Lulus Jalur Corona, Suatu Proses yang Mulia

corona

Pada saat ini semakin masifnya penyebaran virus corona menyebabkan semua aspek kehidupan manusia menjadi terbelenggu, tidak terkecuali dunia pendidikan. Kasus kian bertambah setiap waktunya baik dalam skala global maupun dalam Indonesia sendiri.

Dalam dunia pendidikan, belajar dari rumah adalah pilihan alternatif bagi setiap peserta didik dari jenjang SD hingga SMA sederajat yang tentunya belajar mandiri dari rumah dengan memanfaatkan literatur online dan bimbingan orang tua masing-masing.

Pada masa pandemi sekarang ini, jenjang pendidikan sudah memasuki semester genap yang menandakan bahwa ujian akan segera dimulai. Terlebih bagi siswa-siswi yang tengah menempuh Ujian Nasional (UN), yang terpaksa harus ditiadakan (Presiden Jokowi, 15 Maret, konferensi pers – Kompas.com).

Para siswa yang berada pada tingkat paling atas yakni kelas VI SD, IX SMP dan kelas XII SMA sederajat. Ujian Naional yang menjadi ujian terakhir bagi siswa kelas XII sebagai tantangan terakhir dan untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam menyerap materi dari kelas X harus ditiadakan, begitupun juga untuk jenjang ke bawah.

Mengingat pandemi Covid-19 ini begitu cepat penyebarannya. Namun, lulus tanpa harus begadang semalaman mencari kunci jawaban. Kira-kira sangat diingat angkatan 2020 ke bawah banyak sekali cerita terkait dengan pembelian kunci jawaban.

Tak heran lulusan sekarang banyak menyebutnya sebagai lulus jalur Corona. Bukan sebagai bentuk penyebutan angkatan sekarang karena tidak susah-susah ujian nasional, namun masuk sekolah banyak yang diliburkan, sehingga tiba-tiba asal lulus saja karena belum begitu menikmati dan melewati berbagai proses dalam akhir-akhir masa sekolah.

“Masa masa paling indah masa-masa di sekolah”, ungkap Ebiet G Ade dalam sebuah lagunya. Apabila kita telisik lebih jauh lagi tentang lulusnya angkatan 2020 bukan berarti kita harus pesimistis, namun karena memang keadaan yang tengah menguji kita menjadi sebuah keharusan angkatan 2020 meskipun kurang berkesan di hati siswa dan siswi.

Akan tetapi, social distancing yang mengharuskan kita untuk stay safe dan berdiam di rumah. Apalagi kasus corona yang semakin hari sangat menghantui, niscaya angkatan jalur 2020 bukan stigma yang banyak diarahkan kepada kalian, tetapi kalian sebagai pahlawan yang berperan mengatasi Covid-19 ini.

Pandemi sekarang ini tidak hanya meniadakan UN dan belajar dari rumah, akan tetapi sekarang ini telah banyak memberikan tata nilai, terutama dalam kelulusan siswa kelas XII. Ditambah lagi pada saat ini tidak adanya perayaan untuk kelulusannya karena masa sekarang ini yang mengharuskan untuk berdiam diri.

Dalam menanti kelulusan siswa pun rasanya sudah tidak lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Ketika semua siswa yang telah lulus akan melakukan konvoi memenuhi jalanan dalam acara coret-coretan itu. Tidak jarang angka tindakan menyimpang sering terjadi.

Konvoi kelulusan tidak jarang memakan korban. Misalnya pada tahun 2019, dilansir dari Tribun Jawa Timur, kasus meninggalnya Irene Siswa SMK yang tewas ditabrak ketika konvoi perayaan kelulusannya. Selain itu, KLU tewas secara Tragis, seorang siswa SMP ketika ditabrak mobil Pick-up, juga karena perayaan konvoi kelulusannya (kanalntb.com). Selain itu, masih banyak lagi konvoi lain pada tahun-tahun sebelumnya yang mengakibatkan korban jiwa.

Dengan adanya pandemi korona ini, tidak hanya lulusan sekarang ini social control bagi semua masyarakat akan tetapi telah mampu mengubah prilaku kebiasaan dan menekan angka penyimpangan dari tahun-tahun sebelumnya karena perayaan kelulusan tersebut.

Serba-serbi dalam dunia pendidikan ini menyebabkan kesan-kesan tersendiri terutama dalam dalam diri lapisan peserta didik. Tidak adanya perayaan seperti wisuda sekolah, ataupun budaya coret-coretan yang bisa dibilang konyol, akan tetapi suatu apresiasi dari pemerintah yakni memberikan sebuah alternatif untuk lebih mementingkan kesehatan dan keselamatannya.

Apa yang kita hadapi juga sebagai bentuk implementasi dari Bela Negara, tapi tidak lagi berperang melawan penjajahan kolonial Belanda, ataupun melawan Nippon Jepang, tetapi melawan situasi sulit dan membasmi penyebaran virus corona.

Aspek pendidikan sangatlah menjadi sebuah acuan untuk melihat sejauh mana tingkat kualitas SDM yang dimiliki suatu negara. Namun, tampaknya pada masa sekarang ini pandemi akan lebih memperlihatkan sisi humanisme yang bisa ditawarkan dalam pendidikan akibat kasus Covid-19.

Dalam masa pandemi kali ini sejauh mana tingkat persiapan pendidikan dalam mempersiapkan era tekhnologi apalagi sewaktu-waktu dihadapkan dalam keadaan semacam ini. Selain itu, parameter yang bisa kita lihat untuk mengukur sejauh mana siswa dan siswi menerapkan dengan mandiri tugas dan fungsi yang dimilikinya sebagai pelajar yang taat walaupun tidak lagi berada dalam lingkungan sekolah.

“Mundur selangkah untuk maju kedepan”, mungkin ungkapan yang tepat untuk menggambarkan situasi pendidkan terutama siswa-siswi yang baru saja lulus. Dihapusnya UN dan tidak adanya pisah kenang bersama teman-teman bukan berarti kehidupan ini akan berakhir, akan tetapi suatu langkah untuk menuju kemajuan.

Selamat lulus bagi SD dan SMP sederajat, selamat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Kemudian, untuk SMA/SMK sederajat, selamat melanjutkan ke jenjang yang selanjutnya untuk berkarir dan menyumbang untuk kemajuan bangsa di masa depan.

Azis Meinudin
Mahasiswa Sosiologi Unram

Editor: Diana Intan Pratiwi

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI