8 Jenis Kecerdasan (Multiple Intelligence) dan Tindakan Guru dalam Memotivasi Peserta Didik

8 jenis kecerdasan

Gardner (1983) mengkategorikan bahwa ada 8 jenis kecerdasan (Multiple Intelligence), antara lain: yang pertama kecerdasan linguistik yaitu suatu bentuk kecerdasan yang berkaitan dengan penggunaan kata-kata secara efektif oleh individu baik secara lisan maupun tertulis.

Kedua, kecerdasan kinestetik yakni kecerdasan untuk menggunakan tubuh secara terampil dalam hal ide dan perasaan individu.

Ketiga, kecerdasan spasial yaitu kecerdasan untuk melihat dan mengamati hal-hal di sekitar.

Bacaan Lainnya
DONASI

Keempat, kecerdasan intrapersonal yaitu kecerdasan yang berasal dari dalam diri individu berupa etika dan sopan santun yang baik.

Kelima, kecerdasan musikal yaitu kecerdasan dalam menikmati dan mengamati bentuk-bentuk musik.

Keenam, kecerdasan naturalis yaitu kecerdasan mengenali, mengungkapkan, dan mengkategorikan hal-hal yang ada di lingkungan individu.

Ketujuh, kecerdasan logis yaitu kecerdasan sesorang dalam menganalisis sebuah masalah dan senang melakukan eksperimen ilmiah dan yang semisalnya.

Kedelapan, kecerdasan interpersonal atau biasa disebut kecerdasan sosial yaitu kemampuan seseorang dalam memahami dan berinteraksi dengan orang lain.

Hal ini menunjukkan setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda dan tak perlu untuk membanding-bandingkan seberapa cerdas mereka.

Baca juga: Bagaimana Cara Membangun Kecerdasan Emosional?

Kecerdasan dan motivasi sangatlah erat kaitannya. Motivasi dalam proses pembelajaran pada setiap diri peserta didik dianggap sebagai sebuah dorongan yang diakibatkan oleh faktor dari dalam dan luar diri peserta didik, dengan harapan untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan dalam diri peserta didik.

Motivasi yang diperoleh oleh setiap peserta didik tentu saja berbeda antara satu peserta didik dengan peserta didik lainnya.

Salah satu poin yang sangat menarik bagi saya dalam pertemuan pada mata kuliah perkembangan peserta didik pada Jum’at (27/5/2022) adalah tentang sebuah tindakan seorang guru dalam menanggapi peserta didik.

Baca juga: Tolok Ukur Kecerdasan

Bagaimana cara pendidik untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yang sakit hati akibat perkataan atau ucapan yang pendidik lontarkan yang tidak sengaja menyakiti hati peserta didik?

Sebagai pendidik kita seharusnya dan sepatutnya menghindari tindakan negatif dalam bentuk apapun, baik itu perkataan maupun perbuatan.

Seharusnya sebagai pendidik mampu untuk menghindari ucapan atau kata-kata yang dapat menyakit peserta didik. Apalagi jika menggangu kondisi mental peserta didik. Namun apabila telah terjadi tanpa unsur kesengajaan meminta maaf adalah hal yang sangat diperlukan.

Selanjutnya pendidik diharapkan untuk melakukan pendekatan-pendekatan dan motivasi-motivasi yang dapat mendorong peserta didik agar kembali antusiasi dalam proses pembelajaran.

Pendidik juga diharapkan untuk juga menanyakan kendala apa yang dirasakan dalam proses pembelajan. Guru yang baik adalah guru yang dapat memotivasi peserta didik menjadi lebih baik.

Pendidik perlu mengingat bahwa meminta maaf adalah hal yang perlu dilakukan kepada peserta didik yang down dan tidak termotivasi untuk melakukan proses pembelajaran akibat tindakan yang dilakukan pendidik.

Kita sebagai pendidik tidak semestinya melakukan hal-hal yang dapat menyakiti perasaan peserta didik karena guru adalah seorang pembimbing perjalanan yang bertanggung jawab dalam pendidikan dan edukasi bagi peserta didik.

Baca juga: Belajar dengan Imajinasi, Membantu Kecerdasan Anak

Komunikasi serta motivasi juga dapat memperlancar proses pembelajaran sehingga siswa mampu untuk kembali efektif dalam proses pembelajaran. Guru juga bisa memanfaatkan berbagai media sehingga mengoptimalisasikan pengalaman dan pengetahuan siswa.

Sebagai pendidik seharusnya dapat menahan dan memilah kata-kata yg dikeluarkan sehingga tidak mengeluarkan perkataan yang dapat menyakit siswa dan membuat siswa menjadi down.

Hal yang bisa dilakukan antara lain memberikan sanjungan seperti mengatakan hal-hal yang dapat membuat siswa kembali ke proses pembelajaran dan memberikan nasihat untuk saling memaafkan.

Jika tidak sengaja, pendidik perlu untuk membuat pecakapan secara dalam kepada peserta didik (deep talk) yang bisa dilakukan diruang konseling agar lebih terarah.

Menegur secara perlahan dan tidak membentak serta memilah-memilah tindakan dan perkataan, melakukan pendekatan, serta peserta didik diajak untuk berdiskusi.

Di awal pembelajaran untuk lebih terarah pendidik dapat membuat perjanjian atau sebuah kontrak belajar yang membawa hal-hal positif sehingga pembelajaran dapat terlaksana secara kondusif.

Pendidikan mengemban tanggung jawab untuk membentuk peserta didik menjadi insan yang mulai, ramah, punya rasa tanggung jawab serta punya mental yang kuat.

Guru adalah contoh yang sangat signifikan bagi peserta didik. Peserta didik berada pada fase tidak tahu apa-apa namun jika diberi contoh atau respon mereka akan mulai mencontoh hal tersebut.

Apa yang dilakukan dan dikatakan oleh seorang guru akan menjadi contoh. Guru memiliki kewajiban untuk tersenyum saat masuk ke dalam kelas, saat pelajaran berlangsung dan saat menutup kelas.

Hal ini dilakukan agar hati peserta didik terjaga dan dapat menyerap hal-hal positif. “Sakit fisik itu mudah disembuhkan akan tetapi sakit hati sulit disembuhkan”.

Penulis: Fiah Luthfiah Bani
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar (UNM)

Editor: Rahmat Al Kafi

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI