Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’, mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama (common home) yang harus dijaga.
Dalam dokumen itu beliau menegaskan bahwa “bumi, rumah kita, mulai terlihat seperti tumpukan kotoran” (Laudato Si, no. 21–22).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan sudah semakin parah dan menuntut tanggung jawab moral seluruh umat manusia.
Krisis ekologi tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia yang serakah dan tidak peduli, salah satunya tercermin dalam persoalan sampah plastik yang menumpuk di daratan maupun lautan, merusak ekosistem, dan mengancam kehidupan generasi mendatang.
Sampah plastik sangat erat kaitannya dengan budaya “sekali pakai” (throwaway culture) yang dikritik tajam oleh Paus Fransiskus.
Budaya ini membuat manusia terjebak pada pola konsumsi berlebihan, terbiasa menggunakan sesuatu sebentar lalu membuangnya.
Dalam Laudato Si’, disebutkan bahwa budaya konsumtif ini menyebabkan bumi penuh dengan limbah dan sampah yang tidak tertangani.
Baca Juga: Promosi Ajaran Sosial Gereja (ASG) bagi Kaum Muda
Di sisi lain, ensiklik ini juga menegaskan bahwa “segala sesuatu berhubungan satu sama lain dan kita semua manusia bersaudara” (Laudato Si’, no. 92).
Sampah plastik yang dibuang sembarangan tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga pada kesehatan sesama manusia, terutama mereka yang miskin dan lemah.
Dengan demikian, melawan sampah plastik adalah bagian dari panggilan untuk hidup dalam solidaritas ekologis.
Paus Fransiskus juga mengajak setiap orang untuk mengalami apa yang disebut sebagai “pertobatan ekologis”.
Dalam Laudato Si’, beliau menegaskan bahwa krisis lingkungan menuntut perubahan hati dan gaya hidup.
Pertobatan ekologis berarti menyadari bahwa relasi manusia dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari relasinya dengan ciptaan.
Bumi bukan hanya sumber daya yang bisa dipakai sesuka hati, tetapi juga anugerah Allah yang harus dihormati.
Dengan kesadaran ini, setiap tindakan kecil untuk mengurangi plastik sekali pakai atau memilah sampah menjadi wujud nyata 6 yang hidup.
Dampak sampah plastik sebenarnya sudah terlihat jelas.
Plastik yang mencemari tanah dan laut merusak keanekaragaman hayati.
Banyak hewan laut mati karena mengira plastik sebagai makanan.
Bahkan, plastik dalam bentuk mikro telah masuk ke dalam rantai makanan manusia.
Namun lebih jauh lagi, Paus Fransiskus mengingatkan dalam Laudato Si’ nomor 49 bahwa dampak krisis ekologi paling berat ditanggung oleh orang miskin.
Hal ini juga berlaku pada persoalan sampah plastik: masyarakat kecil yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah sering menjadi korban pertama dari pencemaran dan penyakit.
Oleh sebab itu, perjuangan melawan sampah plastik bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah keadilan sosial.
Baca Juga: Krisis Ekologi Sebabkan Perubahan Iklim dan Kemarau Panjang, Dimana Peran Khalifah di Bumi?
Untuk menjawab tantangan ini, Paus Fransiskus mendorong tindakan nyata.
Dalam Laudato Si’ nomor 211, beliau menekankan pentingnya “tindakan kecil sehari-hari”, seperti mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, atau menggunakan barang daur ulang.
Tindakan sederhana ini, meskipun tampak kecil, menjadi bagian dari upaya global merawat bumi.
Ketika setiap orang berani mengubah kebiasaan, maka budaya baru yang lebih ramah lingkungan akan lahir.
Gereja juga memiliki peran penting dalam menghidupkan panggilan ekologis ini.
Melalui homili, perayaan liturgi, maupun kegiatan pastoral, umat bisa diajak untuk menghubungkan iman dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Kitab Suci menegaskan bahwa Allah melihat ciptaan-Nya sebagai sesuatu yang “sungguh amat baik” (Kej. 1:31).
Baca Juga: Hutan sebagai Rumah Bersama: Inspirasi Laudato Si
Menjaga bumi berarti menghormati Sang Pencipta. Maka, aksi mengurangi sampah plastik adalah bagian dari penghayatan iman kristiani.
Umat yang merawat lingkungan sedang mewujudkan kasih kepada Allah sekaligus kepada sesama, karena bumi adalah rumah bersama yang harus ditinggali secara adil dan berkelanjutan.
Krisis sampah plastik adalah wajah nyata kerusakan rumah bersama kita.
Laudato Si’ menegaskan bahwa refleksi iman harus diwujudkan dalam aksi nyata.
Dari langkah sederhana seperti mengurangi plastik sekali pakai hingga kebiasaan memilah sampah, semua usaha akan berarti bila dilakukan dengan konsisten.
Dari Laudato Si’ menuju aksi nyata, kita diajak untuk mencintai bumi sebagai anugerah Allah.
Bila kita sungguh peduli terhadap rumah bersama ini, maka saatnya membuktikan kepedulian itu dengan tindakan nyata sekarang juga.
Penulis: Lorensia Andung
Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Sekolah Tinggi Pastoral Santo Sirilus Ruteng
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














