Tatap Muka Normal? Tetapi Kapan?

Tatap Muka Normal

Meski sejumlah pihak masih mengkhawatirkan risiko Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang rencananya dilakukan di tahun ajaran baru pada Juli 2021 yang lalu, pada kenyataannya saat ini rencana itu terpaksa ditunda.

Delta Plus varian baru dari India telah mengguncangkan dunia, cepat dan ganas, sebagian kasus dikatakan varian ini tidak bisa terdeteksi dengan tes antigen maupun PCR, korban kembali berguguran, rumah sakit kembali kewalahan, sehingga Presiden Joko Widodo sebagai pemerintah pusat kembali  mengeluarkan kebijakan untuk lockdown, Work From Home (WFH) kembali dipaksakan, meliburkan sekolah dan meneruskan proses belajar dan mengajar dengan menggunakan sistem Online (Daring) pada awal Juli kemarin.

Dengan menggunakan sistem pembelajaran ini, terkadang muncul berbagai masalah yang dihadapi oleh siswa dan guru, seperti materi pelajaran yang belum selesai disampaikan oleh guru kemudian guru mengganti dengan tugas lainnya, tidak hanya itu, terkadang guru tidak terlalu memahami pertanyaan yang diajukan oleh siswa atau mahasiswanya sehingga membuat anak muridnya menjadi bosan dalam mengikuti pembelajaran ini. Hal tersebut menjadi keluhan bagi siswa karena tugas yang diberikan oleh guru lebih banyak.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: ‘‘New Normal’’ Kuliah Masuk? Beberapa Kejadian yang Jarang Ditemui Saat Kuliah Tatap Muka!

Sumber Foto : Website Yayasan Tangan Pengharapan & Warta Kota

Itu adalah keadaan di kota besar, di pedalaman bagaimana? apakah mereka bisa memilih dan berkeluh kesah?  Ibu Henny Kristianus, Founder dari Yayasan Tangan Pengharapan mengutarakan pada websitenya, “Adanya peraturan pemerintah yang menyampaikan bahwa sekolah diliburkan sementara untuk menghindari penyebaran covid-19 membuat Tangan Pengharapan harus memikirkan cara agar anak-anak di pedalaman tetap tidak ketinggalan pelajaran.

Jika di kota, anak-anak dapat menggunakan aplikasi atau pembelajaran secara online, bagaimana dengan di pedalaman? Untuk itu Tangan Pengharapan menggerakkan para guru pedalaman untuk tetap memantau pembelajaran anak-anak dengan mengajar dari rumah ke rumah. Dengan guru yang berkunjung dari rumah ke rumah dan belajar bersama, membuat guru menjadi lebih akrab dengan sang anak. Ternyata hal ini membantu para guru jadi lebih mengenal karakter dan kebutuhan anak lebih dalam. Anak-anak juga sangat senang guru mereka dapat datang ke rumah mereka untuk mengajar.”

Baca Juga: Covid-19 Masih Mengancam, DPC GMNI Jepara : Pembelajaran Tatap Muka Masih Riskan

Anak adalah penerus bangsa, yang terbaik yang harus mereka dapatkan, daring maupun live tidak seharusnya menjadi alasan penurunan minat dan hasil akhir dari mereka, kesetaraan Pendidikan yang masih belum terjadi antara kota dan pedalaman adalah hal yang perlu digaris bawahi oleh pemerintah.

Angel Shah
Mahasiswa LSPR (London School of Public Relations)

Editor: Diana Pratiwi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI