Krisis Iklim: Kenaikan Permukaan Air Laut yang Berdampak pada Kesehatan Masyarakat di Kiribati

dampak krisis iklim
Rahel Rosalina Mokai, Mahasiswa Universitas Cenderawasih (Foto: Dok. Penulis)

Pendahuluan

Perubahan iklim berdampak sangat signifikan dan mengancam kelangsungan hidup Kiribati. Dampak utama adalah kenaikan permukaan air laut yang mengancam akan membanjiri pulau-pulau rendah Kiribati dalam beberapa dekade mendatang.

Peningkatan ini menyebabkan banjir yang semakin sering, erosi pesisir, serta intrusi air laut yang mencemari sumber air tawar dan tanah subur, mengancam ketahanan pangan dan kehidupan penduduk.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Infrastruktur vital, seperti rumah, jalan, dan fasilitas umum juga terancam kerusakan akibat gelombang badai yang semakin intens dan frekuensi bencana alam yang meningkat.

Selain aspek fisik, perubahan iklim juga menghadirkan ancaman serius terhadap kedaulatan dan eksistensi negara.

Penduduk Kiribati dipaksa untuk mempertimbangkan perpindahan paksa (migrasi iklim) karena pulau mereka semakin tidak layak huni. Beberapa pulau bahkan sudah hilang akibat naiknya permukaan laut.

Kiribati telah merencanakan berbagai strategi mitigasi dan adaptasi, termasuk rencana pembangunan daratan agar pulau-pulau utamanya bisa lebih tinggi dan aman, meskipun biayanya sangat tinggi dan menjadi beban ekonomi besar bagi negara.

Baca Juga: Distributor FM200: Solusi Pemadaman Kebakaran Cepat & Bersih untuk Ruang Kritis

Pencemaran air bersih mengakibatkan pada kesehatan yang menjadi topik utama dalam artikel ini, akan membahas penyakit yang menjadi masalah serius di tengah masyarakat Kiribati dan upaya pemerintah dalam penanganan isu kesehatan yang memburuk di kiribati.

Isi

Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan di Kiribati sangat serius. Kenaikan permukaan air laut dan banjir yang sering terjadi menyebabkan meningkatnya risiko penyakit yang ditularkan melalui air, seperti diare, kolera, dan infeksi lainnya akibat pencemaran sumber air bersih.

Kondisi banjir juga menciptakan lingkungan yang ideal bagi berkembangbiaknya nyamuk, sehingga meningkatkan kasus penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti demam berdarah dengue dan malaria.

Selain itu, perubahan iklim menyebabkan stres psikologis dan masalah kesehatan mental bagi penduduk Kiribati yang menghadapi ancaman kehilangan tempat tinggal dan ketidakpastian masa depan.

Perubahan iklim juga berdampak pada keamanan pangan karena berkurangnya hasil pertanian dan ikan, yang berujung pada malnutrisi dan berbagai masalah kesehatan terkait gizi.

Secara keseluruhan, kesehatan masyarakat Kiribati terancam tidak hanya secara fisik dari penyakit menular, tetapi juga secara mental dan gizi akibat perubahan iklim yang mengganggu kondisi kehidupan dan sumber daya dasar mereka.

Pemerintah Kiribati bekerja sama dengan berbagai organisasi internasional dan lokal dalam menangani masalah kesehatan yang terkait dengan perubahan iklim.

Kerja sama ini mencakup dukungan dari organisasi seperti WHO dan Doctors Without Borders (MSF) yang membantu memperkuat sistem kesehatan nasional Kiribati dan memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan lokal, khususnya dalam penanganan penyakit menular dan risiko kesehatan akibat perubahan iklim.

Baca Juga: Krisis Tanah Akibat Iklim: Ancaman bagi Keamanan Manusia di Indonesia

Kiribati juga memiliki dokumen kebijakan seperti National Climate Change and Health Action Plan (NCCHAP) yang dirancang untuk mengantisipasi dan mengurangi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat.

Program ini termasuk adaptasi terkait pasokan air bersih, perlindungan pesisir, edukasi publik tentang penyakit yang berhubungan dengan iklim, dan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan agar lebih tahan terhadap bencana iklim.

Selain itu, proyek berjudul Te Mamauri yang difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan Kiribati bersama WHO dan didanai oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA) bertujuan untuk meningkatkan ketahanan sistem kesehatan terhadap dampak ekstrem dari perubahan iklim, termasuk memastikan akses listrik berkelanjutan di klinik-klinik terpencil dengan penggunaan energi terbarukan seperti lampu tenaga surya.

Secara keseluruhan, Kiribati menjalankan strategi kolaboratif dengan bantuan internasional dan program nasional untuk mengatasi dampak kesehatan perubahan iklim secara sistematis dan berkelanjutan.

Kesimpulan

Isu perubahan iklim di Kiribati membawa dampak yang sangat kompleks dan mengancam eksistensi negara dan kesehatan masyarakatnya.

Kenaikan permukaan air laut menyebabkan erosi pantai, banjir, dan pencemaran sumber air bersih, mempengaruhi ketahanan pangan dan kualitas hidup.

Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit menular seperti diare dan demam berdarah, serta penyakit tidak menular seperti diabetes akibat perubahan pola hidup dan stres lingkungan.

Kepadatan penduduk yang meningkat akibat migrasi internal memperparah masalah kesehatan dan sosial, dengan penyakit seperti tuberkulosis dan kusta juga masih menjadi persoalan utama.

Baca Juga: Optimalisasi PLTS untuk Keberlanjutan Energi di Indonesia

Pemerintah Kiribati, dengan dukungan berbagai organisasi internasional seperti WHO dan Doctors Without Borders, telah menjalankan program adaptasi kesehatan yang fokus pada peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, manajemen penyakit kronis, pelatihan tenaga medis, dan peningkatan infrastruktur kesehatan.

keberhasilan terbaru dari kerjasama kesehatan di Kiribati adalah kegiatan yang dilakukan oleh organisasi Doctors Without Borders (MSF) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Kiribati sejak Oktober 2022.

MSF mendukung peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk deteksi dan manajemen diabetes pada ibu hamil dan hipertensi terkait, serta program perawatan bayi baru lahir dalam 24 jam pertama kehidupan.

Untuk keberlanjutan, MSF fokus memberikan pelatihan dan pendampingan kepada bidan, perawat, dan dokter lokal agar bisa mandiri.

Kerja sama ini membantu Kiribati mengatasi beban penyakit tinggi, seperti diabetes, hipertensi, tuberkulosis, dan meningkatkan standar perawatan kesehatan ibu dan anak yang menjadi kunci untuk kesehatan masyarakat di tengah tekanan perubahan iklim dan kondisi sosial ekonomi yang sulit

Secara ringkas, perubahan iklim di Kiribati tidak hanya mengancam fisik negara dan lingkungan tapi juga membawa krisis kesehatan yang serius, yang memerlukan upaya kolaboratif berkelanjutan antara pemerintah dan mitra internasional untuk mitigasi dan adaptasi agar dapat mempertahankan kehidupan dan kesehatan masyarakatnya

 

Penulis: Rahel Rosalina Mokai
Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Cenderawasih

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses