Green Construction, Bangunan Ramah Lingkungan yang Dibuat Dengan Menggunakan Teknologi Tepat

Perkembangan teknologi konstruksi pada abad ini sangat pesat sehingga membutuhkan manusia lebih ketat dalam penggunaan bahan konstruksi dalam pemilihan dan pengolahan sesuai teknologi yang ada. Faktanya, masih ada proses pembangunan yang menggunakan sistem tradisional.

Menggunakan teknologi (baik tradisional maupun pabrik) bukan berarti hanya mengetahui proses penggunaannya saja. Namun prinsip dalam menggunakan teknologi tersebut harus diketahui dengan benar. Secara tradisional, sebagian besar proses konstruksi berlangsung di lokasi konstruksi (walaupun beberapa konstruksi dilakukan di tempat lain, seperti pembentukan kayu) dari bingkai berpola dan dibawa ke produksi material untuk proses selanjutnya).

Baca juga: Health Environment Movement: Green Culture Mindset (GCM), Participatory Design akan Budaya dan Gaya Hidup Digital dalam Rangka Mewujudkan Society 5.0 yang Ramah Lingkungan

Bacaan Lainnya
DONASI

Mengenai penggunaan mekanisme manufaktur, perlu diperhatikan bahwa sistem konstruksi yang disebutkan di sini adalah yang paling banyak melibatkan unsur-unsur yaitu tradisional dan industri. metode konstruksi yang menggunakan teknologi (baik tradisional maupun pabrik) tidak berarti hanya mengetahui proses penggunaannya, tetapi juga mengetahui prinsip-prinsip penggunaan teknologi tersebut.

Menjaga lingkungan yang indah dan bersih yang tentunya berdampak menyehatkan seluruh elemen masyarakat tentu tidak mudah, namun harus dilakukan. Tidak hanya sekedar melindungi dan menjaga lingkungan, namun sistem konstruksi yang ada harus memiliki keselarasan antara lingkungan dan penggunaan teknologi konstruksi.

Perkembangan teknis terus berkembang hingga menghasilkan ide-ide yang mampu melahirkan konsep-konsep yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungan. Bahan bangunan ekologis kini sangat dibutuhkan untuk melindungi generasi mendatang, mengurangi konsumsi energi, emisi dan limbah untuk menciptakan bumi yang nyaman.

Menjaga lingkungan tetap asri dan bersih dan tentunya memberikan dampak yang menyehatkan bagi seluruh lapisan masyarakat.Manusia menciptakan banyak kemungkinan dan berbagai inovasi kreatif, namun semuanya membutuhkan waktu dan biaya yang besar.

Meski belum semua masyarakat khususnya di Indonesia menggeluti gerakan ekologi untuk turut serta mendukung dan melestarikan bumi, namun banyak pihak yang mulai berupaya menjaga bumi tetap hijau, lestari dan ramah lingkungan berkelanjutan.

Penggunaan material memegang peranan besar dalam mewujudkan pembangunan rumah ekologis. Dengan menggunakan bahan bangunan yang tepat maka dapat dihasilkan bangunan yang berkualitas dan ramah lingkungan. Bahan bangunan yang ramah lingkungan bisa di manfaatkan di alam / lingkungan sekitar yang tidak di pakai / bisa dari alam.

Penggunaan bahan bangunan yang banyak digunakan seperti kaca, beton, kayu, aspal, baja dan logam lainnya diyakini memberikan kontribusi signifikan terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Di dalam dunia, misalnya saja penggunaan kaca gelap/kaca reflektif surya yang biasa digunakan pada gedung-gedung bertingkat/bertingkat dan biasa disebut kaca beralur. Hal ini jelas sangat merugikan karena mengirimkan sinar matahari kembali ke atmosfer bumi dan terakumulasi sehingga menghangatkan suhu bumi.

Perubahan-perubahan buruk ini selanjutnya terkait dengan perubahan siklus udara dan hidrologi, yang dipengaruhi oleh hilangnya daerah aliran sungai dan ruang hijau. Bangunan Ramah Lingkungan lebih dari sekadar konsep kehidupan berkelanjutan, namun dapat menciptakan harapan untuk masa depan. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan kesadaran masyarakat Indonesia untuk memahami pentingnya membangun bangunan dengan konsep green konstruksi.

Apa yang dilakukan masyarakat dalam menjaga dan memperbaiki lingkungan, sekecil apapun, seperti pembuangan limbah, masih belum sepenuhnya tercapai dengan bahan baku yang ramah lingkungan. Mendukung kelestarian lingkungan dan kelangsungan kehidupan di bumi. Pengembangan berbagai inovasi teknologi dalam proses produksi akan terus dilakukan, sehingga industri bahan baku tetap ramah lingkungan.

