Lidah Buaya (Aloe vera): Solusi Praktis untuk Penyembuhan Luka Bakar dan Merawat Kulit

Lidah Buaya
Ilustrasi: istockphoto.

Lidah buaya (Aloe vera) adalah tanaman dengan daun berdaging tebal dari genus Aloe. Tanaman ini berasal dari Arab, khususnya bagian timur laut benua Afrika, serta Semenanjung Arab. Ciri fisik dari tanaman ini adalah daunnya berdaging tebal, panjang, mengecil kebagian ujungnya, berwarna hijau serta berlendir.

Lidah buaya biasanya dapat ditemukan tumbuh secara alami di berbagai tempat kawasan beriklim, terutama di daerah tropis dan subtropic. Tanaman lidah buaya banyak dibudidayakan untuk pertanian, pengobatan, dan juga sebagai tanaman hias.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Aloe vera merupakan keluarga Liliaceae yang biasanya dibudidayakan di daerah tropis. Tanaman ini adalah salah satu obat paling lama dan sering digunakan dalam penyembuhan luka. Aloe vera memiliki efek antiinflamasi yang signifikan, oleh karena itu dapat digunakan dalam mengobati gingivitis, luka kulit dan luka bakar tingkat pertama hingga kedua.

Penggunaan lidah buaya pada kulit telah terbukti memiliki efek yang baik pada proses penyembuhan luka bakar. Lidah buaya (Aloe vera) lebih sering digunakan oleh masyarakat sebagai salah satu pengobatan topical pada kulit karena Aloe vera mudah didapatkan dan juga biaya yang dikeluarkan juga lebih terjangkau tetapi belum diketahui pasti dosis yang digunakan pada luka bakar berdasarkan luas dan ke dalam luka.

Aloe vera dapat digunakan untuk mengobati berbagai luka terutama pada luka bakar (Combutio). Hal ini didukung dengan penelitian (Maenthaisong, et al, 2007) menyatakan bahwa Aloe vera diberikan untuk mengobati pada pasien luka bakar untuk derajat pertama dan derajat kedua, jika dibandingkan dengan perawatan luka konvensional maka Aloe vera lebih efektif dan aman untuk mempercepat proses penyembuhan dan regenerasi jaringan pada kulit.

Bagian yang biasa digunakan dari lidah buaya yaitu pada bagian gel lendir yang diperoleh dari bagian dalam daun. Gel ekstra lidah buaya dapat membantu pengeringan luka bakar dengan pembentukan kolagen sehingga memberikan efek terhadap luka bakar melalui proliferasi sel serta juga dapat meningkatkan fibroblas derma yang dapat mendukung proses pengeringan luka bakar.

Manfaat lidah buaya salah satunya yaitu sebagai perlindungan kulit terutama sebagai penyembuh luka karena memiliki kandungan senyawa mannose-6-phosphate dan polisakarida. Terdapat berbagai manfaat lain dari lidah buaya yaitu dapat mengatasi kulit kering, menghilangkan jerawat,dan juga dapat mengatasi ketombe.

Tanaman ini membantu meningkatkan terbentuknya keratinosit sekaligus meningkatkan rangsangan migrasi pada sel kulit. Keratinosit sendiri adalah sel penyusun epidermis yang berfungsi mencegah keluar masuknya senyawa kimia asing.

Tidak hanya itu, lidah buaya juga memiliki kandungan senyawa glukomanan. Senyawa glukomanan dapat membantu mendorong terjadinya regenerasi sel dan terbentuknya kolagen, yaitu sejenis protein yang bisa membantu mempercepat sembuhnya luka atau mempersingkat waktu pemulihan berkurang menjadi  9 hari.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Wounds menyebutkan, bahwa lidah buaya memiliki efek antivirus, antiperadangan, dan antiseptik yang diyakini mampu menyembuhkan luka.

Luka bakar merupakan suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan adanya kontak dengan sumber panas atau trauma panas dan trauma dingin (frost bite) seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi dengan insidesi yang meningkat setiap tahunnya.

Baca Juga: Efektivitas Lidah Buaya (Aloe Vera) sebagai Obat Alami dalam Pengobatan Berbagai Penyakit

Kerusakan jaringan yang disebabkan api biasanya lebih berat untuk ditangani dibandingkan air panas. Selain itu lama kontak jaringan dengan sumber panas menentukan luas dan kedalaman kerusakan jaringan akan menentukan lama proses penyembuhan. Semakin lama waktu kontak, semakin luas dan dalam kerusakan jaringan yang terjadi.

Salah satu pengobatan yang biasanya digunakan dalam penyembuhan luka bakar yaitu silver sulfadiazine, namun obat ini diduga memiliki beberapa efek samping yang merugikan seperti adanya rasa terbakar di kulit, gatal-gatal, ruam, kulit atau gusi berwarna abu-abu atau kebiruan.

Saat ini pengobatan menggunakan obat tradisional dan bahan-bahan herbal masih banyak dilakukan sebagai alternatif dalam masyarakat, oleh karena itu diperlukan diperlukan terapi komplementer untuk menunjang peran dari antimikroba topical utama dalam penyembuhan luka bakar (Lin et al., 2010).

Penyembuhan luka adalah respons fisiologis terhadap cedera, di mana struktur yang rusak diganti dan integritas kulit dikembalikan. Secara umum, proses penyembuhan dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu inflamasi, proliferatif, dan remodeling. Proses ini juga terdapat dalam tahap-tahap penyembuhan luka bakar.

Proses penyembuhan luka bakar yang cepat dikarenakan komponen yang terdapat dalam Aloe vera. Aloe vera mengandung nutrisi penting seperti vitamin A, C dan E, yang bertindak sebagai antioksidan, mineral (kalsium, tembaga, magnesium, kalium, dan seng), enzim, glikoprotein, asam amino, konstituen karbohidrat, seperti polisakarida dan asam salisilat.

Saat ini kejadian luka bakar di Indonesia masih tergolong tinggi sehingga memerlukan penanganan yang serius dalam proses penyembuhan luka bakar, proses penyembuhan yang normal dapat terhambat pada setiap langkah oleh berbagai faktor yang dapat berkontribusi pada gangguan penyembuhan.

Gangguan penyembuhan luka bakar ini mungkin merupakan akibat dari keadaan suatu penyakit yang terkait dengan diabetes, gangguan kekebalan tubuh, iskemia, stasis vena dan luka-luka seperti luka bakar, luka yang disebabkan karena terlalu dingin dan luka tembak.

Jika dilihat dari Formularium Obat Herbal Indonesia, gel lidah buaya hanya bisa digunakan pada luka bakar yang baru dan ringan, belum melepuh. Untuk pemakaian digunakan 1 daun dalam 1 kali sehari dan cara membuatnya yaitu terlebih dahulu bahan dikupas, dagingnya dihaluskan dan oleskan pada bagian yang sakit atau yang terkena luka bakar.

Pemberian lidah buaya untuk sekali atau dua kali sehari lebih efektif daripada perawatan pembalut kasa dengan petroleum jelly, salep silver sulfadiazin 1%, dan krim framycetin. Pemberian lidah buaya telah mengakibatkan berkurangnya waktu pemulihan, tidak adanya infeksi luka, dan kurangnya kemerahan dan gatal-gatal.

Baca Juga: Penggunaan Air Rebusan Lidah Buaya (Aloe vera) sebagai Pengobatan Penyakit Diabetes Melitus

Lidah buaya telah lama digunakan untuk mengobati luka bakar dan umumnya dikenal sebagai pohon bakar dan tanaman yang digunakan sebagai pertolongan pertama (Hekmatpou, Mehrabi, Rahzani, & Aminiyan, 2019).

Aplikasi lidah buaya di industri farmasi juga sangat signifikan. Lidah buaya digunakan dalam pembuatan produk medis, seperti perawatan luka bakar, salep, krim, dan losion dalam aplikasi topikal untuk melawan berbagai kelainan kulit.

Penulis: Kerlin Prety Novjelita Dachi
Mahasiswa S1 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Padang

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses