Sekolah: Jawaban Terbaik agar Anak Cepat Berbicara dan Membaca

Pendidikan
Ilustrasi: istockphoto

Orangtua sering kali mempermasalahkan kondisi buah hati mereka yang cenderung mengalami kesulitan atau bahkan mengalami keterlambatan dalam berbicara. Padahal tahap perkembangan yang dilalui setiap anak bisa saja berbeda antara anak yang satu dengan yang lainnya.

Tetapi permasalahan yang sering terjadi di lingkungan masyarakat justru para orangtua sering kali membandingkan kemampuan berbicara anak mereka dengan anak yang lainnya. Sehingga orangtua akan cenderung merasa cemas apabila anak mereka belum bisa berbicara ataupun membaca.

Kasus yang saat ini marak beredar, orangtua akan menyekolahkan buah hati mereka supaya cepat berbicara dan pandai membaca. Tetapi, benarkah sekolah menjadi solusi yang tepat agar anak bisa cepat berbicara dan membaca?

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Sekolah Masjid Terminal: Sebuah Harapan dari Pinggir Jakarta

Dari hasil penelitian didapatkan fakta bahwa, kemampuan berbicara anak pada usia 2-3 tahun belum berkembang secara sempurna, dengan persentase sebesar 50-75%. Kemampuan berbicara mereka akan terus berkembang hingga mencapai tahap sempurna saat anak mencapai usia 4 tahun.

Dari hasil penelitian tersebut, seharusnya orangtua tidak perlu khawatir apabila anak mereka masih berusia antara 2 hingga 3 tahun belum dapat berbicara dengan lancar, dikarenakan memang kemampuan berbicara anak masih belum berkembang dengan sempurna.

Kecuali, apabila buah hati mereka sudah berusia 4 tahun atau bahkan di atasnya, hal tersebut perlu untuk dibicarakan lebih lanjut dengan tenaga yang lebih ahli di bidangnya, dan jawaban dari persoalan tersebut bisa dipastikan adalah sekolah. Sekolah anak pada jenjang pendidikan anak usia dini saat ini digandrungi banyak orangtua di luar sana.

Saat sekolah, anak memiliki banyak teman sebaya yang bisa diajak berinteraksi, dari interaksi inilah anak akan mulai belajar berbicara dan membaca bersama. Selain itu, pembelajaran di sekolah pun bisa membuat anak lebih terampil dalam berbicara dan membaca.

Di sekolah, anak cenderung lebih berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan melebihi interaksi yang terjadi saat anak di rumah. Hal tersebut diakibatkan saat di sekolah, guru akan dengan aktif berbicara dua arah dengan anak. Sehingga interaksi yang tejalin mampu membuat anak lebih ekspresif dan mampu mengutarakan apa yang dia rasakan saat itu juga.

Anak-anak membutuhkan peran guru dalam masa perkembangannya, guru akan membimbing anak agar selalu berinteraksi. Sehingga keterampilan berbicara dan membacanya akan diasah dan akan terus mengalami perkembangan hingga anak mampu berbicara dan membaca dengan sempurna.

Dalam keterampilan berbicara seorang anak, interaksi yang terjadi tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya menjadikan anak mampu berkomunikasi. Dari komunikasi inilah keterampilan berbicara seorang anak berkembang.

Baca Juga: Pendidikan Tidak Harus Sekolah?

Mereka akan mampu menyampaikan ide, gagasan, bahkan perasaan yang sedang mereka rasakan melalui rangkaian kata-kata yang akhirnya terucap dari tuturan mereka.

Di dalam keterampilan membaca seorang anak, tahapan awal yang akan mereka lalui yaitu membaca permulaan. Pada tahap ini, anak akan diajarkan mengenal bentuk huruf, mengenal unsur-unsur linguistik, mengenal pola ejaan dan bunyi seperti mampu menyuarakan bahan tertulis, dan yang terakhir mampu membaca dengan kecepatan lambat.

Pada tahap tersebut anak biasanya diperkenalkan dengan huruf alfabet, mulai dari a hingga z. Selanjutnya anak akan diajarkan cara melafalkan huruf tersebut sesuai dengan bunyinya. Dilanjutkan dengan memperkenalkan anak cara membaca suku kata, kata, dan kalimat.

Selain mengenal huruf, kata, dan kalimat, guru memanfaatkan media gambar untuk mengenalkan anak struktur kalimat sebagai bahan pembelajaran dari pengalaman berbahasa anak saat di sekolah. Kegiatan tersebut bisa juga dijadikan sebagai pembelajaran agar anak mengenal konsep kata.

Namun, perlu diperhatikan pula usia anak saat disekolahkan. Anak yang memiliki usia matang, mereka akan cenderung lebih mudah mendapatkan informasi, dan mengelola emosi mereka dengan baik. Apabila dibandingkan dengan anak yang sekolah dengan usia yang belum cukup matang.

Diharapkan bagi para orangtua untuk tidak membandingkan buah hati mereka dengan anak orang lain. Karena tahap perkembangan setiap anak pun berbeda-beda. Oleh karena itu, orangtua diharapkan lebih bijak untuk memahami karakter buah hati mereka dan menjaga pola perkembangan anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Penulis: Salimatun Nurur Rohmah
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Editor: Ika Ayuni Lestari     

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI