Rezeki Berganti Pintu, Adab Tetap Menjadi Mahkota di Setiap Keadaan

Adab dalam Keluarga

“Dan Dia-lah yang menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 35).

Sejak awal penciptaannya, manusia tidak pernah dijanjikan kehidupan yang selalu berjalan sesuai harapan. Alloh SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya, sementara seluruh perjalanan hidup di dunia merupakan rangkaian ujian yang akan menentukan kualitas keimanan, kesabaran, dan ketakwaannya.

Karena itu, segala sesuatu yang dimiliki manusia—kesehatan, keluarga, kedudukan, hingga rezeki—bukanlah hak yang melekat selamanya, melainkan amanah yang sewaktu-waktu dapat Alloh SWT tambahkan, kurangi, bahkan alihkan sesuai kehendak-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad [90]: 4)

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi dalam memandang kehidupan adalah ketika manusia menganggap bahwa nikmat merupakan hasil dari kehebatan dirinya, sementara musibah dianggap semata-mata sebagai kegagalan usaha.

Padahal, seorang Muslim meyakini bahwa segala sesuatu yang hadir dalam kehidupannya berada di bawah kehendak Alloh SWT. Tidak ada setetes rezeki yang datang karena kekuatan manusia semata, sebagaimana tidak ada satu pun ujian yang menimpa tanpa seizin-Nya. Kelapangan maupun kesempitan, keduanya adalah bagian dari cara Alloh SWT mendidik hamba-Nya agar semakin mengenal hakikat dirinya sebagai seorang hamba.

Karena itu, sebelum seseorang dikenal sebagai suami, istri, ayah, ibu, pemimpin, pengusaha, atau pekerja, ia terlebih dahulu adalah hamba Alloh SWT. Inilah identitas yang tidak pernah berubah oleh keadaan. Jabatan dapat hilang, pekerjaan dapat berganti, penghasilan dapat naik dan turun, tetapi kedudukan manusia sebagai hamba tetap melekat hingga akhir hayatnya.

Dari sinilah seorang Muslim memandang bahwa seluruh perjalanan hidupnya bukanlah perlombaan untuk menjadi manusia yang paling berhasil di hadapan sesama, melainkan ikhtiar untuk menjadi hamba yang paling baik dalam menjalankan amanah yang Alloh SWT titipkan.

Amanah Keluarga sebagai Jalan Ibadah

Di antara amanah terbesar yang Alloh SWT berikan adalah keluarga. Pernikahan bukan sekadar ikatan antara dua insan yang saling mencintai, tetapi perjanjian yang kokoh (mītsāqan ghalīẓā) untuk bersama-sama beribadah kepada Alloh SWT.

Suami dan istri dipersatukan bukan agar saling mengalahkan, melainkan agar saling menguatkan. Perbedaan peran yang Alloh SWT tetapkan bukanlah tanda bahwa salah satunya lebih mulia, tetapi merupakan pembagian amanah agar kehidupan berjalan dengan seimbang.

Ketika seorang suami menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh keikhlasan, ia sedang beribadah. Ketika seorang istri menunaikan amanahnya dengan penuh keikhlasan, ia pun sedang beribadah. Nilai keduanya di sisi Alloh SWT tidak ditentukan oleh siapa yang paling banyak dipuji manusia, tetapi oleh siapa yang paling bertakwa kepada-Nya.

Kesadaran ini penting, sebab tidak sedikit persoalan rumah tangga berawal ketika seseorang mulai melupakan hakikat dirinya. Keberhasilan ekonomi kemudian dianggap sebagai hasil jerih payah pribadi, seolah-olah tidak ada campur tangan Alloh SWT dan tidak ada pengorbanan orang lain yang turut mengantarkannya pada titik tersebut.

Padahal, dalam sebuah keluarga hampir tidak ada keberhasilan yang benar-benar berdiri sendiri. Suami yang berhasil mengembangkan usahanya boleh jadi menikmati ketenangan karena istrinya menjaga rumah, mendidik anak-anaknya, dan tidak pernah berhenti mendoakannya.

Sebaliknya, seorang istri yang sukses membangun karier atau usahanya boleh jadi mampu berkembang karena suaminya memberikan rasa aman, kepercayaan, dan mengambil bagian dari tanggung jawab rumah tangga. Keberhasilan yang tampak pada satu orang sering kali merupakan buah dari pengorbanan yang dipikul bersama.

Di sinilah Islam mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat mendalam: keberhasilan dalam keluarga bukanlah milik “aku”, melainkan milik “kita” yang Alloh SWT karuniakan melalui peran masing-masing.

Oleh karena itu, tidak ada ruang bagi suami untuk menyombongkan dirinya ketika Alloh SWT melapangkan rezekinya, sebagaimana tidak ada ruang bagi istri untuk merasa paling berjasa ketika Alloh SWT memilih tangannya sebagai jalan datangnya rezeki bagi keluarga.

Sebab, hari ini Alloh SWT mungkin membuka satu pintu rezeki, tetapi esok hari Dia dapat membukakan pintu yang lain. Yang tetap dituntut dari seorang mukmin bukanlah mempertahankan keadaan, melainkan menjaga keimanan, amanah, dan adab dalam setiap perubahan yang Alloh SWT tetapkan.

Berangkat dari pemahaman inilah kita perlu melihat sebuah fenomena yang semakin sering dijumpai dalam kehidupan keluarga Muslim dewasa ini, yaitu ketika suami kehilangan pekerjaan, sementara istri menjadi penopang utama ekonomi keluarga.

Apakah perubahan tersebut mengubah kedudukan suami dan istri di hadapan Alloh SWT? Apakah besarnya penghasilan dapat menjadi ukuran kemuliaan seseorang? Ataukah justru di situlah Alloh SWT sedang menguji kualitas iman, kerendahan hati, dan adab keduanya sebagai pasangan?

Kesadaran bahwa seluruh nikmat merupakan amanah akan melahirkan satu sikap penting dalam diri seorang mukmin, yaitu tidak mudah mengklaim keberhasilan sebagai hasil usahanya sendiri.

Sebab, Alloh SWT sering kali menghadirkan keberhasilan seseorang melalui perantara orang-orang di sekitarnya. Betapa banyak suami yang mampu membangun karier karena di belakangnya ada istri yang dengan sabar menjaga rumah, mendidik anak-anak, mendoakan setiap langkahnya, bahkan rela mengubur impian pribadinya demi menjaga keutuhan keluarga.

Sebaliknya, tidak sedikit istri yang berhasil mengembangkan usaha atau profesinya karena suami memberikan kepercayaan, perlindungan, dan ketenangan sehingga ia dapat berkarya dengan maksimal. Apa yang tampak sebagai keberhasilan individu pada hakikatnya sering kali merupakan hasil dari pengorbanan bersama yang Alloh SWT rangkai melalui ikatan keluarga.

Oleh karena itu, seorang Muslim semestinya berhati-hati ketika memandang sebuah keberhasilan. Jangan sampai seseorang merasa bahwa harta yang dimilikinya, jabatan yang diraihnya, atau usaha yang berkembang merupakan bukti kehebatan dirinya semata.

Al-Qur’an mengabadikan kisah Qarun yang berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” Kesombongan seperti inilah yang kemudian mengantarkannya kepada kebinasaan.

Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa ketika manusia memutus hubungan antara nikmat dan Pemberi Nikmat, ia akan mudah terjerumus pada perasaan paling berjasa dan paling berhak mendapatkan penghormatan.

Perubahan Keadaan sebagai Ujian Akhlak

Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan rumah tangga. Ketika Alloh SWT melimpahkan rezeki melalui tangan suami, jangan sampai suami memandang dirinya sebagai satu-satunya sebab kesejahteraan keluarga. Sebab, boleh jadi keberkahan rezeki itu lahir dari doa seorang istri yang tidak pernah putus, dari kesabaran anak-anak yang selalu mendoakan orang tuanya, atau dari suasana rumah yang penuh ketenangan sehingga ia mampu bekerja dengan baik.

Demikian pula ketika Alloh SWT membuka pintu rezeki melalui tangan istri, jangan sampai ia merasa bahwa seluruh keberlangsungan keluarga bergantung pada dirinya. Sebab, boleh jadi Alloh SWT melapangkan jalannya karena ada suami yang tetap menjaga keluarga, mendidik anak-anak, dan memberikan ruang baginya untuk berkembang.

Dalam pandangan Islam, manusia hanya diperintahkan untuk berikhtiar, sedangkan keberhasilan dan keberkahan tetap berada di tangan Alloh SWT.

Di sinilah letak perbedaan antara cara pandang Islam dengan cara pandang yang hanya berorientasi pada materi. Ukuran keberhasilan dalam Islam bukan sekadar siapa yang menghasilkan lebih banyak, melainkan siapa yang paling baik dalam menunaikan amanah yang Alloh SWT titipkan.

Suami akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, sebagaimana istri akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang berada di bawah tanggungannya. Keduanya tidak sedang berlomba menjadi yang paling berjasa, tetapi berlomba menjadi hamba yang paling taat kepada Alloh SWT dalam menjalankan perannya masing-masing.

Namun, realitas kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan pembagian peran yang ideal. Ada kalanya Alloh SWT menguji sebuah keluarga dengan perubahan keadaan yang tidak pernah mereka bayangkan.

Suami yang selama bertahun-tahun menjadi pencari nafkah utama tiba-tiba kehilangan pekerjaannya karena pemutusan hubungan kerja, kebangkrutan usaha, atau sebab lainnya. Sementara itu, Alloh SWT justru membuka pintu rezeki melalui sang istri.

Pada awalnya, keadaan tersebut diterima sebagai bentuk ikhtiar bersama. Suami tetap berusaha mencari pekerjaan yang halal, sedangkan istri dengan lapang dada membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, demi menjaga keberlangsungan rumah tangga, suami mengambil porsi yang lebih besar dalam mengurus anak dan menyelesaikan pekerjaan domestik.

Semua dilakukan atas dasar musyawarah, saling pengertian, dan kesadaran bahwa keluarga sedang menghadapi ujian dari Alloh SWT.

Sayangnya, tidak semua keluarga mampu menjaga semangat itu hingga akhir. Seiring berjalannya waktu, ujian yang semula hanya berupa persoalan ekonomi perlahan berubah menjadi ujian akhlak.

Ketika penghasilan mulai dijadikan ukuran kemuliaan, lahirlah perasaan bahwa pihak yang membawa rezeki adalah pihak yang paling berjasa. Dari sinilah penghormatan mulai memudar, pengorbanan masa lalu mulai diungkit, dan pekerjaan yang semula dilakukan dengan penuh keikhlasan berubah menjadi alasan untuk menuntut pengakuan.

Padahal, sesungguhnya Alloh SWT sedang menguji bukan hanya siapa yang memperoleh rezeki, tetapi juga siapa yang tetap mampu menjaga adab ketika jalan datangnya rezeki berubah.

Di sinilah seorang Muslim dituntut untuk kembali kepada petunjuk Alloh SWT, bukan kepada penilaian manusia. Sebab, ketika ukuran kemuliaan mulai ditentukan oleh besarnya penghasilan, maka rumah tangga perlahan akan kehilangan arah.

Apa yang semula dibangun di atas landasan ibadah dapat berubah menjadi hubungan transaksional, yaitu ketika penghormatan diberikan kepada siapa yang paling banyak memberi manfaat secara materi. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan cara pandang yang sangat berbeda.

Alloh SWT berfirman:

“Kaum laki-laki adalah qawwām atas kaum perempuan karena Alloh SWT telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (QS. An-Nisā’ [4]: 34).

Ayat ini sering dipahami hanya pada satu sisi, yaitu kewajiban suami memberikan nafkah. Padahal, para mufasir menjelaskan bahwa makna qawwām jauh lebih luas daripada sekadar pencari nafkah.

Kata qawwām berasal dari akar kata qāma yang mengandung makna berdiri tegak, menjaga, memelihara, membimbing, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, kepemimpinan dalam rumah tangga bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah yang menuntut pengorbanan.

Seorang suami tidak dimuliakan karena memiliki kedudukan yang lebih tinggi, tetapi karena ia memikul tanggung jawab yang lebih besar di hadapan Alloh SWT.

Karena itu, mengaitkan kepemimpinan suami semata-mata dengan besarnya penghasilan merupakan penyederhanaan terhadap makna ayat tersebut.

Benar bahwa memberikan nafkah merupakan kewajiban suami selama ia mampu. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan dalam keadaan ideal. Ada masa ketika Alloh SWT melapangkan rezeki seorang suami, dan ada pula masa ketika Alloh SWT menyempitkannya.

Dalam kondisi seperti itu, apakah amanah kepemimpinannya otomatis gugur?

Tentu tidak. Sebab, kepemimpinan dalam Islam tidak hanya diukur dari kemampuan memberi nafkah, tetapi juga dari kesungguhan menjaga keluarga, membimbing, melindungi, bermusyawarah, dan terus berikhtiar memenuhi tanggung jawabnya.

Sebaliknya, ketika Alloh SWT membuka pintu rezeki melalui tangan seorang istri, hal itu juga tidak menjadikannya berpindah kedudukan sebagai pemimpin keluarga.

Rezeki yang Alloh SWT titipkan kepadanya merupakan nikmat sekaligus ujian. Ujian itu bukan sekadar apakah ia mampu memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga apakah ia tetap menjaga kerendahan hati, menghormati suaminya, serta tidak menjadikan kelebihan ekonomi sebagai alasan untuk merasa lebih berjasa.

Sebab, dalam Islam semakin besar nikmat yang Alloh SWT titipkan kepada seseorang, semakin besar pula amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Di sinilah letak keseimbangan ajaran Islam. Ketika suami diuji dengan kehilangan pekerjaan, ia tidak dibenarkan berputus asa atau melepaskan tanggung jawabnya. Ia tetap wajib berikhtiar mencari rezeki yang halal, menjaga keluarganya, serta menjalankan amanah kepemimpinannya sesuai kemampuan yang Alloh SWT berikan.

Pada saat yang sama, ketika istri diuji menjadi penopang utama ekonomi keluarga, ia tidak dibenarkan menjadikan keadaan tersebut sebagai alasan untuk menggeser penghormatan kepada suaminya.

Keduanya sedang menghadapi ujian yang berbeda, tetapi keduanya dituntut menjawab ujian itu dengan ketakwaan yang sama.

Di sinilah sering kali letak kekeliruan cara pandang manusia. Kita begitu mudah mengukur peran dengan angka, padahal Alloh SWT mengukurnya dengan amanah. Kita begitu mudah mengukur jasa dengan besarnya penghasilan, padahal Alloh SWT menilainya dari keikhlasan, tanggung jawab, dan ketakwaan.

Akibatnya, ketika ukuran manusia mulai menggantikan ukuran Alloh SWT, rumah tangga yang semula menjadi tempat berlabuhnya ketenangan perlahan berubah menjadi ruang kompetisi untuk menentukan siapa yang paling berhak dihormati.

Selama semua itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab, kasih sayang, dan ikhtiar menjaga keutuhan keluarga, maka yang sedang dilakukan bukanlah kehinaan, melainkan ibadah. Sebab, kemuliaan seorang mukmin tidak terletak pada jenis pekerjaan yang ia lakukan, tetapi pada niat dan ketaatannya kepada Alloh SWT.

Ucapan yang Dapat Mengikis Keikhlasan Amal

Namun, ada satu ujian yang sering kali lebih berat daripada kesulitan ekonomi itu sendiri, yaitu ketika hati mulai merasa memiliki andil paling besar dalam kehidupan keluarga.

Perasaan ini biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dimulai dari keyakinan bahwa penghasilan yang dibawa pulang adalah hasil kerja keras pribadi, lalu berkembang menjadi anggapan bahwa seluruh roda kehidupan keluarga berputar karena dirinya.

Ketika perasaan itu dibiarkan, rasa syukur perlahan berubah menjadi rasa memiliki, dan amanah berubah menjadi kebanggaan.

Dari sinilah lahir kebiasaan mengungkit jasa. Kalimat-kalimat seperti, “Kalau bukan karena saya, keluarga ini tidak akan bertahan,” atau, “Selama ini saya yang menghidupi rumah ini,” mungkin terdengar sebagai ungkapan kekecewaan.

Padahal, dalam pandangan Islam, ucapan seperti ini patut diwaspadai karena dapat mengikis keikhlasan amal yang selama ini dibangun. Seseorang yang terus-menerus mengingat jasanya sendiri akan semakin sulit melihat pengorbanan orang lain. Ia lupa bahwa di balik setiap rupiah yang dibawa pulang, ada pasangan yang juga sedang berkorban dengan caranya sendiri.

Al-Qur’an memberikan pelajaran yang sangat mendalam ketika melarang orang-orang beriman merusak nilai kebaikannya dengan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti perasaan orang lain. Meskipun ayat tersebut berbicara tentang sedekah, hikmahnya sangat relevan dalam kehidupan rumah tangga.

Sebuah kebaikan yang terus-menerus diiringi dengan ungkitan dan kata-kata yang melukai akan kehilangan keindahan yang semestinya menjadi buah dari keikhlasan. Amal yang semula bernilai ibadah dapat berubah menjadi sebab lahirnya luka di hati orang yang paling dekat dengan kita.

Ironisnya, yang diungkit sering kali hanyalah pengorbanan yang tampak oleh mata.

Kita mudah mengingat siapa yang membayar kebutuhan rumah tangga, tetapi lupa siapa yang setiap malam mendoakan keluarganya. Kita mudah menghitung siapa yang menghasilkan uang, tetapi lupa siapa yang menjaga anak ketika sakit, siapa yang menenangkan pasangan saat putus asa, siapa yang menahan air mata agar rumah tetap terasa damai, dan siapa yang terus menyemangati ketika harapan mulai memudar.

Padahal, Alloh SWT mengetahui seluruh pengorbanan itu, termasuk yang tidak pernah diketahui oleh manusia.

Bukankah sangat mungkin seorang suami memperoleh keluasan rezeki karena kesabaran istrinya? Bukankah sangat mungkin seorang istri diberi kelancaran usaha karena doa suaminya yang tidak pernah terputus? Bukankah sangat mungkin sebuah keluarga tetap bertahan karena ada satu pihak yang memilih diam ketika sebenarnya ia mampu membalas?

Semua itu adalah sebab-sebab keberkahan yang tidak selalu terlihat oleh mata manusia, tetapi tidak pernah luput dari penilaian Alloh SWT.

Oleh karena itu, ketika seseorang mulai berkata, “Semua ini terjadi karena saya,” sesungguhnya ia sedang melupakan dua hal sekaligus: melupakan pertolongan Alloh SWT dan melupakan jasa orang-orang yang Alloh SWT jadikan sebagai sebab datangnya nikmat tersebut.

Padahal, seorang mukmin yang matang justru akan semakin rendah hati ketika Alloh SWT menitipkan keberhasilan kepadanya. Ia menyadari bahwa tidak ada keberhasilan yang benar-benar lahir dari dirinya sendiri. Semuanya merupakan rangkaian takdir yang Alloh SWT susun melalui doa, pengorbanan, kesabaran, dan keikhlasan banyak orang di sekelilingnya.

Barangkali, inilah saatnya setiap suami dan istri berhenti sejenak untuk bertanya kepada dirinya sendiri.

Seandainya hari ini Alloh SWT memperlihatkan seluruh perjalanan rumah tangga kita, siapakah sebenarnya yang paling berjasa?

Apakah benar orang yang paling banyak membawa uang ke rumah? Ataukah orang yang paling sering mengalah?

Apakah yang paling besar jasanya adalah yang bekerja sejak pagi hingga petang? Ataukah yang setiap hari menjaga anak-anak, merawat rumah, dan menguatkan pasangannya ketika harapan mulai memudar?

Barangkali, tidak seorang pun mampu menjawabnya dengan adil. Sebab, manusia hanya melihat apa yang tampak, sedangkan Alloh SWT mengetahui seluruh pengorbanan yang tersembunyi.

Alloh SWT mengetahui air mata seorang istri yang diam-diam jatuh dalam sujudnya ketika mendoakan suaminya agar dimudahkan mencari pekerjaan.

Alloh SWT mengetahui kegelisahan seorang suami yang setiap hari keluar rumah dengan harapan membawa kabar baik bagi keluarganya, namun berkali-kali pulang dengan tangan hampa.

Alloh SWT mengetahui siapa yang menahan lisannya ketika sebenarnya mampu membalas, siapa yang memilih mengalah demi menjaga keutuhan keluarga, dan siapa yang tetap tersenyum agar anak-anak tidak ikut merasakan beratnya ujian yang sedang mereka hadapi.

Semua itu mungkin tidak pernah tercatat dalam ingatan pasangan, tetapi tidak pernah luput dari ilmu Alloh SWT.

Di hadapan manusia, pengorbanan dapat terlupakan. Di hadapan Alloh SWT, tidak ada satu pun kebaikan yang hilang tanpa balasan. Bahkan, amal yang dianggap kecil oleh manusia dapat menjadi sangat besar karena keikhlasan yang menyertainya.

Karena itu, alangkah ruginya apabila seseorang menghabiskan usianya dengan sibuk menghitung jasanya sendiri.

Setiap kali mengungkit pengorbanan, sesungguhnya ia sedang memperkecil nilai keikhlasan yang dahulu ia bangun. Setiap kali merasa dirinya paling berjasa, sesungguhnya ia sedang menutup mata dari begitu banyak nikmat yang Alloh SWT hadirkan melalui tangan orang lain.

Jika Alloh SWT berkehendak memperlihatkan seluruh sebab datangnya sebuah keberhasilan, mungkin manusia akan terkejut.

Betapa banyak suami yang tidak pernah menyadari bahwa ketenangan berpikir yang ia rasakan ketika bekerja merupakan buah dari istri yang menjaga rumah dengan penuh kesabaran.

Sebaliknya, betapa banyak istri yang tidak pernah menyadari bahwa keberanian melangkah mengembangkan usaha lahir karena ada suami yang tetap berdiri di belakangnya, menjaga anak-anak, menguatkan jiwanya, dan tidak pernah berhenti mendoakannya.

Masing-masing melihat pengorbanannya sendiri dengan sangat jelas, tetapi sering kali kurang mampu melihat pengorbanan pasangannya.

Padahal, jika Alloh SWT berkehendak memperlihatkan seluruh sebab datangnya sebuah keberhasilan, mungkin manusia akan terkejut.

Bisa jadi keberhasilan seorang suami bukan semata-mata karena kecerdasannya, melainkan karena doa istrinya yang dipanjatkan pada sepertiga malam.

Bisa jadi keberhasilan seorang istri bukan semata-mata karena kerja kerasnya, melainkan karena kerelaan suaminya memikul beban yang tidak pernah diketahui orang lain.

Semua itu adalah rahasia Alloh SWT yang tidak dapat diukur hanya dengan angka penghasilan, jabatan, atau pencapaian dunia.

Maka, sebelum lisan ini kembali berkata, “Semua ini karena saya,” barangkali lebih baik ia terlebih dahulu mengucapkan, “Semua ini karena karunia Alloh SWT.”

Sebab, hanya dengan kesadaran itulah manusia akan tetap rendah hati ketika diberi kelapangan, tetap bersabar ketika diberi kesempitan, dan tetap memuliakan orang-orang yang Alloh SWT jadikan sebagai jalan datangnya berbagai nikmat dalam hidupnya.

Sesungguhnya, perubahan keadaan bukanlah sesuatu yang paling berbahaya bagi sebuah keluarga.

Kehilangan pekerjaan, menurunnya penghasilan, atau bergantinya peran dalam mencari nafkah hanyalah perubahan keadaan yang sewaktu-waktu dapat dialami siapa saja.

Yang jauh lebih berbahaya adalah ketika perubahan itu mengubah isi hati.

Ketika rasa syukur berganti menjadi rasa memiliki, ketika penghormatan berganti menjadi tuntutan, dan ketika kebersamaan berganti menjadi perlombaan untuk menentukan siapa yang lebih penting dalam keluarga.

Di titik inilah setan menemukan celah yang sangat halus. Ia tidak selalu datang dengan mengajak manusia berbuat maksiat secara terang-terangan. Terkadang, ia cukup membisikkan satu kalimat sederhana ke dalam hati, “Kalau bukan karena dirimu, keluarga ini tidak akan bertahan.”

Bisikan itu terdengar seperti pengakuan atas jerih payah, padahal di dalamnya tersembunyi benih kesombongan yang perlahan menghapus rasa syukur kepada Alloh SWT.

Ketika benih itu tumbuh, seseorang tidak lagi melihat nikmat sebagai amanah, melainkan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang yang setiap hari hidup bersamanya.

Padahal, rumah tangga tidak pernah dibangun untuk melahirkan pemenang.

Pernikahan bukan arena perlombaan mencari siapa yang paling besar jasanya. Tidak ada podium bagi suami, tidak pula bagi istri. Yang ada hanyalah dua orang hamba yang sedang berjalan menuju Alloh SWT sambil saling menopang agar tidak jatuh di tengah perjalanan.

Maka, ketika salah satunya merasa harus berdiri lebih tinggi agar tampak lebih berjasa, sesungguhnya ia sedang menjauh dari tujuan awal pernikahan itu sendiri.

Adab sebagai Penjaga Rumah Tangga

Inilah sebabnya mengapa Islam sangat menekankan adab.

Adab bukan sekadar sopan santun dalam bertutur kata, melainkan kesadaran untuk menempatkan segala sesuatu pada kedudukannya.

Adab membuat seseorang tetap menghormati pasangannya ketika keadaan berubah.

Adab membuat seseorang tetap mampu mengucapkan terima kasih meskipun merasa lelah.

Adab membuat seseorang memilih berdialog daripada merendahkan, memilih mengingat kebaikan daripada mengumpulkan kesalahan, dan memilih menjaga kehormatan pasangan meskipun sedang kecewa.

Sungguh menarik bahwa ketika Al-Qur’an berbicara tentang hubungan suami dan istri, Alloh SWT tidak hanya menjelaskan hak dan kewajiban, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai yang menjaga hati.

Alloh SWT memerintahkan agar pasangan diperlakukan dengan cara yang makruf, yakni dengan kebaikan yang diakui oleh syariat sekaligus diterima oleh hati yang sehat.

Makruf bukan hanya benar menurut hukum, tetapi juga indah dalam pelaksanaannya. Sebab, tidak sedikit orang yang merasa telah menunaikan kewajibannya, tetapi melupakan kelembutan yang seharusnya menyertainya.

Karena itu, ujian terbesar dalam rumah tangga sering kali bukanlah tentang siapa yang mencari nafkah, melainkan siapa yang mampu tetap menjaga kemuliaan akhlaknya ketika keadaan tidak lagi sesuai harapan.

Sebab, sangat mungkin seseorang lulus menghadapi ujian kemiskinan, tetapi gagal menghadapi ujian kelapangan.

Sangat mungkin pula seseorang sabar ketika membutuhkan pertolongan, tetapi berubah ketika menjadi pihak yang mampu memberi pertolongan.

Padahal, kedua-duanya adalah ujian yang sama-sama akan dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh SWT.

Istikamahnya Adab di Tengah Perubahan Keadaan

Barangkali, di sinilah letak pelajaran yang paling mahal dari sebuah rumah tangga.

Alloh SWT tidak pernah menjanjikan bahwa keadaan akan selalu sama. Hari ini seseorang mungkin berada di atas, esok hari ia berada di bawah. Hari ini tangan kita memberi, besok bisa jadi tangan yang sama menerima. Hari ini kita menjadi tempat bergantung, esok mungkin justru kitalah yang membutuhkan sandaran. Demikianlah kehidupan berputar sesuai kehendak-Nya.

Namun, ada satu hal yang seharusnya tidak pernah berubah mengikuti perubahan keadaan, yaitu adab.

Ketika rezeki bertambah, adab tidak boleh berkurang.

Ketika kedudukan meningkat, adab tidak boleh menghilang.

Ketika penghasilan menjadi lebih besar daripada pasangan, adab tidak boleh ikut merasa lebih tinggi.

Sebab, adab bukan lahir dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi dari dalamnya keimanan kepada Alloh SWT.

Sayangnya, manusia sering kali lebih mudah menjaga adab ketika sedang membutuhkan daripada ketika sedang dibutuhkan.

Saat berada dalam kesulitan, ia pandai menghargai bantuan orang lain. Namun, ketika Alloh SWT membukakan kelapangan baginya, tanpa disadari cara bicaranya berubah, nada suaranya berubah, bahkan cara ia memandang pasangannya pun ikut berubah.

Padahal, perubahan itu tidak pernah diperintahkan oleh Alloh SWT. Yang berubah hanyalah keadaan, bukan tuntunan syariat.

Seorang istri tetaplah seorang istri yang wajib memuliakan suaminya, meskipun Alloh SWT sedang menitipkan rezeki melalui tangannya.

Demikian pula seorang suami tetaplah seorang suami yang berkewajiban memimpin, melindungi, dan terus berikhtiar, meskipun untuk sementara ia belum memperoleh pekerjaan.

Perubahan keadaan boleh memengaruhi pembagian tugas, tetapi tidak boleh menghapus nilai-nilai yang menjadi fondasi keluarga Muslim.

Sering kali kita terlalu sibuk mempertahankan gaya hidup, tetapi lupa mempertahankan adab.

Kita khawatir tabungan berkurang, namun tidak khawatir ketika rasa hormat mulai memudar.

Kita segera mencari solusi ketika usaha mengalami kerugian, tetapi membiarkan kata-kata yang menyakitkan terus keluar tanpa merasa perlu memperbaikinya.

Padahal, kerugian harta masih mungkin diganti, sedangkan luka yang ditinggalkan oleh lisan terkadang menetap jauh lebih lama di dalam hati.

Tidak sedikit rumah tangga yang mampu bertahan dalam himpitan ekonomi selama bertahun-tahun karena mereka saling menguatkan.

Sebaliknya, tidak sedikit pula rumah tangga yang justru retak ketika ekonomi membaik karena masing-masing mulai merasa tidak lagi membutuhkan yang lain.

Ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi sebuah keluarga bukan selalu kekurangan harta, melainkan hilangnya rasa saling memuliakan.

Mungkin inilah sebabnya Rasulullah SAW lebih banyak mengajarkan akhlak daripada sekadar membahas pembagian peran. Sebab, beliau mengetahui bahwa ketika akhlak dijaga, perbedaan keadaan akan lebih mudah dihadapi. Sebaliknya, ketika akhlak ditinggalkan, aturan sebaik apa pun akan sulit menjaga keutuhan sebuah keluarga.

Pada akhirnya, rumah tangga bukan hanya membutuhkan orang yang pandai mencari nafkah. Rumah tangga juga membutuhkan hati yang mampu menjaga kehormatan pasangannya, lisan yang mampu memilih kata-kata terbaik ketika sedang marah, dan jiwa yang tetap rendah hati ketika Alloh SWT menitipkan kelebihan. Sebab, rumah yang kokoh tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi, tetapi oleh akhlak yang terus dipelihara dalam setiap perubahan kehidupan.

Keluarga yang Kokoh adalah Keluarga yang Tetap Memegang Adab Ketika Perubahan Itu Datang

Mungkin inilah hikmah yang sering luput dari perhatian kita. Ketika Alloh SWT mengubah jalan datangnya rezeki, sesungguhnya Dia tidak sedang mengubah kemuliaan seseorang. Alloh SWT hanya sedang mengubah bentuk ujian.

Hari ini seorang suami diuji dengan sempitnya lapangan pekerjaan. Esok Alloh SWT dapat mengujinya dengan kelapangan harta. Hari ini seorang istri diuji dengan amanah menjadi penopang ekonomi keluarga. Esok Alloh SWT dapat mengujinya dengan berkurangnya penghasilan atau hilangnya pekerjaan.

Tidak ada satu pun keadaan yang bersifat abadi. Yang berpindah hanyalah keadaan, sedangkan ujian tetap menyertai setiap hamba hingga akhir hayatnya.

Karena itu, jangan pernah menjadikan keadaan hari ini sebagai alasan untuk merendahkan pasangan. Apa yang sedang Alloh SWT titipkan kepada kita hari ini belum tentu tetap berada di tangan kita esok hari.

Betapa banyak orang yang dahulu memberi, kemudian menjadi pihak yang menerima. Betapa banyak pula yang dahulu merasa kuat, lalu suatu hari justru membutuhkan pertolongan orang lain.

Kehidupan terus berputar agar manusia tidak menggantungkan kemuliaannya kepada keadaan, melainkan kepada Alloh SWT.

Di sinilah seorang mukmin dituntut memiliki pandangan yang lebih jauh daripada sekadar persoalan dunia. Ia menyadari bahwa rezeki bukan sekadar sarana memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga sarana Alloh SWT mendidik hati.

Ada yang dididik melalui kekurangan agar belajar bersabar. Ada yang dididik melalui kecukupan agar belajar bersyukur. Ada yang dididik melalui kegagalan agar belajar tawakal. Ada pula yang dididik melalui keberhasilan agar belajar rendah hati.

Semua adalah sekolah keimanan yang kurikulumnya disusun langsung oleh Alloh SWT Yang Maha Bijaksana.

Maka, apabila hari ini Alloh SWT memilih tangan pasangan kita sebagai jalan datangnya rezeki, jangan biarkan hati kita kehilangan rasa hormat. Dan apabila suatu saat Alloh SWT mengembalikan rezeki itu melalui tangan kita, jangan pula biarkan hati ini dipenuhi kesombongan.

Sebab, yang sedang berubah hanyalah pintu rezeki, bukan nilai seorang hamba di hadapan Rabb-nya.

Pada akhirnya, keluarga yang kokoh bukanlah keluarga yang tidak pernah mengalami perubahan. Keluarga yang kokoh adalah keluarga yang tetap memegang adab ketika perubahan itu datang.

Mereka memahami bahwa rezeki dapat berganti pintu berkali-kali, tetapi kasih sayang, penghormatan, dan akhlak mulia tidak boleh ikut keluar meninggalkan rumah mereka.

Begitu pula, rezeki bukan hanya tentang apa yang bertambah dalam genggaman, tetapi juga tentang apa yang menghadirkan ketenangan dalam hati.

Alloh SWT dapat mengganti satu pintu yang tertutup dengan pintu lain yang lebih baik, mengubah jalan yang terasa sempit menjadi jalan yang penuh keberkahan.

Namun, di tengah perubahan keadaan, ada satu hal yang tidak boleh ikut berubah, yaitu adab dan akhlak manusia.

Sebab, keberhasilan bukan hanya diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, tetapi dari bagaimana seseorang menjaga kejujuran, rasa syukur, kepedulian, dan penghormatan kepada sesama.

Bisa jadi hari ini seseorang kehilangan sebuah jalan, tetapi selama ia tetap menjaga nilai-nilai kebaikan, ia tidak pernah benar-benar kehilangan arah.

Karena rezeki datang silih berganti melalui berbagai cara, sedangkan akhlak yang baik adalah bekal yang selalu menemani perjalanan hidup hingga akhir.

Daftar Referensi

Al-Qur’an al-Karim, Al-Anbiyā’ (ayat 35), Al-Balad (ayat 4), Al-Qashash (ayat 78), An-Nisā’ (ayat 34).

Imam Al-Ghazali. (2013). Ihya’ Ulumuddin: Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama, Jilid 8 (Sabar dan Syukur). Jakarta: Republika Penerbit.

Yusuf Qardhawi. (2004). Tawakkal: Jalan Menuju Keberhasilan dan Kebahagiaan Hakiki. Jakarta: Al-Mawardi Prima.

Hamka. (2015). Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit.

Abuddin Nata. (2017). Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta: Rajawali Pers.

M. Said. (2016). Mutiara Hikmah Kehidupan: Menemukan Makna di Balik Ujian. Jakarta: Gramedia.

Muhammad Shalih Al-Munajjid. (2011). Sebab-sebab Datangnya Rezeki. Jakarta: Darul Haq.

Jalaluddin Rahmat. (2012). Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik. Bandung: Mizan.


Penulis: Slamet Arkanudin


Dosen Pengampu: Dr. Purwidianto, M.A.


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses