Keberadaan hutan sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di seluruh dunia. Karena hutan menyediakan oksigen dan keanekaragaman hayati, kehidupan di Bumi akan kehilangan keseimbangannya.
Kerusakan hutan dewasa ini menjadi alarm yang mendorong kita untuk memperhatikan lingkungan kita. Hutan adalah rumah bagi manusia, hewan, dan ekosistem, bukan hanya kumpulan pepohonan. Hutan menyimpan kekayaan alam yang tak ternilai di balik rindangnya pepohonan.
Hilangnya hutan menunjukkan hilangnya identitas budaya, sumber makanan, dan pendukung kehidupan masyarakat adat. Tempat manusia belajar tentang keseimbangan dan kedamaian, hutan adalah simbol keharmonisan ciptaan. Karena dampak langsungnya terhadap krisis iklim dunia, fenomena deforestasi semakin diabaikan.
Merawat hutan berarti menjaga generasi berikutnya. Hutan mengajarkan kita bahwa hidup harus selaras, bukan egois terhadap alam.
Dalam ensiklik Laudato si paus fransisikus menegaskan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga. Laudato Si itu sendiri berasal dari bahasa Italia, yaitu Laudato Si mi Signore yang artinya terpujilah engkau Tuhan Allah semesta alam.
Ungkapan tersebut berasal dari pujian seorang mistikus, Fransiskus dari Assisi dalam Paus Fransisikus mengajak umat manusia, bukan hanya umat katolik menjaga dan memperhatikan Alam.
Salah satu cara untuk menjaga alam itu supaya tetap kokoh yaitu dengan melakukan reboisasi bersama masyarak agar terciptanya keanekaragaman hayati-hutan menjadi habitat alami bagi flora dan fauna.
Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa hutan kerap dipandang semata-mata sebagai komoditas. Pembalakan liar, alih fungsi lahan, dan eksploitasi berlebihan telah merusak ekosistem. Hal ini tidak hanya berdampak pada hilangnya flora dan fauna, tetapi juga mengancam kehidupan manusia sendiri.
Inilah yang ditekankan dalam Laudato Si’: kerusakan lingkungan adalah juga kerusakan terhadap kemanusiaan. Sebagai rumah bersama, hutan menuntut perlakuan penuh tanggung jawab. Ia harus dijaga bukan hanya untuk generasi saat ini, melainkan juga untuk generasi mendatang.
Paus Fransiskus mengingatkan bahwa bumi bukan warisan dari nenek moyang semata, tetapi pinjaman dari anak cucu kita. Maka, menjaga hutan berarti menjaga kehidupan masa depan.
Kesadaran akan pentingnyaa menjaga hutan sesunggunya harus dimulai dari cara pandang manusia itu sendiri jika manusia melihat hutan sebagai sumber kayu atau lahan ekonomi,maka yang terjadi adalah eksploitasi tanpa batas.
Namun, bila hutan dipandang sebagai rumag bersama,tempat dimana seluru ciptaan saling bergantung,maka akan lahir sikap penuh hormat dan tanggug jawab.inilah inti dari pesan Laudato si: manusia dipanggil untuk menjadi penjaga bukan perusak ciptaan.
Kerusakan hutan dewasa ini menjadi alarm yang mendorong kita untuk memperhatikan lingkungan kita. Hutan adalah rumah bagi manusia, hewan, dan ekosistem, bukan hanya kumpulan pepohonan.
Menjaga hutan juga berarti menjaga keseimbangan hidup manusia. Hutan berfungsi sebagai sumber udara bersih, pengatur iklim, penyimpan udara, dan penghalang bencana alam. Ketika hutan dirusak, banjir, tanah longsor, dan kekeringan menjadi lebih umum. Orang-orang bertanggung jawab atas hasilnya pada akhirnya
Oleh karena itu, untuk kebijakan lingkungan yang adil, penebanaga pohon harus dikendalikan dan reboisasi segera dilakukan. Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus menekankan bahwa kerusakan lingkungan terkait erat dengan krisis moral dan sosial.
Baca juga: Green Supply Chain Managemet sebagai Kunci Permasalahan Kerusakan Lingkungan Hidup
Jika seseorang menjadi rakus dan hanya mencari keuntungan, mereka yang paling lemah akan dikorbankan: masyarakat adat, kaum miskin, dan generasi berikutnya. Akibatnya, menjaga hutan bukan hanya masalah ekologis tetapi juga masalah keadilan.
Dengan menjaga hutan, kita mempertahankan hak orang miskin dan anak cucu mereka untuk hidup di bumi yang layak. Menjaga hutan adalah tugas seluruh umat manusia, bukan hanya pemerintah atau lembaga internasional.
Setiap individu mempunyai kesempatan untuk berkontribusi, entah dengan mengurangi penggunaan barang berbahan kayu ilegal, menanam pohon, mendukung produk ramah lingkungan, atau bergabung dengan gerakan pelestarian alam. Jika setiap orang mengetahui apa yang mereka lakukan, bumi akan menjadi rumah bersama yang baik di mana semua makhluk dapat hidup bersama dengan baik.
Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan generasi saat ini dan generasi berikutnya. Setiap kehidupan bergantung pada satu sama lain dan dibuang di dalam Hutan, yang menunjukkan harmoni ciptaan.
Jika manusia memperlakukan hutan hanya sebagai komoditas, akan terjadi krisis ekologi dan kemanusiaan. Sebaliknya, jika hutan dianggap sebagai rumah bersama, akan muncul kesadaran, rasa hormat, dan rasa tanggung jawab.
Laudato Si’ mengingatkan kita pada seruan moral bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak atas alam, melainkan penjaga yang harus menjaganya. Krisis yang sedang terjadi pada lingkungan kita sebenarnya mirip dengan krisis yang terjadi pada jiwa manusia.
Hutan ditebang tanpa henti, tanah dieksploitasi tanpa henti, dan udara dikotori demi keuntungan saat ini karena ketamakan dan keegoisan. Namun, banjir, longsor, kekeringan, bahkan krisis pangan adalah semua contoh kerusakan lingkungan yang selalu berdampak pada individu.
Akibatnya, menjaga hutan bukan sekedar tindakan ekologis; itu juga merupakan keadilan bagi kaum miskin, masyarakat adat, dan anak cucu kita yang berhak atas tanah yang layak huni.
Saatnya kita bekerja sama. Merawat hutan bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti menanam pohon, mengurangi produk kayu ilegal, mendukung ekonomi hijau, dan mengubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan.
Jika dilakukan dengan kesadaran bahwa kita semua tinggal di Bumi, setiap langkah kecil akan berarti banyak. Bumi adalah pinjaman dari generasi mendatang, bukan warisan nenek moyang, kata Paus Fransiskus. Akibatnya, menjaga hutan menunjukkan cinta kita pada kehidupan, pada Sang Pencipta, dan pada sesama manusia.
Penulis: Anastasia Susanti Jafar
Mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral St Sirilus Ruteng
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












