Persoalan lingkungan hidup dewasa ini menjadi tantangan global yang menuntut kesadaran dan tindakan kolektif seluruh umat manusia. Salah satu isu Krusial yang mendapat perhatian luas adalah persoalan sampah, baik sampah rumah tangga, industri, hingga limbah elektronik dan berbahaya.
Dalam ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015, persoalan lingkungan, termasuk sampah, dibahas secara mendalam sebagai bagian dari panggilan moral untuk merawat rumah bersama, yaitu bumi ini.
Ensiklik ini tidak hanya ditujukan kepada umat katholik, tetapi kepada seluruh umat manusia sebagai bentuk seruan universal untuk bertobat dari gaya hidup konsumtif dan merusak lingkungan. Salah satu konsep utama yang kemukakan dalam Laudato Si’ adalah istilah ‘’Budaya membuang’’ ( throwaway culture).
Budaya ini menggambarkan cara pandang dan perilaku manusia modern yang menjadikan barang dan bahkan sesame manusia sebagai sesuatu yang bisa dibuang ketika dianggap tidak berguna lagi. Paus Fransiskus menulis bahwa pada masyarakat saat ini, kita terlalu mudah mebuang barang-barang yang masih dapat digunakan, dan ini mencerminkan cara kita memperlakukan dunia serta makhluk hidup lainnya.
Persoalan sampah menjadi salah satu manifestasi nayata dari budaya membuang ini. Banyak Negara, termasuk Indonesia, menghadapi krisis pengelolaan sampah. Gunung sampah ditempat pembuangan akhir (TPA), pencemaran laut akibat plastik, serta dampak buruk sampah terhadap kesehatan manusia dan ekosistem adalah bukti bahwa system produksi dan konsumsi kita saat ini tidak berkelanjutan.
Menurut Laudato Si’, persoalan ini bukan semata-mata masalah teknis atau manajerial yang bisa diselesaikan dengan teknologi pengelolaan sampah, melainkan masalah moral dan spiritual yang lebih dalam. Kita harus bertanya: Mengapa kita menghasilkan begitu banyak sampah? Apa yang mendorong gaya hidup konsumtif kita? Dan bagaimana kita bisa mengubah cara hidup kita agar lebih selaras dengan kehendak sang pencipta?
Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus menyoroti gaya hidup konsumtif yang menjadi akar dari banyak persoalan lingkungan, termasuk sampah. Ia menekankan bahwa konsumerisme yang tidak terkendali mendorong manusia untuk membeli lebih dari yang dibutuhkan, menciptakan limbah yang tidak perlu dan memperlakukan bumi selayak-layaknya agar terhindar dari polusi akibat perbuatan manusia yang membuang sampah sembarangan.
Dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus menyerukan sebuah panggilan mendesak kepada seluruh umat manusia untuk memperhatikan dan merawat bumi sebagai ‘’Rumah Bersama’’.
Dokumen ini tidak hanya menjadi seruan religious, tetapi juga sebagai refleksi ekologis, social, dan moral yang menyentuh sebagai aspek krisis lingkungan, termasuk salah satu isu paling nyata dan mendesak: persoalan sampah. Persoalan sampah diangkat dalam Laudato Si’ sebagai bagian dari kritik dan budaya konsumsi dan mentalitas ‘’buang pakai’’ yang telah merusak relasi manusia dengan ciptaan.
Paus Fransiskus menyoroti bahwa manusia modern cenderung melakukan bumi sebagai rumah yang harus dirawat, tetapi sebagai gudang sumber daya yang bisa dieksploitasi sesuka hati. Akibatnya, bumi kini dipenuhi limbah, mulai dari plastic dilautan hingga tumpukan sampah diperkotaan, yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga memperdalam ketidakadilan sosial.
Salah satu akar dari persoalan sampah menurut Laudato Si’ adalah konsumerisme yang berlebihan. Paus Fransiskus menggunakan istilah ‘’budaya membuang’’ (throwaway culture), yang merujuk pada kebiasaan manusia modern yang membeli, memakai, lalu segera membuang barang tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.
Baca juga: Dari Laudato Si’ Menuju Aksi Nyata: Melawan Krisis Sampah Plastik
Dalam paragraph 22, Laudato Si’ menulis: ‘’Kita tidak lagi berbicara tentang fenomena ‘’ pemborosan dan konsumsi’ dalam cara hidup modern, tetapi tentang pendekatan meyeluruh yang menciptakan limbah besar-besaran, tidak hanya hal dalam makanan dan barang-barang yang dapat digunakan, tetapi juga manusia yang dianggap tidak berguna’’.
Ini merupakan kritik tajam terhadap bagiaman manusia memperlakukan tidak hanya benda, tetapi juga sesamanya, dengan cara yang sama seperti memperlakukan sampah. Perilaku konsumtif yang berakar pada keinginan akan kenyamanan dan kepuasan instan telah menyebabkan ledakan produksi barang yang pada akhirnya menjadi limbah.
Persoalan sampa dalam Laudato SI’ tidak hanya dilihat sebagai masalah teknis atau lingkungan semata, tetapi sebagai cerminan dari krisis moral. Sampah tidak hanya mencerminkan dari krisis moral.
Sampah tidak hanya mencemari bumi secara fisik, tetapi juga mencerminkan kekacauan batin manusia yang kehilangan kesadaran akan tanggung jawab terhadap ciptaan. Sampah juga menajdi amsalah social.
Dibanyak Negara berkembang, termasuk Indonesia, tempat-tempat pembuangan sampah sering berada didekat komunita msikin. Orang-orang ini harus hidup berdampingan dengan limbah beracun, menghadapi ancaman kesehatan, dan seringkali mengandalkan sampah untuk bertahan hidup.
Hal ini memperlihatkan bahwa dampak dari gaya hidup konsumtif amsyarakat kelas atas justru paling dirasakan oleh kelompok rentan. Hal yang berlaku tentang sampah seperti mereka yang paling sedikit menhasilakan limbah justru yang paling menderita karena keberadaan sammpah. Hal ini menunjukkan ketimbangan ekologis yang erat kaitannya dengan ketimpangan social.
Menurut Laudato Si’, setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk mengatasi persoalan sampah. Ini bukan hanya tugas pemerintah atau industru besar, tetapi panggilan untuk merubah gaya hidup secara personal dan kolektif.
Paus Fransiskus mengajak umat untuk kembali pada kesederhanaan, menggunakan barang sperlunya, dan menghindari pemborosan. Selain itu, Paus Fransiskus juga menekankan pentingnya pendidikan ekologis yang membentuk kesadaran alan pentingnya merawat lingkungan sejak dini.
Dalam hal ini, keluarga, sekolah, gereja, dan komunitas memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang perduli terhadap bumi agar terhindar dari pencemaran lingkungan agar bumi bisa menjadi rumah ternyaman untuk setiap amkhluk hidup yang tinggal didalamnya.
Penulis: Salusia Marilas Jebaut
Mahasiswa PKK, Sekolah Tinggi Pastoral Santo Sirilus Ruteng
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