Apa yang dilakukan masyarakat untuk melindungi dan memperbaiki lingkungan, sekecil apa pun, sangatlah berarti. Penerapan konstruksi hijau bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya konstruksi hijau bagi negara berkembang di Indonesia, membangun bangunan dari material ramah lingkungan, hingga menata tata kota sesuai konsep Green Building. Masyarakat harus mampu memperjuangkan pentingnya bangunan ramah lingkungan di lingkungannya di masa depan. Indonesia juga perlu mengurangi penggunaan bahan bangunan yang kurang ramah lingkungan untuk menjaga keseimbangan iklim.

Pemilihan bahan konstruksi mempengaruhi konsumsi energi bangunan. Pada masa konstruksi, konsumsi energi bangunan bervariasi antara 5-13%, sedangkan 87-95% merupakan konsumsi energi bangunan selama umur bangunan.

Misalnya penggunaan material untuk membangun bangunan ramah lingkungan, yaitu bangunan hijau. Bangunan ramah lingkungan berarti bangunan yang menggunakan bahan bangunan yang lebih memperhatikan kondisi alam. Bangunan ramah lingkungan berfokus pada penggunaan produk bangunan, penggunaan energi yang efisien dan kemudahan perawatan pada fase. Bahan mentah ekologis berperan penting dalam melindungi lingkungan dan menopang kehidupan di Bumi.

Penekanan konstruksi hijau pada tahap perencanaan adalah meliputi desain sistem dan pemakaian material yang ramah lingkungan. Maka pada tahap konstruksi green construction menuntut sebuah proses konstruksi yang peduli pada lingkungan hidup dan memberikan nilai tambah pada lingkungan di sekitar pelaksanaan proses konstruksi tersebut.

Baca juga: Green Supply Chain Managemet sebagai Kunci Permasalahan Kerusakan Lingkungan Hidup

Kepedulian proses konstruksi pada lingkungan hidup diwujudkan dalam bentuk pengendalian terhadap pengaruh negatif proses konstruksi pada kondisi lingkungan sekitarnya, seperti pengendalian terhadap kualitas udara, air dan tanah yang tercemar di sekitar proses konstruksi.

Green Construction juga menekankan pada bahan bangunan yang ramah pada lingkungan sekitar yang mengendalikan efek negatif. Pengendalian efek negatif termasuk polusi suara seperti kebisingan yang terjadi selama proses konstruksi dan dampak sosial pada masyarakat sekitar lokasi konstruksi.

Fokus dari konstruksi ramah lingkungan adalah Tahap perancangan meliputi perancangan sistem dan penggunaan material yang ramah lingkungan. Sehingga konstruksi ramah lingkungan memerlukan proses konstruksi yang ekologis sehingga menghasilkan nilai tambah bagi lingkungan sekitar proses konstruksi. Kepedulian terhadap lingkungan proses konstruksi dinyatakan dalam pengendalian dampak negatif proses konstruksi terhadap kondisi lingkungan sekitarsekitar.

Misalnya pengendalian kualitas pencemaran udara, air dan tanah di sekitar proses konstruksi. Pengelolaan dampak negatif meliputi polusi suara seperti kebisingan pada saat proses konstruksi dan dampak sosial terhadap masyarakat sekitar lokasi konstruksi.

Mengontrol dampak negatif proses konstruksi secara langsung mengurangi efek rumah kaca yang disebabkan oleh gas buang dan debu serta menjaga kualitas air dan tanah di lingkungan konstruksi. Masyarakat harus bisa mengkontrol pemakaian efek rumah kaca / pemakaian kaca gelap pada gedung-gedung di Indonesia

Pentingnya penerapan teknologi ramah lingkungan dalam industri konstruksi untuk menjaga kelestarian lingkungan. Perkembangan teknologi yang pesat menuntut penggunaan bahan konstruksi yang efisien dan prinsip penggunaan teknologi yang tepat. Pembangunan tradisional dan industri harus sejalan dengan konsep keberlanjutan, menggunakan material yang mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Green construction atau bangunan ramah lingkungan melibatkan penggunaan bahan baku ekologis yang mengurangi konsumsi energi dan emisi.

Baca juga: Menyelamatkan Bumi dengan Gaya, Menyulap Barang Preloved Menjadi Tren Penggunaan Barang Preloved dalam Menjaga Lingkungan

Meskipun inovasi bahan bangunan terus berkembang, penerapan prinsip ramah lingkungan masih belum menyeluruh, terutama di Indonesia. Kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan untuk mendukung kelestarian bumi dengan memilih bahan konstruksi yang ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan material yang merugikan lingkungan.

Penulis: Lutvia Anggraeni

Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Universitas Tidar

Editor: Anita Said

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.