Lamongan, MMI – Semangat transformasi diri digaungkan dalam kegiatan psikoedukasi yang digelar oleh mahasiswa S2 Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dia Aubah Danila, pada Sabtu (11/04/2026).
Bertempat di Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah, Kabupaten Lamongan, kegiatan ini menyasar delapan anggota OSFA (Organisasi Siswa Madrasah Aliyah Al-Fathimiyah) sebagai peserta utama. Mengusung tema “Mari Berpikir secara Positif”, psikoedukasi ini dirancang untuk membangun kesadaran peserta tentang pentingnya mengelola pola pikir dalam menghadapi dinamika kehidupan, baik sebagai pelajar maupun santri yang aktif berorganisasi.
Kegiatan diawali dengan pemutaran video inspiratif yang berhasil mencuri perhatian peserta sejak awal. Suasana ruangan terasa hidup; peserta tampak fokus, terlibat, dan mulai terhubung secara emosional dengan pesan yang disampaikan. Momentum ini kemudian dimanfaatkan oleh pemimpin kelompok untuk mengantarkan materi inti secara sistematis dan komunikatif.
“Melalui kegiatan ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk lebih sadar bahwa cara kita berpikir sangat memengaruhi perasaan dan tindakan kita sehari-hari,” ujar Dia sebagai pemimpin kelompok, saat membuka sesi materi.
Dalam pemaparannya, Dia mengangkat pendekatan Cognitive Behavior Therapy (CBT) yang dikembangkan oleh Aaron T. Beck, dengan penekanan pada teknik restrukturisasi kognitif. Melalui pendekatan ini, peserta diajak mengenali pola pikir negatif yang kerap muncul secara otomatis, sekaligus belajar bagaimana menantangnya dengan cara yang lebih rasional dan adaptif.
Baca juga: Pentingnya Mengontrol Pikiran Negatif untuk Kesehatan Mental Pasien
Tidak hanya bersifat teoritis, kegiatan dikemas secara interaktif. Peserta aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, dan merespons berbagai pertanyaan. Antusiasme terlihat jelas dari partisipasi konsisten mereka sepanjang acara. Suasana yang hangat dan terbuka turut memperkuat dinamika kelompok, sehingga pesan materi lebih mudah diterima.
Sebagai penutup, peserta diberikan tugas refleksi sebagai inti dari proses internalisasi. Mereka diminta mengidentifikasi pikiran negatif yang selama ini mengganggu, lalu mengubahnya menjadi pikiran yang lebih positif dan rasional. Sesi ini ditutup dengan permainan tebak kata yang tidak hanya mencairkan suasana, tetapi juga memperkuat kebersamaan antarpeserta.

Menariknya, di akhir sesi, seluruh peserta secara sadar menyatakan komitmen untuk mulai menerapkan pola pikir positif dalam kehidupan sehari-hari. Komitmen ini menjadi indikator bahwa psikoedukasi tersebut tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga menyentuh aspek kesadaran untuk berubah.
Melalui inisiatif ini, psikoedukasi menjadi titik awal transformasi cara berpikir bagi para peserta. Sebuah langkah kecil yang berpotensi membawa dampak besar dalam membentuk generasi muda yang lebih resilien, adaptif, dan berdaya dalam menghadapi tantangan zaman.
Penulis: Dia Aubah Danila
Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Semarang
Dosen Pengampu:
1. Prof. Dr. Awalya, M.Pd.
2. Kons., Dr. Drs. Heru Mugiarso M.Pd.Kons.
3. Dr. Muslikah, S.Pd, M.Pd.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












