Cara Gen Z Mendistraksi dan Mengatasi Masalah

Gen Z
Ilustrasi: pixabay.com

Masa dewasa yang kita jalani tentunya tidak selalu berjalan mulus. Setelah beranjak dewasa kita disadari bahwa kehidupan memang tidak selalu mudah.

Apalagi sebagai seorang mahasiswa atau pekerja, seringkali kita dihadapkan oleh berbagai macam permasalahan yang berasal dari berbagai macam sumber, baik dari dalam diri kita sendiri, ataupun dari lingkungan di sekitar kita seperti keluarga atau teman.

Permasalahan yang sering terjadi seperti putus cinta, masalah keluarga, atau berselisih dengan teman yang kerap kali kita alami akan menjadi batu sandungan dalam aktivitas kita sehari-hari. 

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Fenomena Culture Jaksel di Kalangan Gen Z dan Milenial

Seperti judul lagu yang dibawakan oleh 2OFU, Rangga Jones & Shye “I Wanna Be a Kid Again” dari lagu tersebut banyak anak-anak dari generasi produktif saat ini (Gen Z) merasa related dengan lirik dari lagu tersebut. Kita saat ini sering kali merindukan masa kecil kita, ketika kita sudah menyadari betapa kompleks dan berantakannya kehidupan orang dewasa. 

Emosi yang kita rasakan saat terjadi masalah-masalah tersebut disebut juga dengan burnout. Istilah ini lebih sering digunakan oleh generasi muda saat ini atau seringkali kita sebut sebagai Generasi Z.

Burnout merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi yang kita rasakan ketika kita memiliki ketidakstabilan emosional yang diakibatkan dari berbagai faktor, seperti kelelahan dengan aktivitas sehari-hari, atau karena banyaknya permasalahan yang kita tanggung.

Perasaan ini adalah perasaan yang sangat wajar untuk dirasakan oleh generasi muda dan pastinya banyak dialami oleh mahasiswa di tengah-tengah masa perkuliahan. 

Oleh karena itu, pada dasarnya kita sebagai manusia adalah makhluk sosial. Di mana kita semua pastinya membutuhkan sosok orang lain di kehidupan kita untuk menjadi teman dan tempat bersandar. Memang tidak semua orang mampu memiliki hubungan pertemanan yang banyak.

Ada beberapa orang yang cukup hanya memiliki beberapa atau bahkan hanya satu orang teman saja. Dengan begitu, kita semua harus memiliki setidaknya satu sosok atau tempat kita bersosialisasi, untuk menjadi distraksi di kehidupan kita ketika sedang ada permasalahan. 

Manfaat seorang teman tentu bukan hanyak untuk menjadi distraksi saja, tetapi teman yang baik pun bisa membantu kita meningkatkan kesehatan fisik, mereka bisa memberi dukungan-dukungan emosional dengan selalu hadir di sisi kita ketika kita down.

Intinya, teman yang baik adalah teman yang bisa membawa kita ke arah yang lebih positif dan terus membangun kita ketika kita dilanda permasalahan. 

Baca Juga: Pengaruh Video Game terhadap Pola Pikir Gen Z di Indonesia

Maka dari itu pentingnya memilih lingkungan pertemanan yang tepat untuk diri kita sendiri. Karena, lingkungan pertemanan yang tidak tepat bisa berujung tidak baik juga untuk diri kita sendiri.

Lingkungan kita bersosialisasi akan mempengaruhi sikap dan cara pandang kita terhadap sesuatu. Dengan begitu, kita sendiri pun harus bisa menyaring mana lingkungan yang tepat untuk diri kita.

Penulis: Renita Maharani Pohan
Mahasiswa Mass Communication Bina Nusantara

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI