Ternyata Seporsi Mie Ayam bukan sekedar makanan untuk santapan perut! Tetapi juga menyimpan makna tentang perjalanan hidup. Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati mengajak kita untuk merenungi makna dibalik setiap rasa, kenangan dan pilihan jalan hidup.
***
Novel “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” ini menceritakan tentang Ale, seorang pegawai kantoran berusia 37 tahun yang sedang berada di ujung jurang depresi akut. Di tengah rasa kesepian dan keputusasaannya, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, sebelum melakukan tindakan nekat itu, ia memilih untuk menikmati seporsi mie ayam untuk makanan terakhirnya.
Tidak disangka, mie ayam ini justru menjadi titik balik dalam hidupnya. Brian Khrisna, penulis novel ini, merangkai kisah nyata dari wawancara dengan orang-orang yang berhasil bertahan dari depresi akut (DDS), menciptakan cerita yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
***
Bagian paling mengejutkan dalam cerita ini adalah bagaimana plot twist hidup sering kali datang di saat yang tak terduga. Ale, yang awalnya hanya ingin mengakhiri hidupnya, justru dipertemukan dengan berbagai karakter—Murad, Mami Louisse, Julena, Ipul, Bu Murni, Pak Uju, dan Pak Jipren—yang membantu membuka matanya bahwa hidup ternyata masih bisa memberi kesempatan.
Dalam pertemuan-pertemuan ini, Ale akhirnya memahami bahwa hidup bukan soal menjalani ekspektasi orang lain, tapi tentang menerima diri sendiri dan perjalanan yang penuh luka.
***
Dalam novel ini juga menunjukan tentang suara luka apalagi luka soal penampilan fisik. Ale, yang sejak kecil menjadi korban bullying karena berat badannya yang berlebihan, Ale hidup dalam bayang-bayang rasa minder dan kesepian.
Buku ini menggambarkan dengan jujur mengenai penampilan fisik sering kali menjadi pembatas antara seseorang dengan dunia luar, menciptakan luka yang dalam.
Hal ini merupakan bagian dari suara luka yang masih banyak disembunyikan dalam masyarakat. Dan melalui buku ini, kita diajak paham bahwa terkadang kita dapat belajar memanusiakan manusia itu justru dari tempat yang paling tidak manusiawi, tempat dimana kita merasa paling hina dan terkucilkan.
***
Selain itu, kabar menarik datang dari Instagram resmi @pai.media, yang menginformasikan bahwa “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” akan diadaptasi menjadi film. Adaptasi ini bisa menjadi pintu masuk bagi lebih banyak orang untuk mengenal kisah Ale dan tema-tema penting yang diangkat dalam buku ini.
Baca juga: Review Buku Komunikasi Profetik
Melalui layar lebar, cerita tentang kesehatan mental dan perjuangan melawan depresi yang jarang dibicarakan diharapkan dapat menjangkau lebih luas dan menggugah empati banyak pihak.
***
Seperti yang dikatakan oleh Ale di halaman terakhir, “Aku belajar bawa kunci bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima. Menerima jika tidak semua hari akan berjalan baik, tidak semua rencana berjalan lancar, tidak semua akan berlaku baik ketika kamu baik kepada mereka. Dan itu semua tidak apa-apa” (Hal. 198).
Buku ini mengajarkan kita bahwa hidup tidak selalu tentang kebahagiaan, tapi tentang keberanian untuk terus melangkah meskipun penuh luka.
***
Secara keseluruhan, novel ini menawarkan lebih dari sekadar cerita tentang depresi. “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” mengajak pembaca untuk berpikir lebih dalam tentang arti hidup, perjuangan untuk menerima diri sendiri, dan keberanian untuk bangkit setelah jatuh.
Buku ini sangat layak dibaca, terutama bagi mereka yang merasa terperangkap dalam keputusasaan, karena cerita ini membuktikan bahwa tidak ada yang pernah benar-benar sendirian dalam kesedihan.
Rating: 9/10
Genre: Fiksi
Tebal: 210 Halaman
NB: Foto dalam artikel ini merupakan foto pibadi
Penulis: Defa Sari Wijaya
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Malang
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














