Bahasa merupakan sarana komunikasi yang paling efektif dalam menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan, dan pendapat (Walija, 1996:4).
Dalam kehidupan sosial, bahasa terus berkembang dan mengalami variasi sesuai kebutuhan penggunanya.
Salah satu ragam bahasa yang sangat menonjol di kalangan generasi muda adalah bahasa gaul, yaitu bahasa nonformal yang lazim digunakan dalam kelompok tertentu (Suminar dalam Istiqomah dkk., 2018).
Fenomena bahasa gaul terlihat jelas dalam interaksi modern, terutama di media sosial dan lingkungan kampus.
Istilah seperti lit, vibes, hingga singkatan lokal seperti cpeq muncul sebagai simbol gaya komunikasi generasi 2000-an yang dipengaruhi budaya populer, musik, dan influencer.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting terkait pola penggunaan, konteks munculnya bahasa gaul, dan alasan mengapa bahasa ini begitu dominan di kalangan mahasiswa.
Di sisi lain, penggunaan bahasa gaul menimbulkan persoalan kebahasaan dan persepsi sosial.
Baca Juga: Kesepian Mahasiswa dalam Keluarga Sibuk: Sebuah Fenomena Bahasa
Bagi sebagian masyarakat seperti penjual kantin atau satpam kampus, bahasa gaul dapat menimbulkan kesalahpahaman atau dianggap kurang sopan.
Bahkan, penggunaan yang tidak terkontrol dapat terbawa ke ranah formal, seperti dalam penulisan tugas atau presentasi akademik.
Artikel ini membahas bentuk penggunaan bahasa gaul, faktor penyebab maraknya penggunaan, serta dampaknya terhadap komunikasi generasi muda.
Analisis ini disusun berdasarkan wawancara terhadap empat narasumber: dua mahasiswa, satu penjual kantin, dan satu satpam.
Bentuk Penggunaan Bahasa Gaul di Kalangan Generasi Muda
Bahasa gaul berkembang pesat seiring perubahan zaman dan tingginya aktivitas digital. Menurut Elawati, Herdiana, dan Agustini (2023 dalam Norma, 2020), bentuk-bentuk bahasa gaul terbagi menjadi beberapa kategori:
1. Pemendekan
Bentuk pemendekan digunakan hampir di semua kalangan, contoh: OTW (On The Way) yang berarti sedang dalam perjalanan.
2. Singkatan
Kata atau frasa dipersingkat sesuai kebiasaan pengguna.
3. Akronim
Contohnya “bucin” dari budak cinta, istilah untuk menggambarkan seseorang yang sangat tergila-gila pada pasangannya.
4. Inversi
Pembalikan kata, misalnya “kuy” dari “yuk”.
5. Ragam Kreatif
Bentuk baru yang muncul dari kreativitas anak muda dan komunitas digital.
Baca Juga: Festival Zukhruf 2025, Ajang Tahunan Bahasa dan Sastra Arab UINSA
Faktor Penyebab Maraknya Bahasa Gaul
Menurut Nur Ami dkk. (2023), ada beberapa faktor utama yang menyebabkan bahasa gaul banyak digunakan oleh remaja:
1. Media Sosial dan Internet
Platform digital menjadi ruang utama persebaran istilah baru.
2. Lingkungan Pergaulan
Kelompok sebaya sangat berpengaruh terhadap gaya bahasa individu.
3. Budaya Asing dan Tren Populer
Musik, film, dan influencer memperkenalkan istilah nonbaku yang kemudian diserap generasi muda.
Media sosial disebut sebagai faktor paling dominan dalam mempercepat penyebaran bahasa gaul.
Dampak Positif
- Mempermudah interaksi dan komunikasi dalam lingkungan sebaya.
- Sebagai bentuk ekspresi diri, terutama dalam percakapan informal.
- Membangun identitas sosial, menandai keanggotaan suatu kelompok.
Dampak Negatif
- Menurunnya penggunaan bahasa Indonesia yang baku, terutama di konteks akademik.
- Menimbulkan kesalahpahaman, khususnya dalam interaksi dengan generasi lebih tua.
- Dapat dianggap kurang sopan, jika digunakan dalam situasi formal.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa mahasiswa menganggap bahasa gaul sebagai cara untuk menyesuaikan diri, tetapi pengamat sosial menilai bahwa penggunaannya perlu dikendalikan demi menjaga etika dan kesantunan.
Baca Juga: Pemanfaatan Media Digital untuk Meningkatkan Perkembangan Kemampuan Berbahasa pada Anak Usia Dini
Kesimpulan
Bahasa gaul merupakan fenomena linguistik yang berkembang pesat seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan pengaruh budaya populer.
Meskipun memiliki nilai positif sebagai sarana ekspresi, identitas, dan kemudahan komunikasi, bahasa gaul juga memiliki dampak negatif terutama pada kemampuan berbahasa baku dan kesopanan interaksi.
Kesadaran penutur untuk menempatkan bahasa sesuai situasi sangat diperlukan agar keseimbangan antara bahasa gaul dan bahasa Indonesia baku tetap terjaga.
Penulis: Kelompok 8
Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Prancis, Universitas Brawijaya
Daftar Pustaka
- Walija. (1996). Bahasa Indonesia dalam Perbincangan. Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta Press.
- Istiqomah, Dina Syifa, dkk. (2018). Analisis Penggunaan Bahasa Prokem dalam Media Sosial. Parole: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 1(5), 665–674.
- Elawati, E., Herdiana, H., & Agustini, R. (2023). Penggunaan Ragam Bahasa Gaul dalam Komunikasi Lisan oleh Masyarakat Dusun Cieurih di Desa Cieurih Kecamatan Cipaku Kabupaten Ciamis. Diksatrasia: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 7(1), 62–68.
- Nur Ami, A. M., Putri, C. D., Lubis, F., Lestari, N. I., Nababan, S. F., Saragih, S. H., & Sari, S. D. (2023). Faktor-Faktor yang Membuat Maraknya Penggunaan Bahasa Asing Maupun Bahasa Gaul di Kalangan Anak Muda. Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya (MORFOLOGI), 1(4), 117–121.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












