Hikmah Surah Abasa merupakan pelajaran penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Surah ini menjadi bukti bahwa teguran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi ﷺ tidak menunjukkan kekurangan, melainkan petunjuk yang penuh kasih agar umat Islam memahami makna sejati dakwah.
Pada peristiwa ini, Allah menegur Rasulullah karena beliau bermuka masam dan berpaling dari seorang sahabat buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum, demi memprioritaskan pembesar Quraisy.
Dari sini, hikmah surah abasa menjelaskan pentingnya memberi perhatian kepada siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin mendapat hidayah, tanpa memandang status sosial.
Penjelasan Ringkas Hikmah Surah Abasa
Al-Qur’an sebagai Kita suci umat Islam memiliki Hikmah yang banyak. Misalnya, pada Surah Abasa ayat 1-11 menyampaikan teguran Allah kepada kekasih-Nya yang pada saat itu berdakwah kepada petinggi Quraisy, sehingga memalingkan pandangannya kepada seseorang yang mendatanginya sambil memanggil-manggil namanya untuk mendapatkan petunjuk dari Rasulullah SAW.
Hakikat dakwah adalah mengubah manusia dari keadaan yang apa adanya kepada yang seharusnya. Dengan dakwah diharapkan orang awam menjadi paham, orang benci pada kebaikan menjadi cinta, orang bakhil menjadi dermawan, orang malas menjadi rajin, orang yang bermusuhan menjadi bersahabat dan bersaudara, begitulah seterusnya.
Dari pemahaman seperti ini, kita menyadari betapa masih begitu banyak orang yang belum menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT. sehingga dakwah amat diperlukan dan harus dilakukan dengan berbagai pendekatan yang baik sesuai dengan kondisi sang mad’u (objek dakwah).
Dalam konteks dakwah, setiap kita ingin agar semakin banyak orang yang menerimanya, apalagi bila orang-orang yang berpengaruh di tengah-tengah masyarakat. Bila seorang tokoh berpengaruh masuk Islam, akan banyak orang yang mengikutinya.
Rasulullah SAW sebagai manusia biasa juga memiliki pertimbangan seperti itu. Maka, ketika beliau sedang berdakwah kepada para tokoh Quraisy, tiba-tiba datang seorang sahabat yang kedudukannya biasa-biasa saja, bahkan matanya juga buta. Bisa jadi, Rasulullah SAW merasa terganggu atas kehadirannya yang datang untuk meminta nasihat dan petunjuk, karenanya beliau sampai bermuka masam.
Sikap Rasulullah SAW yang demikian tidak baik, maka Allah SWT menyampaikan teguran dengan turunnya surat Abasa: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.”
Secara harfiah, dakwah artinya mengajak, menyeru dan memanggil. Dakwah berarti mengajak, menyeru dan memanggil manusia agar beriman dan taat kepada Allah SWT. Dakwah bukan untuk membangun fanatisme kelompok apalagi sekadar membangun rasa simpati dan pengkultusan kepada sang dai, sama sekali tidak demikian
Karena itu, dari beberapa ayat surah Abasa di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah. setiap dai harus melayani siapa saja yang meminta pesan-pesan dakwah, ia tidak boleh pilih-pilih tempat untuk berdakwah, apalagi sekadar pertimbangan duniawi seperti lebih mengutamakan dakwah kepada kalangan elit daripada orang biasa.
Hikmah lainnya adalah setiap orang, terutama yang sudah menjadi muslim, seharusnya lebih aktif untuk memahami dan mendalami ajaran Islam, ia aktif menghadiri majelis ilmu hingga meminta nasihat dan bertanya kepada orang yang ahli, begitulah yang dicontohkan oleh Abdullah bin Ummi Maktum.
Baca juga: Hikmah dalam Berdakwah bagi Remaja Muslim dari Surah ‘Abasa
1. Latar Belakang Turunnya Surat Abasa
Surah Abasa adalah surah ke-80 dalam Al-Qur’an yang termasuk Makkiyah, diturunkan di Makkah. Turunnya surat ini menjadi teguran Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy.
Saat itu, dakwah Rasulullah tengah berfokus pada pemuka-pemuka Quraisy yang memiliki pengaruh besar. Beliau berharap pembesar Quraisy masuk Islam, karena mereka bisa menjadi pintu perubahan bagi masyarakat Makkah. Di tengah majelis itu, datang seorang sahabat yang buta, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum. Ia datang kepadamu dengan bersegera, memohon pengajaran agar bisa mendalami ajaran Islam dan membersihkan diri. Namun, karena momen tersebut sangat strategis, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bermuka masam dan memalingkan wajahnya.
Peristiwa ini diabadikan dalam abasa ayat 1 dan 2:
‘Abasa wa tawalla
An jaa’ahul a’ma
Artinya: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang kepadanya seorang buta.”
Itulah sebabnya surah Abasa ini diturunkan sebagai bentuk teguran dari Allah kepada Rasulullah. Sebab, Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia yang juga mengalami situasi berat dan harus memilih prioritas dalam dakwah.
Baca juga: Cara Berdagang dan Berbisnis Seperti Nabi Muhammad Saw
2. Kisah Abdullah bin Ummi Maktum dalam Surat Abasa
Abdullah bin Ummi Maktum atau dikenal juga dengan Ibnu Ummi Maktum, adalah seorang sahabat yang buta yang sangat setia kepada dakwah Islam. Beliau termasuk mu’azzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah bersama Bilal bin Rabah. Dalam banyak riwayat, beliau adalah sosok yang sangat tulus dan ingin mendalami ajaran Islam meski dalam keterbatasan fisik.
Pada saat dakwah kepada pembesar Quraisy, ummi maktum datang kepada Rasulullah dengan niat yang murni. Ia berharap bisa mendapatkan nasihat langsung dari Rasulullah. Namun, karena Rasulullah sedang fokus menghadapi pemuka Quraisy, kedatangan buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum dianggap tidak tepat waktu.
Allah lalu menyampaikan dalam Al-Qur’an, bahwa:
“Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, dan ia takut (kepada Allah), maka engkau malah mengabaikannya.”
(abasa ayat 8-10)
Dalam ayat ini, terdapat penguatan bahwa barangkali ia ingin membersihkan dirinya dan lebih layak mendapat perhatian dibanding mereka yang merasa dirinya serba cukup.
Kisah kedatangan Abdullah menjadi pelajaran besar. Tidak hanya bagi Rasulullah, tapi juga bagi umat Islam tentang siapa yang lebih layak dijadikan objek dakwah.
Baca juga: Hijrah di Media Sosial: Antara Kesalehan dan Komodifikasi Dakwah di Era Digital
3. Tafsir Surah Abasa Ayat 1–10
Makna Lafaz عَبَسَ dan Teguran Nabi ﷺ
Kata عَبَسَ (Abasa) berasal dari akar kata yang berarti “bermuka masam”, dan ini menggambarkan ekspresi wajah Nabi ﷺ ketika itu. Ia bukan marah, tapi menampakkan sedikit rasa kecewa dan tidak senang. Hal itu karena kedatangan Abdullah bin Ummi Maktum dianggap bisa mengganggu fokus dakwah pada saat krusial.
Namun, teguran Allah kepada Nabi Muhammad datang sebagai bentuk kasih sayang dan teguran dari Allah bahwa sikap bermuka masam dan berpaling tersebut tidak sesuai dengan prinsip dakwah Islam.
Allah ingin mengajarkan bahwa prioritas dalam berdakwah tidak selalu berdasarkan logika manusia. Bahkan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai manusia dan rasul, ditegur oleh Allah agar menjunjung tinggi keikhlasan dan ketakwaan sebagai landasan dalam melayani umat.
Kandungan Ayat 1–10
Bagian abasa ayat 1-10 menjelaskan bahwa dakwah harus diarahkan kepada mereka yang memang menunjukkan niat tulus, seperti orang yang datang kepadamu dengan bersegera untuk mendapatkan hidayah, bukan kepada pembesar Quraisy yang merasa dirinya serba cukup atau istaghna.
Allah menegaskan bahwa mengabaikannya adalah kesalahan. Sebab, buta secara fisik tidaklah menjadi halangan untuk mendalami ajaran Islam, sedangkan tokoh Quraisy justru berpaling darinya dan enggan membuka hati.
Pelajaran dari surah abasa ayat 1-10 menunjukkan bahwa keutamaan dalam dakwah bukan pada kekayaan atau kekuasaan, tetapi pada kemurnian hati dan niat mencari kebenaran.
4. Hikmah Surah Abasa dan Pesan Strategi Dakwah
Salah satu hikmah surah abasa yang paling menonjol adalah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menegur Nabi Muhammad ﷺ bukan karena kesalahan besar, melainkan sebagai bentuk pengarahan terhadap strategi dakwah. Hikmah surat abasa mengajarkan bahwa dalam dakwah, orientasi utama bukan pada siapa yang kaya atau berpengaruh, tapi pada siapa yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran.
Melalui ayat-ayat dalam surah ke‑80, kita diajarkan bahwa kedatangan Abdullah bin Ummi Maktum yang tulus hendak mendalami ajaran Islam, seharusnya disambut penuh cinta dan perhatian. Pengajaran surah abasa adalah bahwa Islam adalah agama yang menghargai ketulusan, bukan status sosial. Pelajaran yang dapat diambil dari surat abasa ayat 1 sampai 10 adalah … bahwa siapa pun yang datang dengan hati yang ikhlas untuk belajar, harus diprioritaskan dalam majelis ilmu.
Dakwah Rasulullah adalah dakwah yang mengutamakan nilai persamaan. Sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah turunnya ayat ini mencerminkan transformasi luar biasa: beliau tidak lagi memfokuskan dakwah hanya kepada pembesar, tetapi juga menyambut orang-orang seperti Abdullah dengan penuh kasih.
Hikmah surah ‘abasa mengajarkan bahwa rasulullah saw sebagai manusia bisa saja salah dalam penilaian strategis, tapi diturunkan sebagai bentuk teguran untuk memperbaiki pendekatan. Hal ini juga menjadi pelajaran besar bagi para da’i agar tidak sibuk mengejar pembesar, tetapi menyambut siapa saja yang datang dengan niat mendalami ajaran Islam.
Menurut ulama tafsir, pelajaran ini juga menegaskan bahwa makkiyah bukan hanya mencela kaum kafir, tetapi juga mengoreksi strategi dakwah nabi shallallahu di masa awal kenabiannya. Berisi tentang teguran Allah, hikmah surah ini menumbuhkan kesadaran dalam hati seorang pendakwah agar tidak menilai dari kulit luar.
5. Dampak dan Teladan dari Kisah Ini
Setelah turunnya surah Abasa, sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap Abdullah bin Ummi Maktum berubah secara drastis. Beliau mulai menyapa Abdullah setiap kali bertemu, menanyakan kabarnya, dan bahkan memuliakannya dalam majelis ilmu. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh teguran dari Allah dalam membentuk akhlak seorang rasul.
Dalam riwayat disebutkan, ketika Rasulullah mengangkat pasukan ke medan jihad, beliau sering menunjuk Abdullah bin Ummi Maktum untuk menggantikannya sebagai imam di Madinah. Ini bukan sekadar bentuk penghormatan, tetapi pengakuan atas keutamaan spiritual beliau.
Bagi umat Islam, ini menjadi teladan agung. Kita diajarkan untuk tidak mengabaikan siapa pun, bahkan mereka yang tampak lemah atau buta, karena bisa jadi mereka lebih layak mendapatkan hidayah. Pemuka agama dan para da’i pun perlu menimbang ulang siapa yang dijadikan prioritas dakwah.
Nabi Muhammad saw adalah manusia, dan melalui kisah Rasulullah ini, kita belajar bahwa siapa pun bisa ditegur—bahkan oleh Allah langsung. Yang penting adalah bagaimana respons terhadap teguran tersebut. Rasulullah tidak hanya menerima, tapi langsung memperbaiki diri. Beliau menunjukkan bahwa majelis bukan tempat untuk pamer status, melainkan tempat tumbuhnya cahaya keimanan.
Pelajaran lainnya adalah bahwa orang yang merasa dirinya serba cukup, seperti pembesar Quraisy, belum tentu siap menerima dakwah. Sebaliknya, mereka yang datang penuh harap dan rendah hati lebih layak mendapatkan bimbingan. Maka benar bahwa mendakwahi para pemuka kaum memang perlu, tapi jangan sampai mengabaikan mereka yang penuh harap dan cinta ilmu.
Bahkan dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa pembesar Quraisy memasuki Islam bukan karena dikejar, tetapi karena melihat akhlak, kesabaran, dan konsistensi Rasulullah.
6. Kesimpulan dan Refleksi
Hikmah dari diturunkannya QS. ‘Abasa : 1-10 yang tepat adalah… sebagai pelajaran universal dalam dunia dakwah. Allah menegur nabi Muhammad ﷺ, bukan karena kesalahan fatal, tapi agar menjadi teladan bagi seluruh umat bahwa dakwah harus memuliakan siapa saja yang tulus dan ikhlas.
Pelajaran yang dapat kita ambil dari Q.S Abasa ayat 1-10 adalah … tentang pentingnya memperhatikan objek dakwah yang haus akan ilmu, bukan mereka yang justru mengabaikannya. Dakwah bukan soal siapa yang berpengaruh, tapi siapa yang bersedia menerima.
Teguran Allah menegur dengan kelembutan, tapi juga dengan kejelasan. Ini menunjukkan bahwa bahkan seorang rasul tetap diarahkan oleh wahyu dalam setiap langkah strategisnya. Dan teguran dari Allah ini menjadi pengingat abadi bagi kita semua agar tak menilai orang dari tampak luar.
Apakah pelajaran yang bisa kita ambil dari surah Abasa? Bahwa seorang yang buta, lemah, bahkan tidak dipandang oleh manusia, bisa jadi lebih berharga di mata Allah dibanding mereka yang sombong dan enggan menerima kebenaran.
Sebagai penutup, kita diajak untuk mendalami ajaran Islam dan tidak pernah mengabaikan siapa pun yang datang kepada kita dengan niat tulus. Bahkan jika ia datang bersegera dan dengan keterbatasan fisik, seperti Abdullah bin Ummi Maktum, dialah yang lebih layak dilayani, bukan diabaikan.
Penulis: Nurma Wijayanti
Mahasiswa IAIN Pekalongan
Editor: Ningga Yudha Prajna
*Artikel ini telah diupdate pada tangga 1 Agustus 2025 agar lebih relevan dengan kondisi terkini.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












