Mahasiswa di Tepi Jalan

Sumber gambar: https://danielmiessler.com/blog/free-wills-endgame-is-absurdism/

Barangkali saya mulai lupa dengan entitas-entitas yang menghidupkan hiruk-pikuk kemahasiswaan. Sebab saya sedang turun ke jalan, wedeh sangar bukan? Dengan visi mencoba mengamati dan menunggu Gojek datang. Tak ada lagi ya istilah turun ke jalan sekarang dengan makna sesungguhnya, barangkali. Melempem bukan untuk menggambarkan suatu kondisi yang hangat-hngat tahi ayam untuk kemahasiswaan saat kini. Sebab metode-metode diterapkan telah lama terkikis oleh pemikiran-pemikiran penuh intriks dan menggagas sebuah ironi di dalamnya.

Persoalan Baru
Yang masih menganut Kitab mahasiswa zaman Orbais akan punah dengan pergerakan mahasiswa di sosial media, ikut kontes tik-tok atau upload music.ly dengan lenjeh. Ugh. Tak ada kotradiksi interminis di dalamnya, Cuma rempah-rempah basi. semacam cerminan bahwa mahasiswa mungkin harus mulai merubah arusnya, barangkali cita-cita terwujudnya suatu negara adalah memperbanyak subscribers dan merawat watcher atau likes dari para pengguna media sosial. Atau terwujudnya suatu visi dalam organisasi adalah me-maha-kan event-event supaya diduetkan dengan event organizer dan menggeser arti BEM dengan Badan Event Mahasiswa. Dududu.

Tiba-tiba ada yang berkoar tentang keadilan pada siang hari ini, dengan topik dan dalih-dalih omong kosong. Seolah-olah memabahas masalah negeri penuh objektifitas padahal dari segi subjeknya diapun hanya pura-pura sok intelek dan besembunyi pada peringai lembaganya. Sewaktu ia pulang ke rumah, lalu bertemu dengan saya, ia izin membeli kuota dan main Mobile Legends habis-habisan lalu saya tanya apa isi koar-koarmu barusan dan apa isu yang kau kembangkan? Dengan sepele dia menjawab,
Aku ambil dari internet jon, tiinggal copast, gampang kan?
Kau tahu inti isu yang kau bangun?
Enggak jon. Lantangnya suaraku karena dikasih uang oleh lembaga. Dududu.

Lalu saya termenung dan melihat rubrik pada sebuah pers mahasiswa yang sedang mebahas bahwa haluan dan tingkatan hierarki mahasiswa kini sudah luntur. Sumpah mahasiswa mulai nihil dibabat oleh kemajuan teknologi, dan mulai mengkiblat ke arah Eropa dengan melihat mahasiswa di sana tak ada aksi macam kita, dan tak sekritis kita. Akademisi adalah harga mati bagi mereka. Ugh, saya hirup lagi kopi yang baru saya buat, dan memandang ini sebagai suatu kewajaran, sebab ada suatu negara kan punya pahamnya masing-masing, -ismenya kan berbeda, abang tingkat. Atau mungkin begini, perlu dibahasnya ini dengan mendengarkan tembang bunga di tepi jalan sambil menikmati bakwan atau lemper di warteg.

 Absurdisme Method
Kemalangan mahasiswa kini adalah kurangnya kesadaran, disiplin keilmuan tentang sejarah, sebab semua serba praktis dengan bermodalkan kuota sepuluh ribu, kita sudah bisa berhura-hura menjadi guru tanpa ijazah. Kurangnya membaca suatu buku, rubrik, dan penelitian-penelitian menyebabkan kelunturan itu. Sehingga perlu adanya penyuburan tentang bagaimana peran mahasiswa di masyarakat sekarang. Kalau di TV ada yang bilang sebagai titik anchor di antara masyarakat dan pemerintah, saya sudah mulai tak setuju, kelunturan peran dan ruh adalah faktor utamanya. Barangkali dengan mewakilkan pesan-pesan kritisnya di sosial media, tapi bukan dengan backsound tik tok dan dua jari tai kucing. Barangkali dengan berkoar dan melakukan monolog di depan kamera lalu di upload ke Youtube lalu meringkas judul “Matinya Kesadaran Mahasiswa”. Dan masih banyak barangkali lainnya yang kalau diringkas cukup mengefisiensikan peran mahasiswa yang katanya mulai luntur tapi saya suka tak peduli dengan itu sih.

Redaksi terakhir bukan saya, itu teman saya menyela. Tugasku ya kan Cuma menugas, ngudud, main game, dan nontonin tiktok. Dan saya mulai riskan bahas lebih dalam tentang ini jika lawan bicarannya berbeda paham. Jadi mulai saya ubah topik dengan yang renyah, renyah memesan kopi, menyalakan rokok dan mabar bareng dia. hehehe

Persoalan seputar kemunculan kemahasiswan yang begini tentu saja sudah banyak diperdebatkan di kalangan akademisi lintas-dispiliner. Namun demikian perdebatan ini nampaknya hanya terisolir di kalangan itu saja; saat kita menenang dan masuk ke ruang-ruang virtual komununikasi rakyat keseharian, yang kita temukan hanyalah ruang isolasi nalar yang tersabotase, saya tidak tahu apa solusinya, bahkan saya benar-benar tidak tahu mengapa bisa meluntur sejauh ini. Namun satu hal yang saya tahu pasti, titik ini adalah sebuah tragedi dimana eksternalitas mahasiswa penuh omong kosong yang sedikit bermutu. Sama seperti saya ini.

Mohammad Aburizal K
Mahasiswa Universitas Jayabaya

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI