Corona si Virus Perpecahan

corona

Sejak dinyatakan pandemic, dunia saat ini sedang bersitegang. Peperangan melawan Corona terus dilakukan oleh setiap negara. Namun, kita tidak hanya berperang melawan Corona, musuh terbesar kita bisa jadi adalah perpecahan. Aksi rasisme terus bertambah baik di dunia maya maupun nyata. Beberapa kasus rasis dan perpecahan bahkan sampai menggunakan kekerasan. Sebagai contoh di Canada, seorang yang mengeluarkan seorang kakek berumur 92 tahun dari tempat perbelanjaan hanya karena sang kakek berasal dari Asia, banyaknya video dan foto yang tersebar di internet dan sangat memojokkan warga Asia terutama keturunan tionghoa, hingga adanya isu ancaman bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang akan menuntut negara China karena merasa sangat dirugikan. Apakah ini akan menjadi awal Perang Dunia ketiga?

Rasisme yang Meningkat
Rasis adalah hal yang memang tidak bisa dihindari, terutama di negara penuh perbedaan seperti Indonesia sendiri. Namun belakang setelah kemunculan virus Corona ini, aksi rasisme semakin tinggi. Karena virus Corona yang berasal dari Wuhan, China, banyak sekali postingan atau komen bermunculan yang sangat menyudutkan etnis tionghoa walaupun etnis tionghoa Indonesia sama sekali tidak ada hubungannya dengan virus ini. Aksi kekerasan pun terus bermunculan. Bahkan pada beberapa negara, terjadi terror besar-besaran dimana sebuah rumah yang ditinggali keluarga tionghoa dilempari batu dan pagarnya penuh coretan mengenai virus corona ini padahal mereka sudah tinggal bertahun-tahun dirumah tersebut.

Indonesia yang seharusnya menjungjung tinggi Kebhinekaan pun semakin tergoyahkan oleh adanya virus corona ini. Banyak warga internet yang terus menebarkan hoax dan semakin memperkeruh suasana. Banyak juga yang malah termakan hoax dan diadudomba oleh berita-berita tersebut. Virus ini tidak akan hilang hanya dengan saling menyalahkan. Yang diperlukan adalah persatuan dan kerjasama antar bangsa baik di Indonesia maupun dunia.

Ketidakselarasan Pendapat
Di seluruh dunia saat ini, banyak warga yang mencari pencerahaan dan pembenaran tentang apa yang harus mereka lakukan. Bisa dilihat dari Indonesia sendiri, banyaknya pemberitahuan yang dapat membahayakan keselamatan warga. Ada pula ketidakselarasan pendapat antara petugas medis, pemerintah, maupun beberapa pemimpin agama. Akibat dari ketidakselarasan pendapat antara lain adalah penolakan jenazah akibat corona seperti di Semarang pada 10 April 2020. Masyarakat sudah dihimbau untuk tidak menolak karena jenazah sudah disterilka sesuai prosedur yang ada. Penolakan juga dapat mempersulit pekerjaan para medis yang tentu masih harus mengurus yang terjangkit di rumah sakit.

Belum lama ini terjadi juga kasus di Cikarang pusat di mana seorang tokoh agama beserta oknum RT yang mendadak mengeber rumah keluarga nasrani yang sedang ibadah lewat daring pada 19 April 2020. Padahal ibadah dirumah memang sudah disarankan oleh kepala negara sendiri. Pada postingan di internet, banyak sekali pertengkaran dan saling tunjuk antar umat beragama. Hal ini semakin menyulut keadaan yang sudah riuh ini dan dapat menimbulkan perpecahan yang terus menerus.

Ketegangan dalam dan Antar Negara
Saat ini, masyarakat dunia menunjuk China sebagai biang keladi dari semua masalah ini. Hampir semua sektor di dunia kena imbasnya. Bahkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump siap menuntut China. Hal ini akan sangat berbahaya dikarenakan tidak menutup kemungkinan hal ini dapat menyulut perang dunia ketiga yang tentu kita sangat hindari. China pun sudah banyak memberi bala bantuan kepada negara-negara yang membutuhkan namun cepatnya penyebaran virus ini tetap sulit ditangani karena masih banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan masker atau lupa mencuci tangan secara rutin sesuai himbauan pemerintah.

Selain ketegangan antar negara, dalam negara tertentu pun banyak terjadi keributan. Di Amerika, banyak demo terjadi karena warga Amerika menolak untuk tinggal dirumah dengan alasan berbagai alasan. Terjadinya rebutan dan saling injak di Afrika yang ingin mengambil sembako dari pemerintah, beberapa sampai hilang kesadaran. Di India terjadi aksi saling dorong karena banyaknya warga yang ingin pulang ke kampong mereka, beberapa bahkan rela berjalan kaki karena transportasi yang berkurang selama pandemi. Aksi mencuri yang semakin merajalela di Indonesia dan masih banyak isu lain di setiap negara. Rakyat miskin diberbagai negara sedang terancam corona dan kelaparan.

Disaat seperti ini, tentu kita merasakan ketidakpastian, amarah, bahkan kesedihan karena virus ini dan semua perasaan itu adalah hal yang wajar karena kita semua adalah manusia. Namun semua perasaan itu tidaklah kita salurkan dengan saling tuduh atau bahkan memaki baik lewat daring hingga kekerasan fisik atau terror. Seharusnya kita bersatu untuk saling menjaga dan membantu tenaga medis dalam menangani virus ini dengan tidak keluar rumah bila tidak penting dan menggunakan masker saat keluar. Saling tunjuk tidak akan menyelesaikan masalah apa pun, namun saling menjaga, taat aturan sambil berdoalah yang seharusnya menjadi senjata perang kita melawan Corona ini.

Sandra
Mahasiswa Sampoerna University

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI