahan polutan organik oleh enzim yang diproduksi tanaman. Polutan yang awalnya berbahaya dapat berubah menjadi senyawa sederhana yang lebih aman. Teknik ini efektif untuk menangani pestisida, hidrokarbon, dan senyawa organik lain.

Rhizofiltrasi

Rhizofiltrasi adalah teknik penggunaan akar tanaman air untuk menyerap polutan dari perairan tercemar. Gulma air maupun tumbuhan akuatik seperti eceng gondok sering dipakai karena sistem akarnya luas dan efektif mengikat logam berat.

Baca juga: Penanggulangan Pencemaran Tanah oleh Pestisida dengan Menggunakan Teknik Bioremediasi In-Situ

3. Tumbuhan Fitoremediasi dan Karakteristiknya

Syarat Tanaman Fitoremediasi

Tidak semua tumbuhan bisa dijadikan agen fitoremediasi. Ada beberapa karakteristik khusus yang perlu dimiliki:

  1. Pertumbuhan cepat – tanaman harus mampu berkembang pesat untuk menyerap polutan dalam waktu singkat.
  2. Tahan terhadap polutan – tidak semua tanaman bisa hidup di tanah tercemar. Hanya spesies tertentu yang dapat bertahan dan beradaptasi.
  3. Kemampuan menyerap polutan ganda – tanaman ideal mampu mengikat lebih dari satu jenis logam berat atau senyawa kimia.
  4. Sistem akar kuat – akar yang luas memudahkan penyerapan zat berbahaya.
  5. Mudah diperbanyak – agar praktis, tanaman harus mudah dibudidayakan baik dari biji maupun vegetatif.

Apa itu Tumbuhan Hiperakumulator?

Tumbuhan Hiperakumulator adalah istilah untuk tanaman yang mampu menyerap logam berat dalam jumlah sangat tinggi tanpa mengalami kerusakan fisiologis. Beberapa jenis tumbuhan hiperakumulator terbukti dapat menampung logam hingga 100 kali lebih banyak dibandingkan tanaman biasa.

Contoh logam yang sering diserap oleh tumbuhan hiperakumulator meliputi nikel, kadmium, merkuri, hingga timbal. Sifat unik ini membuat mereka sangat berharga sebagai agen fitoremediasi. Gulma tertentu yang sering dianggap pengganggu ternyata masuk ke dalam kelompok hiperakumulator.

Agen Fitoremediasi dan Peranannya

Agen fitoremediasi tidak terbatas pada satu jenis tanaman saja. Mereka dapat berupa gulma, tanaman liar, atau bahkan tumbuhan budidaya. Peran utama agen fitoremediasi adalah:

  • Mengurangi konsentrasi logam berat di tanah tercemar.
  • Meningkatkan kesuburan tanah setelah polutan berkurang.
  • Mencegah penyebaran polutan ke area lain melalui air tanah.
  • Menyediakan solusi hemat biaya dibandingkan teknologi remediasi kimia atau fisik.

Baca juga: Penanganan Pencemaran Tanah dan Bahayanya

4. Contoh Tanaman Fitoremediasi

Berikut adalah beberapa contoh fitoremediasi dari tanaman gulma maupun tanaman liar yang sudah terbukti secara ilmiah.

Tanaman Biduri (Caloptropis Gigantea)

Biduri merupakan tanaman perdu menahun (abadi). Tinggi pohon ini bisa mencapai 4 meter. Batang biduri berbentuk silindris dengan percabangan bertipe simpodial (cabang yang menyerupai batang), berwarna hijau keputihan dan dilapisi lilin.

Tanaman ini memiliki bunga yang indah berwarna ungu dan putih. Akan tetapi tanaman ini sering dianggap gulma oleh sebagian orang.

Menurut jurnal dari Hapsari dan Lestari (2017) yang berjudul “Fitoremediasi Logam Berat Kadmium (Cd) pada Tanah yang Tercemar dengan Tanaman Biduri (Caloptropis gegantea) dan Rumput Gajah (Panicum maximum)”, kemampuan tanaman biduri dalam meremediasi kandungan kadmium dalam tanah adalah sebesar 1,26 ppm pada bagian akar dan 1,01 ppm pada bagian atas tanaman.

Penelitian ini dilakukan pada tanah bertekstur lempung berpasir dengan kandungan unsur makro yang cenderung lebih rendah.

Tanaman Pimpernel Palsu Malaysia (Lindernia Crustacea)

Lindernia crustacea merupakan spesies tanaman berbunga yang lebih dikenal sebagai gulma. Tanaman ini dalah anggota famili Linderniaceae. Bunga tanaman ini berukuran sekitar 1 cm dengan serbuk sari berbentuk bulat dengan diameter 23,5 mikron.

Menurut jurnal dari Bonauli, dkk (2014) dengan judul “Fitoremediasi Tanah Tercemar Merkuri Menggunakan Lindernia crustacea, Digitaria radicosaa, dan Cyperus rotundus serta Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung”, dapat diketahui bahwa tanaman ini dapat menyerap kandungan Hg sebesar 0.05mg.

Akan tetapi jika kandungan Hg semakin meningkat, maka daya serapnya akan semakin menurun. Oleh karena itu, penambahan bahan organik pada tanah tercemar dapat meningkatkan daya serap tanaman ini.

Tanaman Alfalfa (Medicago Sativa)

Tanaman ini merupakan kelompok tanaman legum (kacang-kacangan) yang memiliki bintil akar yang bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen sehingga mampu memfiksasi nitrogen bebas.

Alfalfa dapat tumbuh hingga 1 meter dan akarnya dapat memanjang hingga 15 meter. Alfalfa biasanya ditemukan tumbuh di padang rumput yang merupakan tanaman liar.

Nah, Alfalfa mampu menurunkan kandungan timbal (Pb) dari dalam tanah sebanyak >50%. Tanaman ini berpotensi sebagai tanaman akumulator timbal (Pb) dengan mekanisme fitoekstraksi.

Tanaman alfalfa menyerap logam dan kemudian mentranslokasikannya ke dalam jaringan tanaman. Dalam menyerap timbal (Pb),  alfalfa memiliki nilai faktor transfer >1, sehingga alfalfa digolongkan sebagai metal accumulator species.

Metal accumulator species merupakan jenis tanaman yang mampu menyerap dan mengakumulasi logam pada bagian batang dan daun dalam konsentrasi tinggi tanpa menunjukkan kerusakan struktur dan fungsi tanaman (Tonapa et al 2015).

Tanaman Rumput Belulang (Eleusine Indica)

Rumput belulang merupakan salah satu gulma yang dapat ditemukan pada ketinggian 2000 mdpl. Akan tetapi, tanaman ini juga dapat ditemukan pada daerah dataran rendan dan sedang.

Tanaman ini memiliki daun yang kecil memanjang dan dapat tumbuh hingga 60-80 cm. Memiliki akar serabut yang lebat sehingga sangat sulit untuk dicabut. Bunga dari rumput belulang berbentuk malai (butiran seperti gandum) yang tampak bergerigi.

Menurut Hamzah et al., (2016), rumput belulang dapat mengakumulasikan logam berat Cd pada akar sebesar 0,6 dan pada tajuknya sebesar 0,3 mg/kg.

Diketahui bahwa nilai faktor translokasi dan faktor biokonsentrasi dari tanaman ini sebesar 0,6 dan 0,4. Akan tetapi, referensi penggunaan tanaman ini sebagai agen fitoremediasi masih terlalu sedikit.

Literasi mengenai penggunaan gulma sebagai agen fitoremediasi masih sangat sedikit. Padahal jika dilihat, gulma tidak memerlukan perawatan khusus dan dapat tumbuh liar. Hal inj tentunya dapat menghemat biaya perawatannya.

Untuk tanaman yang digunakan sebagai agen fitoremediasi ini, akan diolah lebih lanjut agar bahan pencemar yang telah diakumulasikan pada bagian tubuh tanaman tidak kembali ke tanah.

Biasanya pengolahan lanjutan yang dilakukan adalah pengolahan secara termal (pembakaran). Ini dilakukan untuk memastikan bahwa logam berat yang terkandung pada tanaman tidak akan mencemari lingkungan maupun dimakan oleh hewan.

Contoh Tanaman Fitoremediasi Lainnya

Selain empat tanaman di atas, masih banyak contoh fitoremediasi lain yang potensial:

  • Akar wangi (Vetiveria zizanioides) – mampu menyerap logam berat seperti timbal dan nikel.
  • Bayam (Amaranthus sp.) – tumbuhan akumulator logam yang tumbuh cepat.
  • Eceng gondok (Eichhornia crassipes) – gulma air yang menyerap polutan organik dan logam dalam perairan.
  • Kangkung air (Ipomoea aquatica) – terbukti efektif menyerap logam berat di perairan dangkal.

Setiap jenis tanaman memiliki keunggulan dan keterbatasan, tergantung kondisi tanah maupun jenis polutannya.

Baca juga: Dampak Pencemaran Tanah bagi Kesehatan, Ekonomi dan Ekosistem

5. Manfaat Gulma sebagai Tanaman Fitoremediasi

Hemat Biaya dan Perawatan

Gulma sering dianggap sebagai tumbuhan pengganggu karena tumbuh liar di lahan pertanian maupun pekarangan. Namun, sifat liarnya justru memberikan keuntungan besar jika dimanfaatkan sebagai tanaman fitoremediasi. Gulma tidak membutuhkan pupuk khusus, penyiraman intensif, atau pengendalian hama yang rumit.

Hal ini membuat biaya perawatan menjadi jauh lebih rendah dibandingkan jika menggunakan tanaman budidaya. Petani atau pengelola lahan tercemar bisa memanfaatkan gulma lokal yang tersedia melimpah. Dengan demikian, proses remediasi dapat dilakukan tanpa mengeluarkan anggaran besar.

Potensi Gulma Air dan Rumput Liar

Selain gulma darat, gulma air seperti eceng gondok juga terbukti sangat efektif menyerap logam berat serta bahan organik pencemar. Akar serabutnya yang panjang dapat menyaring logam dari aliran sungai maupun danau. Meski sering dianggap penyebab penyumbatan perairan, eceng gondok bisa menjadi solusi alami untuk memulihkan kualitas air tercemar.

Rumput liar seperti belulang juga tidak kalah bermanfaat. Rumput ini mampu menahan erosi tanah, sekaligus menyerap polutan. Fungsi ganda ini menjadikan rumput liar tidak sekadar gulma, melainkan agen penting dalam menjaga kestabilan ekosistem.

6. Tantangan dan Keterbatasan Fitoremediasi

Keterbatasan Efektivitas

Meskipun fitoremediasi menawarkan banyak kelebihan, teknik ini juga memiliki keterbatasan. Tidak semua jenis polutan bisa diuraikan atau diserap oleh tanaman. Logam berat dengan konsentrasi sangat tinggi justru bisa menghambat pertumbuhan tanaman, sehingga efektivitas remediasi menurun.

Selain itu, proses fitoremediasi biasanya membutuhkan waktu lama. Hasilnya tidak bisa terlihat dalam hitungan minggu, melainkan bulan hingga bertahun-tahun tergantung kondisi tanah dan jenis tanaman yang digunakan.

Pengolahan Lanjutan Tanaman Terkontaminasi

Setelah tanaman menyerap logam berat, bagian tubuh tanaman tersebut menjadi limbah berbahaya. Jika dibiarkan membusuk di lahan, logam bisa kembali mencemari tanah. Oleh karena itu, diperlukan pengolahan lanjutan agar polutan benar-benar hilang.

Salah satu metode yang umum digunakan adalah pembakaran terkendali atau pengolahan termal. Proses ini menghancurkan jaringan tanaman, sementara logam bisa diendapkan atau diolah lebih lanjut. Tantangan lainnya adalah bagaimana memastikan pengolahan ini tidak menimbulkan polusi baru, misalnya asap atau abu beracun.

Kesimpulan

Fitoremediasi adalah metode ramah lingkungan untuk memulihkan tanah, air, dan udara yang tercemar. Tanaman fitoremediasi memiliki kemampuan menyerap, menstabilkan, hingga menguraikan polutan berbahaya. Gulma yang selama ini dianggap pengganggu justru berpotensi besar menjadi agen fitoremediasi yang efektif.

Berbagai contoh tanaman seperti biduri, Lindernia crustacea, alfalfa, dan rumput belulang telah terbukti dapat menyerap logam berat. Selain itu, gulma air seperti eceng gondok juga bermanfaat dalam membersihkan perairan tercemar.

Namun, penerapan fitoremediasi masih menghadapi tantangan, terutama terkait waktu yang lama dan pengolahan lanjutan tanaman terkontaminasi. Meski demikian, manfaatnya yang hemat biaya, ramah lingkungan, serta mudah diaplikasikan menjadikan fitoremediasi sebagai solusi penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.

 

Penulis: Elisabeth Kartini
Mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sumatera

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses