Jakarta dan Ombak yang Kembali Menuntut Haknya

tanggul laut jakarta
Tanggul di Pantai Mutiara Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara (Foto: Dok. Penulis)

Melihat kondisi tanggul di Pantai Mutiara Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara yang sempat viral di media sosial pada 24 November 2025 mengalami kebocoran, kita semakin disadarkan bahwa pertahanan yang dibangun selama ini tidak benar-benar kuat.

Ombak sudah tak hanya datang untuk menyapa garis pantai, tetapi mulai “menagih” kembali daratan yang dulu ia miliki.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fenomena ini bukan terjadi tanpa sebab. Data menunjukkan bahwa dalam kurun 2014–2024, rata-rata muka air laut global naik 4,5 cm atau sekitar 4,5 mm per tahun, lebih dari dua kali lipat kenaikan jangka panjang sejak 1901 yang sebesar 1,8 mm per tahun (Climate Change Tracker, 2024).

Artinya air laut makin tinggi dari tahun ke tahun, sementara permukaan tanah di Jakarta justru semakin turun.

Menurut para ahli, Jakarta diprediksi akan tenggelam pada tahun 2050, prediksi seperti ini bukan hal baru, karena kerusakan lingkungan di Jakarta sudah terjadi sejak lama.

Bukan hanya akibat air laut yang naik, tetapi juga karena ulah manusia yang terus memperparah kondisi kota: eksploitasi tanah secara berlebihan, beban bangunan, pertumbuhan penduduk semakin tinggi yang akan terus menghadirkan bangunan baru serta pengambilan air tanah secara terus menerus.

Baca Juga: Pembangunan yang Melupakan Akar: Gagalnya Konteks Lokal dalam Gerakan Hijau

Kondisi faktor tersebut menjadikan Jakarta salah satu kota yang mengalami penurunan tanah paling cepat di dunia, dengan tingkat penurunan mencapai 2–15 cm per tahun dalam lima puluh tahun terakhir (Abidin dkk., 2011).

Dampaknya kini semakin terlihat nyata. Tanggul yang dibagun megah di tepi Pantai pun perlahan kehilangan kuasa. Air laut tetap mencari jalan, dan Jakarta semakin terancam tenggelam.

Namun, apakah tanggul adalah satu-satunya Solusi? Sayangnya, selama ini pemerintah tampak terlalu terpaku pada pembangunan fisik tanggul, gedung pencakar langit, hingga proyek reklamasi yang justru memperparah masalah lingkungan.

Sementara pepohonan yang seharusnya melindungi dari banjir dan menjaga tanah tetap stabil, terus di tebang demi ruang kota yang semakin padat.

Permasalahan tenggelamnya Jakarta bukan hanya persoalan air laut yang meninggi, tetapi juga tanah yang terus turun.

Dua ancaman ini tidak akan pernah terselesaikan jika pemerintah hanya fokus membangun tembok beton, maka itu hanya akan menjadi perang tanpa akhir dengan laut yang tak pernah lelah.

Baca Juga: Krisis Iklim: Kenaikan Permukaan Air Laut yang Berdampak pada Kesehatan Masyarakat di Kiribati

Maka kita sebagai masyarakat yang sadar, tidak bisa hanya menunggu dan menyalahkan. Kita harus ikut terlibat dalam setiap langkah penyelamatan kota ini.

Kesadaran kolektif adalah penentu masa depan Jakarta. Jika warganya peduli, maka pemerintah pun akan kehilangan alasan untuk terus menunda perubahan.

Jakarta bukan sekadar pusat pemerintah. Ia adalah rumah bagi jutaan harapan, sejarah panjang, dan masa depan bangsa. Kota ini terlalu berharga untuk dibiarkan tenggelam begitu saja.

Dan tidak ada yang lebih menyedihkan daripada menjadi saksi kota sendiri perlahan hilang ditelan laut bukan karena takdir, tetapi karena kelalaian manusia.

 

Penulis: Raisya Aristya Pramadhani (191251150)
Mahasiswa Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga

Dosen Pembimbing: Sigit Ari Saputro S.K.M., M.Kes., Ph.D.

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses