Hutan Kalimantan Terancam: Ketika Paru-Paru Dunia Mengalami Deforestasi Tanpa Kendali, Suara Abi Kusno Dibungkam

penyebab kerusakan hutan kalimantan
Hutan Kalimantan Terancam: Ketika Paru-Paru Dunia Mengalami Deforestasi Tanpa Kendali, Suara Abi Kusno Dibungkam. Ilustrasi: MMI.

Hutan Amazon di Amerika Serikat dan Hutan Hujan Kalimantan di Indonesia, merupakan dua kawasan yang kerap disebut sebagai “paru-paru dunia”. Bukan tanpa alasan, keduanya memiliki pengaruh yang cukup besar untuk menjaga keseimbangan dunia.

Kemampuannya untuk menyerap karbondioksida, menyimpan cadangan air dunia, menjaga suhu bumi agar tetap stabil, dan spesialnya, mereka menjadi tempat jutaan makhluk hidup tinggal.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, sangat menyedihkan rasanya, karena justru kawasan yang seharusnya dilindungi, kini menjadi titik kehancurkan dunia akibat deforestasi yang membabi buta.

Tak usah jauh-jauh ke Hutan Amazon, Hutan Hujan Kalimantan saja contohnya. Hutan yang dulunya menjadi hutan alam hijau yang paling luas di Asia Tenggara, kini menjadi hutan abu. Jika dilihat dari ketinggian, hutan ini terlihat seperti motif batik, yaa… Karena memiliki pola tersendiri.

Foto kondisi hutan Kalimantan. Sumber: bbc.

Berbagai sumber menunjukkan bahwa deforestasi ini berlangsung selama puluhan tahun. Kini hutan beralih fungsi menjadi perkebunan monokultur, pertambangan, dan pemukiman warga. Kerusakan ekologis membuat bumi sulit memulihkan dirinya sendiri.

Hutan Kalimantan bukan hanya hutan hijau yang dipenuhi oleh pepohonan, melainkan menjadi rumah bagi ribuan satwa endemik yang langka dan hanya bisa ditemukan di Indonesia.

Bayangkan, saat hutan yang mereka anggap sebagai rumah ini dihancurkan oleh keserakahan manusia, bagaimana nasib mereka? Hutan dengan beribu jenis pohon dan tumbuhannya, dikalahkan dengan 1 jenis tumbuhan monokultur, kelapa sawit.

Baca Juga: IKN Nusantara: Berkah atau Ancaman bagi Kalimantan Timur?

Seberharga itu kah kelapa sawit? Hingga mengancam populasi jutaan satwa yang hidup di sana. Data mencatat bahwa populasi orang utan terus menurun di setiap tahunnya.

Bukan hanya manusia yang hidup di dunia ini, mereka juga mempunyai hak untuk hidup aman. Bukannya kita tidak boleh menebang pohon, boleh kok, tapi tebanglah seperlunya.

Bahkan kerusakan hutan ini bukan hanya merugikan satwa yang hidup di sana, melainkan masyarakat adat yang telah lama hidup berdampingan dengan hutan juga mengalami perubahan besar dalam ruang hidupnya.

Lahan mereka satu persatu diambil alih, air bersih mulai terkontaminasi, curah hujan yang kini berkepanjangan hingga menyebabkan beberapa kawasan terdampak banjir.

Foto alm. Abi Kusno Nachran. Sumber: timesindonesia.

Dilihat dari beberapa dampak tersebut saja, deforestasi ini merugikan banyak pihak dan hanya menguntungkan segelintir orang yang berkuasa di sana. Hal tersebut menarik perhatian almarhum Abi Kusno Nachran, seorang jurnalistik yang memiliki keberanian untuk mengungkapkan kebenaran di atas tanah kelahirannya.

Semasa hidupnya, beliau seringkali melaporkan aktivitas penebangan dan perdagangan kayu ilegal di hutan Kalimantan. Beliau melakukan investigasi mendalam dengan cara turun langsung ke lapangan dan mencoba mengungkapkan siapa saja dalang atas semua kerusakan ini.

Tak mudah menjadi beliau saat itu, beliau mendapatkan bebagai perlakuan tidak mengenakan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Tepatnya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada 28 November 2001, beliau dan editornya diserang oleh segerombolan preman bersenjata tajam.

Baca Juga: Paru-Paru Dunia: Kalimantan dan Tantangannya

Bukan untuk menakuti atau menggertak beliau, namun secara spesifik untuk membunuh beliau. Serangan itu menyebabkan perut sang editor sobek, sedangkan kondisi Abi Kusno tergeletak tak bedaya.

Malaikat maut tak kunjung datang, dengan sisa tenaga yang beliau miliki, beliau bertahan hingga dilarikan ke rumah sakit. Menyadari nyawanya akan terancam jika tetap berdiam di Kalimantan, rekan sesama aktivis internasional menerbangkannya ke Jerman untuk mendapatkan perawatan yang terbaik.

Dari kejadian tersebut, beliau mendapatkan 350 jahitan di 17 luka bacokan, 4 jari kirinya putus dan hanya menyisakan ibu jarinya saja.

Namun semua belum selesai, puncak dari perjuangan Abi ada di tahun 2006. Di saat beliau dengan gencarnya melakukan inspeksi mendadak ke kantong-kantong kayu ilegal, beliau mendapatkan sebuah paket berisikan kain kafan dengan disertai pesan “berhenti atau mati”. Melihat pesan tersebut, beliau tetap tenang dan tidak merasa takut.

Sampai pada keesokan harinya, mobil yang dikendarai beliau menabrak bagian belakang sebuah truk di Jalan Tol Palimanan-Kanci, Cirebon. Sang pahlawan dari Kalimantan itu menghembuskan napas terakhirnya di aspal jalan tol yang jauh dari tempat tanah kelahirannya.

Polisi memang menyimpulkan bahwa kejadian itu merupakan kecelakaan murni, namun bagi kami, itu adalah sebuah tanda tanya yang mendalam.

Hilangnya suara kebenaran sang pahlawan, mengingatkan kita bahwa peran jurnalis dan pemerhati lingkungan ini sangat penting. Pasalnya, tanpa liputan, investigasi, atau tekanan yang diberikan publik, kerusakan hutan akan terus berlangsung tanpa pengawasan.

Seperti yang bisa kita lihat saat ini, dengan pengawasan pun sudah separah ini, apalagi tidak diawasi. Namun sayangnya, setiap kali berita mengenai kerusakan ekologis ini muncul, akan selalu dikalahkan dengan berita-berita lain yang terkadang tidak ada faedahnya.

Jika paru-paru dunia ini dibiarkan terus dibabat habis, dunia akan kehilangan salah satu benteng alami yang menjaga stabilitas iklim dan kehidupan semua makhluk di dalamnya. Karena kerusakan hutan bukan hanya tentang pohon yang tumbang, melainkan tentang masa depan kita semua.

Ekosistem hutan dirusak, bencana alam di mana-mana, satwa terancam punah. Lantas… Siapa yang akan melanjutkan upaya pengungkapan kebenaran ini? Siapa yang akan menjaga hutan tetap bernapas untuk generasi yang akan datang?Aapakah kita harus membiarkan ini begitu saja?

Penulis: Azka Azrina Zein
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI)
Aktif juga di organisasi sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Kabinet Connection 2025-2026

Dosen Pengampu: Drs. Didin Sabarudin, M.Si.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses