Mahasiswa HI UB Gelar Sosialisasi Gizi di SDI Mohammad Hatta, Kenalkan Pola Makan Sehat lewat Flash Card

Mahasiswa HI UB
Mahasiswa HI UB Gelar Sosialisasi Gizi di SDI Mohammad Hatta, Kenalkan Pola Makan Sehat lewat Flash Card. Sumber: Penulis.

Sebanyak tujuh mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya berhasil menyelenggarakan kegiatan sosialisasi kesehatan di SDI Mohammad Hatta, Malang, pada Selasa (13/05/2026).

Kegiatan ini dirancang dan dilaksanakan oleh Kelompok 1 yang beranggotakan Josephira Carla Karenina, Muhammad Aqbil Rizky Zakky, Farisa Azzahra Abidin Putri, Hanifah Mardhatillah, Kahfita Kustiyaszepty Kirana, Talitha Salsabila Putri Gusna, Atalik Jusuf Chadnezar sebagai bagian dari proyek akhir mata kuliah Kesehatan Global yang tengah mereka tempuh di semester 6, sebuah mata kuliah yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami isu kesehatan secara teoritis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara langsung kepada masyarakat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bagi ketujuh mahasiswa ini, kegiatan tersebut menjadi kesempatan berharga untuk membuktikan bahwa pembelajaran di bangku kuliah tidak harus berhenti di dalam kelas.

Gagasan untuk menggelar sosialisasi di sekolah dasar muncul dari kesadaran para mahasiswa bahwa persoalan kesehatan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pola makan dan gizi, tidak semata-mata bersifat medis.

Persoalan ini sesungguhnya berakar pada rendahnya tingkat literasi gizi di kalangan masyarakat luas, termasuk di kalangan anak-anak yang berada pada fase paling menentukan dalam pembentukan kebiasaan hidup.

Dalam kerangka studi hubungan internasional, isu semacam ini masuk dalam agenda kesehatan global yang semakin diperhatikan oleh berbagai organisasi internasional, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang secara aktif mendorong negara-negara berkembang untuk memperkuat edukasi gizi sejak usia dini.

Pemilihan SDI Mohammad Hatta sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa pertimbangan yang matang. Anak-anak usia sekolah dasar dinilai sebagai sasaran yang cukup krusial dalam upaya pencegahan penyakit berbasis pola makan, mengingat kebiasaan konsumsi yang terbentuk pada usia dini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang saat dewasa.

Para mahasiswa menyadari bahwa intervensi sedini mungkin merupakan salah satu pendekatan paling efektif dalam menanggulangi masalah gizi dan penyakit tidak menular yang kian marak di Indonesia, terutama di kota-kota yang pertumbuhannya pesat seperti Malang, di mana akses terhadap makanan cepat saji dan produk olahan semakin mudah dijangkau oleh anak-anak dari berbagai lapisan ekonomi.

Materi yang disampaikan dalam kegiatan ini berfokus pada pengenalan jenis makanan sehat dan tidak sehat, sekaligus memberikan pemahaman mengenai dampak jangka panjang dari pilihan konsumsi sehari-hari. Para mahasiswa menjelaskan bahwa makanan yang dikonsumsi setiap hari dapat memengaruhi kesehatan.

Apabila seseorang sering mengonsumsi makanan yang kurang akan nutrisi, maka dapat memengaruhi fungsi sistem pencernaan, kadar gula darah, serta risiko terkena berbagai penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, gangguan ginjal, dan masalah metabolisme yang kerap mengintai generasi muda saat ini.

Baca Juga: Ubah Cara Pikir, Ubah Masa Depan: Aksi Psikoedukasi Mahasiswa S2 BK Unnes Bangkitkan Energi Positif Santri Al-Fathimiyah

Materi disampaikan secara bertahap, dimulai dari pengenalan kelompok makanan bergizi, berlanjut ke penjelasan mengenai kandungan zat yang perlu diwaspadai seperti natrium berlebih, gula tambahan, dan lemak jenuh, hingga akhirnya pada diskusi interaktif mengenai cara membangun kebiasaan makan yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Metode penyampaian yang dipilih adalah penggunaan flash card bergambar, sebuah pendekatan visual dalam menyampaikan informasi kepada peserta didik usia muda. Setiap kartu menampilkan gambar makanan tertentu beserta keterangan singkat mengenai kandungan gizinya.

Penggunaan media visual semacam ini dipilih karena kami memahami bahwa anak-anak pada umumnya lebih mudah menyerap informasi melalui gambar dan warna dibandingkan teks panjang yang cenderung membosankan.

Dengan demikian, pesan yang ingin disampaikan dapat mengendap lebih dalam di benak para siswa, bahkan setelah kegiatan selesai.

Salah satu contoh yang paling banyak menarik perhatian dan mendorong diskusi aktif di kelas adalah perbandingan antara gado-gado dan mie instan.

Gado-gado, yang kaya akan sayuran segar, protein nabati dari tahu dan tempe, serta lemak sehat dari bumbu kacang, dihadirkan sebagai representasi nyata dari pola makan bergizi seimbang yang mudah ditemukan dalam keseharian masyarakat Indonesia.

Makanan tradisional ini dipilih secara sengaja karena dekat dengan kehidupan siswa dan mencerminkan kekayaan kuliner lokal yang sesungguhnya memiliki nilai gizi tinggi apabila dikonsumsi dengan cara yang tepat.

Di sisi lain, mie instan diperkenalkan sebagai contoh makanan yang memang praktis, terjangkau, dan sangat digemari banyak kalangan anak-anak, namun bila dikonsumsi secara berlebihan dan tidak diimbangi dengan asupan gizi lain, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti hipertensi, penyakit ginjal, serta masalah pencernaan dalam jangka panjang.

Para mahasiswa menekankan bahwa tujuan mereka bukan untuk melarang anak-anak mengonsumsi mi instan, melainkan untuk membangun kesadaran bahwa setiap pilihan makanan memiliki konsekuensi bagi kesehatan dan keberagaman serta keseimbangan asupan adalah kunci utama dari pola makan yang baik.

Pendekatan komparatif semacam ini ternyata sangat efektif dalam mendorong keterlibatan aktif siswa. Selama sesi berlangsung, para siswa terlihat antusias bertanya, memberikan komentar, bahkan secara sukarela menyebutkan makanan favorit mereka untuk kemudian didiskusikan bersama apakah termasuk dalam kategori sehat atau tidak.

Beberapa siswa tampak terkejut ketika mengetahui bahwa makanan yang selama ini mereka anggap biasa ternyata mengandung kadar garam atau gula yang jauh melampaui kebutuhan harian anak seusia mereka. Reaksi spontan seperti inilah yang menjadi indikator keberhasilan sesi edukasi ini dalam membangun kesadaran gizi.

Baca Juga: Mahasiswa UBSI Kembangkan Aplikasi SISIK untuk Tingkatkan Tata Kelola Surat Izin Keluar Perusahaan di PT Sanghiang Perkasa

Dari perspektif akademis, kegiatan ini mencerminkan semangat inti dari mata kuliah Kesehatan Global bahwa isu-isu kesehatan yang dibahas di tingkat internasional dapat diterjemahkan menjadi aksi konkret di tingkat lokal.

Para mahasiswa prodi HI UB tidak hanya mempelajari dinamika kebijakan kesehatan dunia di dalam kelas, tetapi juga mengambil peran aktif dalam menyebarluaskan kesadaran gizi kepada komunitas di sekitar mereka.


Penulis:
1. Farisa Azzahra Abidin Putri
2. Muhammad Aqbil Rizky Zakky
3. Josephira Carla Karenina
4. Hanifah Mardhatillah
5. Kahfita Kustiyaszepty Kirana
6. Talitha Salsabila Putri Gusna
7. Atalik Jusuf Chadnezar

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB)


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses